Home / Hiburan / Buku / Membunuh Nafsu Hayawaniah
Sumber gambar: tokopedia.com
Sumber gambar: tokopedia.com

Membunuh Nafsu Hayawaniah

Grace Kolin

Judul               : Vegetarian

Penulis             : Han Kang

Penerbit           : Baca

Cetakan           : I, 2017

Tebal               : 222 halaman

“Sekarang aku tidak bisa tidur lebih dari lima menit. Mimpi langsung datang ketika kesadaranku mulai hilang. Tidak, ini tidak bisa dibilang mimpi. Adegan-adegan pendek saling bertumpuk tanpa henti. Mata berkilau makhluk buas, darah, tengkorak yang digali dari tanah, dan mata predator itu lagi.” (hal. 41)

Mimpi. Satu ihwal sepele itu menjadikan Yeong-hye berontak makan daging. Pilihannya menjadi seorang vegetarian membuat ia terasing. Ia justru mengangkangi kebiasaan orang Korea yang kala itu tidak bisa terlepas dari kudapan berbahan daging. Sebelum berangkat lebih jauh, mari kita berkenalan dengan Yeong-hye.

Yeong-hye seperti istri penurut pada umumnya, merupakan sosok wanita yang biasa-biasa saja. Ia cenderung pendiam dan tidak pernah meminta hal-hal berlebihan pada suaminya. Jika ada yang unik dari dirinya, dia tidak menyukai bra. Sehingga ia jarang sekali menggunakannya di rumah. Ia tak tahan dadanya dikekang.

Pagi-pagi, di musim dingin, sang suami mendapati Yeong-hye berjongkok di depan pintu kulkas sambil memasukkan seluruh bahan makanan dari daging ke dalam kantung sampah besar. Ketika ditanya, ia menjawab “Aku bermimpi”. Mimpi menyeramkan itu kemudian berulang kali mengusik tidurnya. Membuat ia tidak selera mengonsumsi daging dan akhirnya, ia memutuskan untuk berhenti makan daging.

Menjadi seorang vegetarian membuat Yeong-hye semakin kurus. Di sisi lain, kehidupan rumah tangganya menjadi berantakan. Hanya karena suaminya masih memiliki bau daging, ia menolak bersetubuh. Puncaknya, ketika acara makan-makan di apartemen, Yeong-hye menjadi tak terkendali dan menyayat pergelangan tangannya dengan pisau. Semua itu akibat ulah ayahnya yang emosi dengan sikap keras kepala Yeong-hye dan menjejalkan sepotong daging matang ke mulutnya. Sejak saat itu, Yeong-hye tinggal bersama kakaknya, In-Hye.

Sisi menarik Yeong-Hye yang sedikit eksentrik dan tidak terlalu banyak bertingkah membuat suami In-Hye tertarik. Apalagi, ketika suami In-Hye mengetahui fakta tanda lahir kebiruan (magnolian spot) yang masih dimiliki Yeong-Hye. Ia pun berpikir untuk menjadikan tubuh Yeong-hye sebagai objek seni untuk video syur melukis bunga. Yeong-hye yang polos diembat suami In-Hye. Ketika perselingkuhan itu terbongkar, In-Hye mengirim kedua-duanya ke tempat rehabilitasi, sekaligus menceraikan suaminya.

Setelah dirawat di Rumah Sakit Jiwa Chukseong, In-Hye masih tetap rutin menjenguk adiknya yang semakin hari semakin kurus. Tulang pipinya semakin cekung dan tatapan matanya kosong. Meski In-hye telah membujuk adiknya untuk makan buah, adiknya tetap menolak. Ia benar-benar prihatin dan putus asa. Kondisi Yeong-hye sekarat.

“Kakak tahu mengapa aku bisa tahu? Mimpi. Aku berdiri dengan tanganku. Daun tumbuh dari tubuhku, akar mencuat dari tanganku. Menancap ke tanah. Tanpa henti, tanpa henti … Bunga ingin merekah dari selangkanganku sehingga aku melebarkan kakiku, mengangkang lebar-lebar…” (hal. 179).

Lagi-lagi, Yeong-hye semakin tidak waras. Ia mengira bahwa dirinya bukan binatang lagi. Layaknya tumbuhan, ia tidak perlu makan nasi. “Aku bisa hidup. Asal ada cahaya matahari.” In-Hye sungguh tidak rela bila adiknya mati dengan cara seperti ini. Ia terpaksa mengambil langkah terakhir agar adiknya tetap hidup. Atas saran dokter, ia membiarkan hidung adiknya dimasukkan makanan lewat selang. Sontak, adiknya menggelepar kesakitan hingga makanan yang telah masuk, muncrat keluar beserta darah.

Sebagai penulis, Han Kang meramu bumbu kisah vegetarian yang biasa-biasa saja menjadi sebuah novel sureal yang apik. Perjuangan tokoh Yeong-hye melawan nafsu hayawaniah (hewan) menjadi tumbuhan tentu membuat pembaca tertegun sambil meresapi makna filosofis dibalik “ide gila” itu. Bukan sembarang novel, Vegetarian telah meraih penghargaan sebagai Man Booker Internasional 2016.

Penghargaan bergengsi untuk fiksi terjemahan ini tentunya melejitkan sastra Negeri Ginseng yang sangat minim terdengar di kancah Internasional. Pergolakan nafsu dan psikologis bisa jadi mengaduk-ngaduk pikiran menjadi daya tarik untuk novel ini sendiri. Terlebih, Han Kang membungkus Vegetarian dengan begitu absurd dan mencekam. Penuh dengan kejutan.

(Redaktur Tulisan: Viona Matullessya)

About Media Pijar

Media Pijar: Pers Mahasiswa - Pelita Insan Terpelajar - Laboratorium Departemen Ilmu Komunikasi, Universitas Sumatera Utara, Medan.

Silahkan Lihat Artikel ini juga !

Sumber foto:  fontsinuse.com/uses/15407/hidden-figures-movie-poster-1

Hidden Figures, Kisah Perjuangan Perempuan Minoritas

Pijar, Medan. Tidak seperti sekarang, di masa yang lampau antara ras kulit hitam dengan ras kulit putih mendapat perlakuan yang berbeda. Ras kulit hitam dianggap sebagai kelas yang rendah dibandingkan dengan ras kulit putih. Hal ini lah yang menjadi topik utama cerita film Hidden Figures yang dirilis pada tahun 2016 oleh 20th Century Fox.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *