Home / Hiburan / Efek Rumah Kaca-Desember, Nostalgia Dan Bencana
sumber foto : genius.com
sumber foto : genius.com

Efek Rumah Kaca-Desember, Nostalgia Dan Bencana

“Aku selalu suka sehabis hujan di bulan Desember”

Dita Andriani

Pijar, Medan. Pada ujung tahun, hujan bukanlah sesuatu yang istimewa lagi. Hujan membangkitkan segala kenangan yang ada dan menimbulkan pelangi pada pikiran terdalam. Memandang tiap tetas yang terhempas ke bumi, serta mengulang rekaman segala kenangan manis. Hingga bukan hanya langit yang menetes, tetapi  mata pun mengikutinya. Menikmati hujan sambil mendengarkan lagu galau menjadi andalan setiap insan yang patah hati.

Maka Efek Rumah Kaca dengan lagunya Desember, membuat kita menikmati setiap detik pergantian hari menuju awal tahun baru. Lagu yang dirilis pada 2007 silam rasanya tidak memiliki kata jenuh untuk terus didengar. Tidak hanya liriknya yang membuat para pendengar terbawa pada nostalgia semata, tetapi video klip yang diambil dari tetesan hujan di beberapa negara juga sangat apik untuk dinikmati. Pada setiap bait, kita akan terlempar akan rasa yang dalam pada hujan. Semoga ada yang menerangi sisi gelap ini, menanti seperti pelangi setia.

Tidak hanya sekedar lagu galau untuk menikmati hujan, tetapi ada yang menarik pada tiap lirik yang dilantunkan. Banyak makna yang terkandung di dalamnya, seperti yang sering terjadi di bulan ini, Desember adalah bulan yang rawan bencana. Banjir yang melanda beberapa kota hingga terjadinya angin kencang yang merusak. Maka band yang menulis lagu dengan potret kenyataan sekitar ini, menjadi teguran tersirat untuk setiap insan.

Sekilas bencana yang terjadi, seperti badai cempaka di Yogya, banjir di Pasuruan, serta letusan Gunung Agung di Bali membuat kita merasakan kesedihan di penghujung tahun ini.

Sampai nanti ketika hujan tak lagi

Meneteskan duka meretas luka

Sampai hujan memulihkan luka

Sepenggal lirik ini menghanyutkan dan membuat kita bangkit. Bukan hanya perihal hati saja, tetapi negara pun ikut bersedih. Lagu yang dapat mencampuradukkan perasaan ini, hingga kini terus menggambarkan keadaan Negara Indonesia.

Seperti pelangi setia

Menunggu hujan reda

Semoga para hati yang patah dapat melihat pelangi kembali dalam hidupnya. Serta bencana yang terjadi di Indonesia segera reda, seperti hujan.

(Redaktur Tulisan: Maya Andani)

About Media Pijar

Media Pijar: Pers Mahasiswa - Pelita Insan Terpelajar - Laboratorium Departemen Ilmu Komunikasi, Universitas Sumatera Utara, Medan.

Silahkan Lihat Artikel ini juga !

Sumber Foto : Collegian.com

Murder On The Orient Express, Teka Teki Sebuah Pembunuhan

Tasya Nandita/Putri Arum Marzura Bagaimana sih rasanya jika kamu berada disebuah kereta api, tiba-tiba terjadi …

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *