Home / Galeri / Sastra / Cintaku On The way : Nadia
www.mediapijar.com

Cintaku On The way : Nadia

Oleh : Hafiz Mahmud

Namaku Angga Restu sering dipanggil “Ngga.” Aku sangat suka musik karena musik dapat menceritakan apa yang sedang kurasakan. Bagiku musik adalah penambah semangat dan bahagiaku. Ketika aku patah hati, marah, bahagia, menyesal, musik bagaikan berbicara padaku mengingatkanku bahwa semua permasalahan di dunia ini dapat diselesaikan. Kenyataan dan harapan yang ku dengar dari musik sudah seperti sahabat yang selalu membuatku tenang dan selalu ada untukku.

Pagi itu, tok tok tok terdengar ketukan pintu. Ibu yang membangunkan ku “Nak bangun! Kamu gak sekolah rupanya?.” Lalu ku bangun dan segera bergegas berangkat sekolah. Tak lupa sebelum berangkat ku cium tangan ibuku sembari pamitan. Ku naiki sepeda motor ku dan berjalan seperti biasa, aroma embun pagi desa  yang sejuk selalu ku rasakan dari atas sepeda motor yang kunaiki. Tetapi berbeda ketika ku masuki daerah kota yang penuh dengan polusi dan udara yang pengap.

Sampai di sekolah ku parkirkan motor ku dan kupasangi gembok. Ku lihat suasana pagi sekolah yang belum ramai, seperti biasa akupun merasa pasti aku yang pertama datang. Krieeeet ! kubuka pintu ruang kelas. Brughhh aku terjatuh lalu langsung keluar karena terkejut. sssiapa itu! Sahutku. Duduk sosok perempuan berambut panjang sedang menunduk di meja sebelah yang selalu kutempati. Kudekati dia dan ku liat oh si Nadia ternyata. “Perasaanku seumur-umur sekolah di sini kayaknya baru hari  ini ku lihat dia datang secepat ini.” Ku taruh tasku lalu sembari mendengarkan musik, terhanyut dalam melodi musik dan menggeleng gelengkan kepala ku karena musik yang begitu ceria. Ku lihat si Nadia lagi,” Ini anak kok diam aja yah nunduk terus lagi”.Awalnya ku abaikan saja, setelah teman-teman kelas mulai berdatangan aku mulai curiga ni anak kok nunduk terus karena penasaran ku datangi dan ku tanyai, “Nad dari tadi ku lihat kamu nunduk terus ada apa nad?.” Dia terus menunduk dan diam saja. Karena sangat penasaran ku tarik kepalanya sedikit kulihat banyak air di atas meja yang ditundukinya,” Nad kamu kenapa?, dan tiba-tiba dia bangun dan memeluk tubuhku. Karena terkejut aku mengangkat tangan ku ke atas. Ku lihat teman-teman sekelas ku yang heran dan melihat ke arah ku semua. Lalu teman satu kelasku yang juga satu anggota  band musik denganku Vino menanyaiku, “Apa yang terjadi ngga?.”

“Gak tau nih Vin tiba-tiba aja Nadia seperti ini. “Lalu nadia berkata sambil memeluk ku, “Kumohon sebentar saja,” ujarnya. Setelah beberapa menit Nadia melepas pelukannya lalu perlahan-lahan tersenyum.” Maaf ya ngga begitu, “katanya. Tak selang lama guru masuk dan mengajar. Kulihat Nadia lagi dan dia sedang fokus mendengar dan mencatat pelajaran. Lalu kupikir ini anak kok banyak berubah.

Keeseokan harinya…

Aku datang ke sekolah seperti biasa dan ku lihat Nadia datang lebih cepat dariku.” Selamat pagi Ngga,” kata Nadia sambil tersenyum. “Ya selamat pagi juga,” kataku. Aku duduk dan mendengar musik seperti kebiasaanku. Lalu kudengar seperti suara nyanyian seorang perempuan. Kubuka earphone ku, ku berjalan mencari sumber suara nyayian itu. Kudapati Nadia ternyata yang sedang menyanyi di luar kelas.” Hey… Nadia suara kamu bagus banget, ikut ekstrakulikuler dengan ku yok ?,” begitu kataku sambil memuji dan mengajaknya masuk kedalam ekskul band sekolah. Nadia tersenyum dan seperti tersipu malu lalu berkata,” Tidak usahlah Ngga, Nadia cuma suka bernyanyi sendirian. Kalau di depan orang banyak Nadia malu bernyanyi apalagi ikut ekskul band sekolah enggaklah Ngga!. “Dia tersenyum dan menolak ajakanku. “Yaudah, kalau kamu tertarik masuk band sekolah jangan segan-segan datang aja ke ruang latihan kami yah!,”begitu kataku .

Keesokan harinya sepulang sekolah aku, Vino, dan teman-teman yang lainnya berlatih di ruangan musik sekolah. Tiba-tiba datang pak Karno Supomo, guru pembimbing musik kami dan memberi tahu bahwa sekolah kita akan mengikuti ajang lomba grup band antar sekolah se- Indonesia.

“Bapak sudah mendaftarkan kalian. Jadi kalian harus berlatih selama 3 bulan ini untuk memenangkan perlombaan itu. Bersungguh-sungguhlah dan bekerja keras agar kalian dapat memenangkan lomba tersebut dan membawa nama baik sekolah kita,” begitu nasihat pak Karno .

Hampir setiap hari kami berlatih dan bersenang-senang bersama. Aku dan Angga sebagai gitaris, Vino drummer, Kiki bassis, Harry pianis, dan Rina vokalis. Banyak perubahan permainan musik kami hampir sebulan ini, apalagi Rina yang kian lama vokalnya semakin bagus.

Malam itu, angin dan petir  hanyut begitu kencang dan keras lalu turun hujan yang begitu deras. Kulihat keluar jendala pepohonan yang diguncang ke segala arah oleh angin.

Keesokan harinya berita kabar bahwa Rina vokalis kami kritis akibat rumahnya dijatuhi pohon tumbang yang ambruk dan mengenai tubuh Rina. Aku terkejut dan sepulang sekolah langsung menjenguknya di rumah sakit. Tetapi kami tidak dibolehkan memasuki ruangan. Kami hanya sedikit memberi semangat pada orang tua Rina.

Sambil pulang dari rumah sakit Vino berkata padaku, “Ngga bagaimana perlombaan kita itu apa kita batalkan saja?,”

“Untuk sementara kita latihan saja dulu dan menunggu Rina kembali baikan,”begitu sahutku.

“Tapi Ngga bagaimana kita tahu kapan Rina baikan. Dia sedang kritis Ngga.” Iya kita doakan saja agar Rina kembali sehat dan bergabung bersama kita lagi.

Keesokan harinya pak Karno mengatakan pada kami bahwa perlombaan itu tidak bisa dibatalkan dan kami harus mencari penggati Rina. Lalu kupikirkan siapa yang pandai bernyanyi lagi selain Rina di sekolah ini .

Teringat aku mengenai Nadia yang waktu itu bernyanyi sangat baik. Lalu kutanyai dia lagi apa Nadia mau masuk mennggantikan Rina. Lalu Nadia berkata, “aku tidak bisa ngga kamu kan tau aku pernah bilang bahwa aku ga bisa bernyanyi didepan orang banyak.”

“Iya kumohon Nad ini demi band sekolah. Kami membawa nama baik sekolah kumohon nad,kataku.” Tapi Nadia terus menolak.

Lalu keesokan harinya kami berlatih musik tanpa vokalis. Kurang menyenangkan rasanya tidak memiliki suara di dalam alunan musik. Lalu kulihat Nadia sedang mengintip di balik pintu melihat kami sedang berlatih. Kupanggil dia tapi dia langsung lari. Setelah berlalu lama kami berlatih, pak Karno datang dan bertanya, “Bagaimana, sudah dapat vokalis yang baru?.” “Belum pak, sahutku.”

Lalu kuajak pak Karno bicara dan merekomendasikan Nadia sebagai vokalis pengganti Rina. Selang beberapa hari sebulan sebelum perlombaan, tiba-tiba pak Karno membawa Nadia ke ruangan latihan musik.” Ini anakku Nadia, bapak sudah mengatakan ke Nadia. Dia akan ikut berlatih bersama kalian,” kata pak Karno. Huh , kami terkejut ternyata Nadia anak pak Karno .

Sebulan kami berlatih akhirnya kami sudah siap untuk perlombaan. Dengan musik ditambah suara Nadia yang merdu, kami mengikuti lomba. Dan akhirnya memenangkan juara 3 lomba band antar sekolah se-Indonesia.

Sebulan setelah itu Rina kembali mulai baikan dan sehat. Kami pun berlatih bersama-sama. “Menyenangkan berlatih bersama kalian teman-temanku,  gumamku.”

Dari  aku hanya menganggap Nadia biasa saja hingga menjadi orang yang sangat spesial buatku. Dan akhirnya aku pun menyukai Nadia karena dia dan nyanyiannya. Dan aku menjalin hubungan bersama Nadia. Kami bahagia bernyanyi bersama hingga kami lulus sekolah .

About Media Pijar

Media Pijar: Pers Mahasiswa - Pelita Insan Terpelajar - Laboratorium Departemen Ilmu Komunikasi, Universitas Sumatera Utara, Medan.

Silahkan Lihat Artikel ini juga !

CRPN

Bintang Pun Tak Mampu

Dibawah puluhan bintang malam ini, aku mengingat begitu banyak memori indah bersama sahabatku Risa. Ia sahabat yang begitu amat pengertian dan sabar dalam menghadapi segala hal dan situasi. Bersamanya, aku sosok yang sangat mudah panik ini selalu merasa nyaman.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *