Home / Hiburan / Buku / Orang Rantai, Mengenal dan Mengenang Sejarah

Orang Rantai, Mengenal dan Mengenang Sejarah

Sumber gambar: Palanta Budaya

Viona Matullessya

Tidak ingin kehilangan aset berharga dari kotanya, Pemerintah Kota Sawahlunto menerbitkan buku tahun 2012 bergenre sejarah ‘Orang Rantai: Dari Penjara ke Penjara’ yang ditulis oleh DR. Erwiza Erman, dkk. Sawahlunto adalah sebuah kota kecil di Sumatera Barat. Kota yang dulunya merupakan salah satu gudang uang bagi Pemerintah Kolonial Belanda karena kekayaan batu bara yang melimpah ruah. Kota kecil yang telah diperkosa kekayaan alamnya, lalu ditinggal begitu saja.

Gaya bahasa yang sederhana, seperti bercerita, membuat pembaca ingin mengetahui isi dari halaman buku non fiksi ini lagi dan lagi. Mengulik sejarah yang tidak banyak diketahui oleh masyarakat Indonesia pada umumnya. Sejarah mengenai orang rantai, para budak yang diperdaya pemerintah kolonial untuk mengeksploitasi kekayaan alam Kota Sawahlunto.

Buku yang hanya terdiri dari tiga bab ini, menjadi panduan bagi para wisatawan yang berkunjung ke Sawahlunto, untuk mengetahui orang rantai lebih jauh. Kota yang dulu hampir menjadi kota mati ini, disulap oleh pemerintahnya menjadi sebuah kota wisata sejarah dengan berbagai peninggalan bekas kehidupan orang rantai di Sawahlunto.

Buku ini terdiri dari tiga bagian, bagian pertama dari buku ini bercerita tentang asal mula orang rantai. Dikisahkan bahwa orang rantai merupakan orang-orang kriminal yang dianggap sebagai ‘penjahat’ pada masa itu yang didominasi tahanan dari pulau Jawa. Mereka diberdayakan oleh Belanda untuk menambang batu bara yang terkandung di dalam kota Sawahlunto.

Suka tidak suka, para napi harus menuruti perintah petugas penjara. Persis seperti sapi untuk disembelih-makanan bergizi penduduk kelas menengah kota zaman Belanda-mereka dibawa ke gerbong kereta api untuk dibawa ke Pelabuhan Tanjung Periuk.

Bagian kedua buku ini, mengisahkan tentang kehidupan orang rantai ketika mulai bekerja di lobang tambang. Kehidupan keras yang mereka terima, tak jarang membuat perkelahian antar orang rantai pun tak terhindarkan. Siksaan demi siksaan mereka terima, bekerja seharian di dalam lubang, tanpa pengamanan. Jika terjadi kecelakaan kerja, mati tanpa nama harus menjadi akhir hayat orang rantai.

Pekerjaan di dalam lobang memang berat, berisiko tinggi, panas dan seharian tak akan pernah melihat dan menikmati sang surya, disertai pula dengan pengawasan mandor-mandor tambang yang zalim, tak berperikemanusiaan.

Sebagai penutup kisah, turut dibagikan bagaimana orang Belanda merampas kembali upah yang diterima oleh orang rantai lewat hiburan. Pemerintah Belanda menyediakan hiburan berupa pertunjukan gamelan, ronggeng, dan kuda kepang. Turut serta disediakan judi, agar uang yang diperoleh orang rantai dapat diambil kembali oleh pemerintah Belanda.

Banyak dari kita yang menutup mata akan adanya sejarah di sekitar kita. Buku Orang Rantai: Dari Penjara ke Penjara ini dapat menjadi penghubung kita dengan kehidupan masa lampau. Dengan begitu kita dapat lebih bersyukur hidup di tanah sendiri tanpa tekanan dari bangsa lain. Kita dapat pula mengetahui sejarah perjuangan orang-orang biasa yang namanya belum ada dan mungkin tak pernah ada di buku sejarah semasa sekolah kita.

(Redaktur Tulisan: Maya Andani)

 

 

About Media Pijar

Media Pijar: Pers Mahasiswa - Pelita Insan Terpelajar - Laboratorium Departemen Ilmu Komunikasi, Universitas Sumatera Utara, Medan.

Silahkan Lihat Artikel ini juga !

Source : Google (rollingstone.co.id)

Posesif : Bukan Maksudku Ingin Melukaimu

Tidak cukup sampai disitu, Yudhis juga kerap melakukan tindakan kekerasan pada Lala. Ketidakmampuannya untuk mengontrol emosi, membuat dirinya menjadi ancaman yang berbahaya bagi Lala dan orang di sekitar Lala.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *