Home / Tengok-Tengok / Cinta Kota di Sepotong Kaos
Cinta Kota di Sepotong Kaos

Cinta Kota di Sepotong Kaos


Medan tidak seperti yang ada di kepala otak kau! Aku dari Medan! Trus kau mau apa!

Pijar, Medan. Kasar, menantang, dan keras. Begitulah kesan pertama saat membaca kalimat yang terpampang rapi pada kaos-kaos yang digandrungi anak muda Medan dewasa ini. Ya, itulah produk Tauko Medan, di sebuah rumah sederhana yang berada di belakang Pasar Pringgan yang menjual berbagai produk T-Shirt dan perlengkapan aksesoris yang berbau Medan.

Berdirinya usaha kreatif ini dimulai dari keprihatinan pemuda Medan, Fathraria Damanik (30) atas perselingkuhan jiwa anak muda Medan dengan merek-merek luar negeri, terlebih kaos. Dengan menggandeng tiga temannya, M. Anggia Muchtar (30), Rinaldy Rizal (31), dan Ramadoni Dwipayana (32), pria yang hangat disapa Fathra ini berkomitmen dengan mendirikan gerai distribution store (distro) clothing Tauko Medan di bulan Februari enam tahun silam. Keputusan itu sekaligus tanda berakhirnya kegalauan mereka atas sifat anak muda yang tergila-gila akan merek dari luar negeri.

Tauko Medan berasal dari kata “Tahu kau Medan?” Pertanyaan padat yang isinya tentang keberanian anak muda Medan ketika berhadapan langsung dengan orang yang berasal dari daerah lain. “Pertanyaan itu juga bisa ditujukan untuk mengetahui kadar pengetahuan masyarakat luar tentang Medan. Memang kata-kata yang digunakan sedikit kasar, tapi itu setidaknya menandakan Medan yang di luar memang terkenal garang. Karena hal demikianlah, disematkan nama ‘Tauko Medan’ pada produk kami”, ungkap Dona, wanita yang menjabat sebagai sales person di Tauko Medan.

Sejak mengawali konsistensinya, Tauko Medan mencoba menjadi cinderamata atau buah tangan khas dan asli dari ibukota provinsi Sumatera Utara ini. “Kita sih bisa dibilang pionirnya kaus-kaus pembawa nama Medan. Kita pengen kalo orang luar kenal Medan itu nggak hanya dari makanan khasnya aja, tapi dari kaus ini juga. Dan sekarang kayaknya yang lain udah pada mulai ikutan tuh,” ujar wanita berkulit putih ini.

“Tauko Medan mengawali usaha di gerai di kawasan Merdeka Walk, Lapangan Merdeka. Seiring waktu, kemudian  pindah ke tempat ini,” terangnya saat ditemui di Jalan Sei Batang Serangan No.39/54 Medan belum lama ini.

Bicara mengenai ciri khas, Tauko Medan terlihat jelas terdepan menyajikan desain yang mengagungkan kota Medan. Tauko Medan menyajikan kalimat-kalimat yang unik dan pastinya berbau Medan. Desainer Taoko Medan, Fathraria Damanik juga banyak memasukkan simbol khas Medan seperti menara air Tirtanadi dan karikatur wajah pahlawan nasional dari Sumatera Utara, Sisingamangaraja XII. Pokoknya unik, menarik, dan berciri khas.

Tahap pembuatannya ada empat. Dimulai dengan penentuan sketsa gambar yang ingin dibuat. Sketsa dibuat mengikuti simbol-simbol yang menggambarkan identitas Medan. Biasanya, sketsa dibuat dengan pensil dan kertas putih polos. Kemudian kertas dipotong mengikuti pola. Diikuti dengan pengaturan tata penempatan pola atau gambar, dan difoto. Kemudian didesain untuk menambahkan teks di dalamnya. Tinggal cetak dan jadilah sebuah kaus orisinal. “Kalau desain sih, desainernya lebih tahu rinci dan detailnya. Yang pasti harus mengangkat nama Medan lah. Kita kan Taoko Medan,” tambah Dona lagi.

“Keunikannya, ya karena Tauko Medan memiliki desain yang asli dan menarik. Untuk harga t-shirt Rp 75.000/helai dan jaket Rp160.000. Sedangkan aksesoris Rp 25.000 hingga Rp 85.000,” ujar Dona sambil memamerkan desain baju-baju mereka.

Keunikan lain Tauko Medan adalah desain kaos dan aksesoris mereka yang tidak diproduksi secara massal. Kaos hanya dibuat terbatas, sekitar puluhan model. Pemasarannya yang juga unik membuat produknya terkesan antik. Omzet per harinya pun lumayan besar, sekitar tiga sampai empat juta rupiah. Luar biasa untuk bisnis yang baru berjalan enam tahun.

Memang, masih ada kekurangan dari beberapa sisi, tapi sudah selayaknya kita remaja-remaja kota Medan berbangga dengan karya Tauko Medan. Bisnis yang pastinya menjanjikan prospek yang jelas. Bukan hanya bisnis, Tauko Medan diharapkan menjadi trendsetter fashion Kota Medan maupun Indonesia. [ed, ded]

About Media Pijar

Media Pijar: Pers Mahasiswa - Pelita Insan Terpelajar - Laboratorium Departemen Ilmu Komunikasi, Universitas Sumatera Utara, Medan.

Silahkan Lihat Artikel ini juga !

2

Jejak Berkah dari Produksi Rumahan

Siapa sangka keahlian yang didapatnya selepas bekerja disebuah pabrik sepatu membawa berkah berkelanjutan bagi pria berusia 30 tahun ini . Bermodalkan tekat yang kuat pada tahun 2005 Anton membuka kios kecil-kecilan dibilangan HM. Joni, Medan, Sumatera Utara.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *