Home / Jalan-Jalan / Berburu Ketoprak di Jalan S. Parman

Berburu Ketoprak di Jalan S. Parman

Grace Kolin

Pijar, Medan. Sudah pernah coba ketoprak? Buat kamu yang tinggal di Kota Medan, makanan yang mirip gado-gado ini wajib kamu coba. Ketoprak kok ada di Medan? Bukankah aslinya, ketoprak ini ada di Jakarta? Menurut Ita, istri pemilik warung ketoprak sederhana yang buka di sudut persimpangan Jl. S. Parman ini, bermula dari kecintaan sang suami terhadap ketoprak. Selain itu alasan lainnya yaitu untuk menambah pendapatan dan biaya sekolah anak ketika mereka berdua tinggal di Medan.

Namun jangan salah, dibalik tampilan warung yang begitu sederhana, warung ini ternyata sudah berusia lebih dari sepuluh tahun. Hingga saat ini, meskipun sudah membuka satu cabang di Jl. KH. Wahid Hasyim, warung ini tidak pernah sepi pembeli. Tiga meja warung yang tersedia selalu terisi penuh dengan cepat, beberapa pengendara ojek online sesekali terlihat ikut mengantri untuk memesan ketoprak. Uniknya, banyak pengendara mobil yang rela berhenti di bahu jalan hanya demi menikmati ketoprak langsung di tempat.

Ita bercerita, pada awalnya tidak seramai ini. Pada waktu pertama kali warung ini buka, banyak orang Medan yang belum familiar dengan makanan ini, bahkan ada yang tertawa mendengar nama makanannya. Namun, Bu Ita dan keluarga tidak menyerah. Mereka tetap berusaha untuk tetap berjualan meskipun pada saat itu hanya beberapa bungkus yang laku, bahkan pernah dalam sehari tidak ada laku sama sekali. Seiring dengan perkembangan waktu, kegigihan mereka membuahkan hasil. Kelezatan ketoprak inipun semakin terkenal dan menjadi buah bibir.

Bu Ani (adik pemilik Ketoprak S. Parman) sedang membungkus satu porsi ketoprak untuk diantarkan ke pelanggan yang sedang menunggu di dalam mobilnya, sementara Alfi (anak pemilik Ketoprak S. Parman) sedang menggiling bumbu kacang untuk dihidangkan dalam ketoprak. (Fotografer : Grace Kolin)
Bu Ani (adik pemilik Ketoprak S. Parman) sedang membungkus satu porsi ketoprak untuk diantarkan ke pelanggan yang sedang menunggu di dalam mobilnya, sementara Alfi (anak pemilik Ketoprak S. Parman) sedang menggiling bumbu kacang untuk dihidangkan dalam ketoprak.
(Fotografer : Grace Kolin)

“Ya capeknya kayak mana lha ya? Namanya kita mau berusaha. Kita gak boleh putus asa. Apapun yang istilahnya laku gak laku, kita harus sabar menanti orang. Namanya awalnya ya, orang belum tahu kita. Kita menunggu, ada yang beli ada yang gak. Pernah satu malam pun gak ada yang beli. Alhamdulillah sekarang orang yang nunggu kita, bukan kita yang nunggu orang, gitu,” ujar Ita bersemangat sambil menggendong cucunya.

Tersedia berbagai level pedas untuk menu ketopraknya. Mulai dari rasa sedang hingga pedas. Tergantung selera dan berapa banyak komposisi cabe merah dan cabe rawit yang dimasukkan. Apabila diamati secara sepintas, ketoprak ini memiliki sedikit perbedaan jika dibandingkan dengan ketoprak asli Jakarta. Jika ketoprak asli Jakarta menggunakan potongan ketupat, maka Ketoprak S. Parman menggunakan potongan lontong. Apalagi warung ini menambahkan sebutir telur rebus, bahan yang tidak ada dalam ketoprak asli Jakarta.

Selain dari segi bahan makanan yang tidak biasa, ada keunikan lain dari warung Ketoprak S. Parman ini. Bumbu kacang untuk setiap porsi ketopraknya diulek terpisah, hanya ketika ada pesanan baru dibuat bumbunya. Hal ini dilakukan untuk menjaga cita rasa bumbu kacang yang gurih dan inilah yang menjadi andalan warung Ketoprak S. Parman.

Soal harga, satu piring ketoprak S. Parman ini dipatok dengan harga yang lumayan murah Rp 14.000,00 per porsi, baik dengan varian level kepedasan sedang maupun pedas. Cukup murah untuk sekadar melipir dan mengenyangkan perut.

“Bumbunya lebih terasa mungkin ya. Soal harga, terjangkau lha untuk anak kuliahan.” Ujar Deby, salah satu pelanggan Ketoprak S.Parman yang sudah menikmati ketoprak warung ini sejak ia masih SMA. Deby menyarankan agar tempat makannya lebih diperbesar lagi untuk menambah jumlah pelanggan yang datang untuk makan.

Warung ini buka setiap hari mulai pukul 19.00-23.30 WIB, kecuali hari minggu. Semakin cepat habis, semakin awal warungnya tutup. So, tunggu apalagi? Bagi kamu penikmat kuliner Medan, ayo segera meluncur kesini!

About Media Pijar

Media Pijar: Pers Mahasiswa - Pelita Insan Terpelajar - Pusat Pengkajian Komunikasi Massa (P2KM), Departemen Ilmu Komunikasi, Universitas Sumatera Utara, Medan.

Silahkan Lihat Artikel ini juga !

image

Mengulik Bali: Destinasi Rekreasi Alternatif dan Permasalahannya

Namun, di balik gemerlapnya kota ini menyisakan satu persoalan klasik, yaitu kurangnya kesadaran warga dalam menjaga kebersihan lingkungan sekitar.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *