Home / Hiburan / Buku / Into The Wild: Meninggalkan Kepalsuan Demi Mengejar Kebebasan
Source : google
Source : google

Into The Wild: Meninggalkan Kepalsuan Demi Mengejar Kebebasan

Star Yeheskiel Munthe/ Citra Relitna Ginting

Pijar, Medan. “Lebih dari cinta, uang, keyakinan, ketenaran dan keadilan. Berikan aku kebenaran.”(Chris McCandles, Into The Wild)

Into The Wild merupakan salah satu karya Jon Krauker yang paling terkenal dan diterbitkan oleh Qanita. Into The Wild  menjadi fenomenal karena kisahnya yang sangat menyentuh, bercerita tentang seorang pemuda yang kelihatannya memiliki segala hal dalam kehidupannya, namun tiba-tiba memutuskan untuk meninggalkan segala hal tersebut demi menyatu dengan alam.

Chris McCandles (Chris Super-tramp) seorang remaja yang memiliki orang tua hebat karena ahli dalam bidang sains, cumlaude dari universitasnya, juga memiliki banyak kekayaan. Namun, itu semua ditinggalkannya demi meninggalkan semua kepalsuan yang ada dalam hidupnya. Sosoknya merupakan seorang yang jenius, semangat dan antusias disekolahnya, bahkan dia merupakan seorang pecandu buku.

Ketika acara makan malam perayaan kelulusannya, dia merangkai sebuah puisi yang kata-katanya dikutip dari beberapa buku penulis favoritnya, yakni Tolstoy, Jack London, dan Thoreau. Kata-kata tersebut ditujukan untuk kedua orang tuanya, dan puisi  merupakan salam perpisahan kepada keluarganya.

Chris McCandles meninggalkan semua ini bukan karena ia memiliki kelainan jiwa, stress atau apapun hal yang dapat menyangkal bahwa dia gila. Semua dilakukan karena selama ini dia hidup dalam kepalsuan, dia juga telah berkaca berdasarkan pengalaman kedua orang tuanya, setelah  lulus kemudian bekerja dan menjadi orang hebat, lalu tergila-gila dengan hal tersebut sampai lupa kepada sejarah. Dirinya menganggap bahwa manusia kadang terlalu cepat menentukan keputusan dengan percaya diri, padahal masih terlalu bodoh akan hal tersebut.

Dalam perjalanan panjang yang dilalui oleh Chris untuk menapakkan kakinya di utara, dia tak membutuhkan peta, kompas, atau harus bertanya kepada orang yang berada di sekitarnya. Dirinya pun tak membutuhkan semua itu untuk menyatu dengan alam (into the wild) karena sejauh manapun kakinya menapak bahkan sekalipun kepala terfokus pada peta, dia akan terus berjalan ke barat.

Dalam petualangannya, Chris bertemu banyak orang-orang baru, mulai dari Jan dan Rainey,  yang merupakan pasangan yang menyebut diriya sebagai rubber-tramp, kemudian ada  Ron Franz,  yang merupakan orang tua yang menghabiskan masa mudanya  menjadi tentara.

Bagian inilah yang akan menjadi hal mengharukan  yang dirasakan oleh Ron, Ron yang terharu dengan kisah yang Chris ceritakan tentang tujuan dan alasannya menyatu dengan alam. Ron bahkan  tak rela melepaskan Chris untuk melanjutkan perjalanannya karena telah menganggap Chris sebagai anaknya, perasaan yang mengharukan memang jika bercerita tentang kisah ayah dan anak. Namun, apa yang Chris McCandles rencanakan untuk setelahnya, yakni melanjutkan perjalanannya, karena Chris adalah pemuda yang semangat dan berani.

“Aku takut air sejak dulu, tetapi terkadang kita harus melewatinya. Jadi, aku akan berenang,tutur Chris McCandles dalam buku Into The Wild.

Tempat terakhir yang ingin Chris kunjungi sebelum kembali ke peradaban adalah  Alaska. Bagian utara Amerika ini, dikenal sebagai lingkungan yang tak kenal ampun. Daerah ini merupakan mimpi buruk bagi petualang untuk dapat  datang ke sana. Namun, Chris bukanlah pria bodoh yang mengambil keputusan dengan ceroboh seperti yang kita bayangkan, jauh hari dirinya telah mempersiapkan hampir segala hal, mulai dari pakaian, alat berburu, buku tentang tumbuh-tumbuhan, dan juga kamera.

Setelah menjalani waktu yang panjang di Alaska, pada akhirnya Chris yang tangguh ternyata mulai dikalahkan oleh  iklim yang sangat dingin, bahkan Chris hampir mulai hilang kendali pada tubuhnya. Perlahan dirinya sekarat karena persediaan makanan yang sudah tidak mencukupi, hingga kemudian dia memaksakan diri untuk pergi keluar dari bus (bus yang terbengkalai Chris gunakan sebagai tempat berlindung selama di Alaska) dan mencari tumbuh-tumbuhan, lalu dia pun menemukan sejenis beri.

Minimnya pengetahuan Chris  akan buah yang ditemukannya, membuatnya mencari petunjuk melalui buku tentang tumbuhan untuk mengetahui keamanan dari buah beri tersebut, namun ternyata dirinya masih kurang mendalami isi buku tentang tumbuhan yang di bawanya. Chris salah mengartikan bahwa sebenarnya tumbuhan itu beracun dan dapat membunuh penggunanya dalam beberapa jam.

Setelah membaca buku tersebut  untuk kedua kalinya,  Chris  menyadari kekeliruannya, sesaat kemudian Chris menangis dengan rasa sesal. Kemudian pengalaman tersebut ditulisnya dan menjadi sebuah hal yang sangat menyentuh hati para pembacanya, meski sebenarnya tulisan tersebut ditujukan kepada orang-orang  yang dicintainya.

Buku Into The Wild adalah buku yang sangat direkomendasikan untuk kamu yang memiliki ketertarikan dalam traveling, atau pun yang ingin memulai traveling. Buku ini banyak mengajarkan arti hidup yang sesungguhnya, terdapat banyak kutipan-kutipan tentang kehidupan.  Buku ini juga mengajarkan untuk bangkit dan semangat dalam mengahadapi segala masalah. Ditulis oleh penulis yang  handal, yang tulisannya sudah sangat sering dicetak oleh Rollingstone, Time, National Geographic dan masih banyak lagi. Dari segi kualitas dan  tatanan bahasa, buku ini tidak dapat diragukan. So let’s read it!

(Redaktur Tulisan: Viona Matullessya)

 

About Media Pijar

Media Pijar: Pers Mahasiswa - Pelita Insan Terpelajar - Laboratorium Departemen Ilmu Komunikasi, Universitas Sumatera Utara, Medan.

Silahkan Lihat Artikel ini juga !

sumber foto : genius.com

Efek Rumah Kaca-Desember, Nostalgia Dan Bencana

“Aku selalu suka sehabis hujan di bulan Desember” Dita Andriani Pijar, Medan. Pada ujung tahun, …

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *