Jumat, 28 Juli 2017
Home / Galeri / HUJAN MALAM ITU

HUJAN MALAM ITU

Ainun Putri Lubis

Pijar, Medan. Mengapa banyak orang membenci hujan? Itu pertanyaan yang tak pernah dapat kujawab. Ya… maksudku, bukankah hujan itu merupakan tangisan sang langit? Sebuah rasa yang tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata, yang berubah menjadi air mata. Aku tak mengerti, apakah manusia saat ini memang benar-benar hanya memikirkan dirinya sendiri? Aku jadi merasa, bahwa yah… itulah hidup. Tak ada yang benar-benar tulus menghiburmu saat kau menangis, saat kau terluka, saat kau terjatuh, saat kau meminta bantuan. Itulah hidup.

             Hei, langit.

             Aku mengerti kesedihanmu, sungguh.

             Karena aku juga seseorang yang ditinggalkan.

             Hei, langit.

Ingatkah? Hari itu, kau memberikan sebuah kebahagiaan untukku, kau memberikan alasan untuk memberikan payung ditengah derasnya air mata. Sungguh, aku sungguh berterima kasih. Ya, sangat berterima kasih.

              Kalau saja dia masih disini

Hei, langit, kau berhenti menangis? Secepat ini? Tidak, mataku masih melihat jelas tangisanmu turun dengan deras, membasahi bumi. Tapi, kenapa aku tak merasakannya lagi? Kau mau menghiburku? Sungguh? Kalau begitu aku sangat berterima kasih.

Hei, langit.

Saat ini, aku melihat seorang laki-laki berdiri di hadapanku, tapi badannya basah kuyup. Ah, ia memberikan payungnya untukku.

“Menangis di tengah hujan takkan menghilangkan kesedihanmu”. Aku tertegun. Kau benar-benar membuatku bingung. Sungguh.

“Dri..an..”ucapku sebelum segalanya terasa berputar. Dan warna terakhir yang kulihat adalah warna itu. Hijau, warna kesukaanku. Warna milik Adrian. Adrian milikku…

Hanya mimpi indah. Ah, aku tak ingin terbangun lagi. “Hei sudah bangun?”

Aku menoleh kepada suara uang sepertinya ditujukan untukku. Dan aku melihat seorang lelaki tinggi dengan segelas air putih di tangan kanannya. Ia tersenyum padaku. Siapa laki-laki ini? Aku tak mengerti. “Kemarin saya lihat kamu pingsan di tengah hujan, dan saya enggak sejahat itu untuk membiarkanmu begitu saja disana”. Tampaknya lelaki ini mengerti apa yang menjadi dilemaku. Ia masih tersenyum.

” Saya Arya. Kamu?”

“Aku, aku Mika. Mikayla.” Jawabku dengan suara serak. Aku baru bangun dari tidurku yang entah berapa lama dan tenggorokkanku terasa kering sekali. Kemudian lelaki itu, Arya menyodorkan segelas air putih itu di kepalaku, tampaknya ia bisa membaca pikiranku. Setelah menghabiskan hampir tiga perempat isi gelas, aku menoleh padanya yang masih saja menatapku sambil tersenyum, aku membuka suara.

            “Jadi, ini dimana ?” Tanyaku.

         “Ah, ini Apartemen saya.” Aku tersenyum kecil melihat ekspresinya yang terlihat, yah, ia terlihat tampan. Tampan dan menyenangkan.

          “Udah kerja?” Tanyaku lagi. Ia menggeleng. “Lagi bikin skripsi. Dan kamu SMA?”..

          “Oh, ternyata kamu enggak setua itu.” Ucapku lagi, membuatnya mengernyitkan dahi. Aku tersenyum simpul. “Ya, enggak cukup tua untuk berbicara sekaku itu.” Ia tertawa mendengar ucapanku.

          “Masa? Saya yang terlaku kaki atau kamu yang terlalu bersahabat?”

          “Tuh kan! Coba ganti ‘saya’ dengan ‘aku’, itu lebih cocok untuk usiamu.”

          “Kamu itu aneh, ya,” gumamnya.

          “Da  alasan untuk tudihan itu adalah…?”

          Ia tertawa.” Karena anak SMA iru enggak bicara dengan ‘aku-kamu’ , tapi ‘lu-gue’,”

          Aku mencibir. “Aku bukan anak gaul dan tak pernah mencoba jadi gaul. Itu aja alibinya.”

          Ia tertawa lagi. “Dan kamu teman bicara yang menyenangkan,”. Aku ikut tertawa.

          “Dan kamu orang pertama yang berbicara seperti itu.”

           Aneh. Belum sempat 10 menit aku mengenalnya, tapi aku merasa seperti bertemu dengan seorang sahabat yang sudah lama tak bertemu. Aku merasa nyaman, dan yah, ia juga teman bicara yang menyenangkan. Dia membuatku seperti berada di sebuahb pantai tanpa penghuni, teduh, tenang. Dan mataku menatap sebuah jam dinding di pojok ruangan. Pukul 1 lewat 15 menit.

           “Kayaknya aku harus pulang,” ucapku sambil bangkit dari kasur, mengambil tasku yang terletak di sifa merah marun yang terlihat nyaman. “Jadi terima kasih,” ucapku lagi. Ia tersenyum. Tampaknya ia suka tersenyum. “Butuh tumpangan,” tanyanya.

           “Maaf, tapi mukaku engga setebal yang kau bayangkan,” tolakku halus (atau tidak?). Ia tertawa kecil, mungkin mentertawakan betapa sarkastiknya aku. Ya, mungkin. “Jadi, aku pulang dulu.”

 Dan aku masih ingat kata terakhirnya sebelum aku benar-benar melangkahkan kakiku dari apartemannya. Kata-kata yang tak mungkin dilupakan..

           “Sebenarnya, aku juga suka hujan. Tapi, menangis di tengah hujan kurasa bukan hal yang baik untuk dilakukam. Yah, itu pendapatku saja. Dan, Mika, senang bertemu denganmu hari ini,”. Saat mendengarnya, dungguh, aku kembalj jngjn menangis rasanya. Ia tahu segalanya, ia tahu, tapi tak sedikit pun ia mempertanyakannya. Dan aku sangat berterima kasih untuk itu, sungguh. Orang itu, Arya, aku menyukainya. Meski aku membencu hampir semua orang, Arya bukanlah orang yang dapat dibenci. Dan itulah pertemuan pertamaku dengan Arya.

          Dan pertemuan keduaku sama tak terduganya dengan yang pertama. Hari itu, seperti hari-hari biasanya, aku menghabiskan waktuistirahatku diperlustakaan. Satu hal yang paling tak kusukai dari wanita adalah rasa tertariknya untuk membuka mulut setiap detik. Dan apa yang keluar dari mulut itu hanyalah gosip, gosip, gosip. Aku tak mengerti, apa sebenarnya yang menyenangkan dari membicarakan hal yang belum akurat mengenai orang lain. Sungguh. Dan yah, getitulah. Aku tak memiliki teman, mungkin sudah dapat diprediksi sebelumnya. Maka itu, perpustakaan sekolah ini seperti tempat sepermainanku selama satu setengah tahun belakangan ini. Tapi kejutan itu muncul saat aku membuka pintu perpustakaan. Ia ada di sini. Duduk ditempat uanh selalu kududuki setiap hari.

           “..Mika? Kamu murit disini? Yaampun dunia ini sempit sekali, yah!” Serunya kencang membuatku dan kak Lara, oustakawati yang sungguh, tak setua yang kau bayangkan, tapi tak semuda itu juga sibuk menaruh jari telunjuk didepan bibir. Ia hanya meringis. Aku berhalan mendekatinya.

            “Kamu alumni di sini?” Tanyaku setelah aku duduk disebelahnya. Ia mengangguk dwngan wajah berbinar-binar. Aku tersebyum, ia tampak bahagia. “Dan kamu ngapain disini? Di perpustakaan?”

             “Loh, emangnya kenapa? Ini tempat favoriteku selama tiga tahun disini. Kamu sendiri ngapain?”

             “…Ini tempat favotiteku juga,” jawabku setelah terdiam beberapa saat.

             “Sumpah? Beneran? Jarang ada orang kaya kamu,” ucapnya, akuoun menganguk setuju.

             “Dan apa yang bikin kamu sebingung itu?” Aku tertawa kecil.

             “Enggak, cuma muka kamu itu enggak layak orang yang suka ke perpustakaam.” Ia mencibir.

             “Don’t judge a book by it’s cover, tuh.” Aku tertawa pelan.

             “Ehm, Arya…. buat yang waktu itu, makasih banget.”

             Ia menatapku lurus.” Pertama kalinya kamu manggil namaku.” Dan fakta bahwa ia selalu memiliki cara membuatku tersenyum membuatku bingung. Ia orang yang baru kutemui dua kali, dan itu membingungkan.

             “Aku pengin nanya, sejujurnya. Tapi kalau aku memang ditakdirkan untuj tahu, akan tiba saatnya kamu cerita sendiri, kan?” Aku tertegun. Lama sekali. Tapi ia hanya diam, menungguku.

             “Adrian suka warna hijau.” Aku berhenti sejenak. “Hari pertama aku mengenalnya, ia memberikanku payung berwarna hijau di tengah hujan. Sejak saat itu, hijau menjadi warna jesukaanku. Dan payung yang kamu berikan waktu itu, itu hijau.”

             “Adrian adalah masa depanku saat itu, tapi ia pergi. Selamanya. Dan yang bisa kulakukan hanyalah menangis, menangis. Tak ada perpisahan yang menyenangkan.” Aku menghapus air mata yang sudah berada di pelupuk mara. Aku tak ingin menangis, setidaknya tidak didepan orang lain. Tapi ia memegang tanganku, menggenggamnya dengan lembut. Aku tertegun.

            “Enggak perlu selamnya menjadi kuat. Kadang, kalau kita capek untuk berpura-pura baik-baik saja kita bisa menjadi lemah, dan membiarkan orang lain menjaga kita. Dan Mika, akubada kalau kamu butuh. Jadikan aku apa saja yang kamu inginkan, akh mau.”

          Aku terdiam. Tapi aku bahagia. Dan air mataku hialang begitu saja. Aku menatapnya lurus, tersenyum. Ia ikutvtersenyum.

          “Kamu tahu, sebenernya, orang itu cinta pertamaku,” ucapnya secara tiba-tiba sambil menujuk ke suatu tempat, yang emmbuatku membuka mata lebar-lebar setelah tahu apa yang dia maksud.

          “Kak Lara? Beneran?” . Ia mengangguk yakin.

          “Dulu aku pura-pura jadi anak kutu buku cuma vuat deket dia, tahu, enggak?” Aku tertawa mendengar nada suara Arya yang lucu. Ia benar-benar tahu bagaimana membuat orang bahagia.

          “Terus, kak Lara tahu?” Arya menggeleng cepat.

          “Sampai sekarang dia bahkan enggak tahu aku pernah suka sama dia,” ucap Arya sambil melirik kak Lara lama. “Dulu, aku bahkan sengaja seplipin nomor hapeku di slah stu buku. Berharap dengan bodonya suatu saat dia bakal buka dan telepom aku.” Ia tertawa sendiri, tapi aku tetdiam.

          Ini rasanya familiar. “Nomor telepon?”

          Arya mengangguk.

          “Maksudku, kamu yang ada di buku Peterpan itu?” Kali ini Arya menatapku kaget, seakan-akan aku seorang peramal yang berhasil meramal masa depannya 100% tepat.

          “Oke, enggak usah kaget begitu,” ucapku memotong ekspreai kagetnya yang berlebihan. “Aku sempet baca novel itu, dan nomor telepon itu masih ada disana. Kamu enggak perlu kecewa Kak Lara enggak lihat, aku masih simpan kertasnya, kok.”

          “Enggak! Enggak perlu,” tolaknya cepat, membuatku tertawa kecil. “Itu udah masa lalu, kok.”

          “Ih, kenapa enggak? Bukannya enggak ada kata ‘terlambat’ untuk cinta. Kalau sama Kak Lara, aku 100% mendukung!” seruku menyemangatinya.

            Ia menatapku sambil terdiam sejenak, membuatku merasa bersalah.

            “Tapi sekarang aku yakin banget, kalau kertas itu memang ditujukan untukmu.”

             Aku terdiam. Kemudian ia tertawa, manis sekali.

             “Nomor teleponku masih sama, kok.”

              Aku terdiam sejenak. Dan aku teringat sesuatu,  Arya dan akupun tertawa bersama.

About Media Pijar

Media Pijar: Pers Mahasiswa - Pelita Insan Terpelajar - Pusat Pengkajian Komunikasi Massa (P2KM), Departemen Ilmu Komunikasi, Universitas Sumatera Utara, Medan.

Check Also

Ilustrator : Rifa Alya

KENANGAN

Gabriella Prily Elvani Kemarin kau menghilang Kini kau kembali Memandangku dan tertawa Teganya kau kenangan …

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *