Jumat, 28 Juli 2017
Home / Hiburan / Film / Permintaan Pertemanan Berujung Kematian

Permintaan Pertemanan Berujung Kematian

Sumber gambar : Hidefninja.com

Putri Nadya Hutagalung

Pijar, Medan. Tidak sedikit orang merasa lebih nyaman mengungkapkan perasaan mereka saat tersembunyi di balik sebuah layar media, bukan dengan bertatap muka. Menggunakan latar belakang pertemanan dunia media sosial, sang sutradara Simon Verhoeven menggarap film dengan judul Friend Request  bergenre horrorthriller pada tahun 2016. Kesan yang disuguhkan mengarah pada konsep yang sangat akrab dengan dunia remaja dan kegandrungan terhadap media sosial, dengan set up dan formula yang mirip sejumlah film horor modern sebelumnya. Disambut dengan berita duka mengenai seorang mahasiswi yang tewas  bunuh diri dengan membakar diri di depan laptop, narasi film langsung melompat ke dua minggu sebelum seluruh kegelapan dimulai.

Adalah Laura (Alycia Debnam-Carey) seorang mahasiswi cantik, aktif dan  populer di kampusnya, mendapati permintaan pertemanan dari teman baru di kelasnya. Marina (Liesl Ahlers) si aneh dan misterius dengan dandanan gotik. Dengan perasaan iba Laura menerima permintaan pertemanan Marina pada akun Facebooknya. Berikutnya, Marina mengirim pesan secara terus-menerus sampai pesan-pesan meneror. Laura yang muak memutuskan pertemanan “dunia maya” mereka. Lantas bukannya berakhir, desakan teror malah makin menyerbu Laura. Laura yang tak tahan, memutuskan untuk mengakhiri hidupnya dan bergentayangan di media sosial demi menghancurkan hidup Marina. Berikut bunuh diri Marina dan teman-temannya bergulir atas serangan dari kekuatan setan yang diduga keluar untuk membalas dendam Laura.

Dialog antar karakter secara alami cukup menciptakan rasa persahabatan antara Laura dan kelompok persahabatannya, bagaimana remaja sejati barat berbicara menggunakan kata-kata umpatan dan sarkasme pada umumnya. Alycia sangat lekat dan membawakan kesan mendalam memerankan sosok Laura. Sebagai pendatang baru, Liesl Ahlers dalam peran Marina, juga menampilkan hal serupa. Pada menit pertama film, Ahlers mendapat jatah yang sedikit di layar, namun dia mampu untuk membangun karakter Marina.

Perpaduan konsep  sihir dengan teknologi modern yang cukup menarik, diiringi musik dan desain visual yang sangat mendukung kengerian tragedi. Sangat disayangkan, rangkaian pencarian jawaban kurang memuaskan padahal potensinya sangat besar. Sejumlah adegan kematian terjadi dengan hal-hal yang tidak masuk akal, dengan adegan ending yang bisa disebut antiklimaks. Meskipun Verhoeven sudah mengungkap semuanya, dari latar belakang Marina dengan masa lalu yang jauh dari kata bahagia sampai ritual cermin hitam.

Kendati begitu, pada kenyataannya, film ini mampu membuat penonton merasa nyaman mengikuti plot konyol lebih lama bahkan hingga akhir.

About Media Pijar

Media Pijar: Pers Mahasiswa - Pelita Insan Terpelajar - Pusat Pengkajian Komunikasi Massa (P2KM), Departemen Ilmu Komunikasi, Universitas Sumatera Utara, Medan.

Check Also

foto utama

Jingga, Senja dan Kisah Para Matahari

Dibandingkan kisah-kisah sebelumnya, konflik “Jingga untuk Matahari” dibuat lebih pelik, kompleks dan rumit. Masih dengan gaya penulisan yang khas, permasalahan dibuat lebih serius dan detail.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *