Home / Lifestyle / PMS, Sebuah Penyakit ?

PMS, Sebuah Penyakit ?

Sumber gambar : slideshare.net

Erika Enjelina/Putri Arum Marzura

Pijar, Medan. Pernahkah kita merasakan situasi emosi yang tinggi, perubahan perasaan secara drastis, lalu kemudian menyerang orang-orang terdekat dengan amarah dan kesal hingga memicu pertengkaran? Situasi tersebut sering dirasakan oleh para perempuan, terutama pada anak remaja yang masih dalam masa labil dan pubertasnya. Hal ini berkaitan dengan PMS (Pramenstruental Syndrome).

Dilansir dari Wikipedia, PMS atau Premenstruental Syndrome adalah kumpulan gejala fisik, psikologis, dan emosi yang terkait dengan siklus saat ovulasi (pelepasan sel telur dari ovarium) dan haid. Gangguan kesehatan berupa pusing, depresi, perasaan sensitif berlebih sekitar dua minggu sebelum haid biasanya dianggap hal yang lumrah bagi wanita usia produktif.

PMS yang sedang dialami wanita menjadi sesuatu yang ‘menyeramkan’  bagi  orang sekitar terutama kaum pria. Dalam beberapa kasus sepasang kekasih, ketika pria mengetahui pasangannya sedang dalam masa PMS, para pria memilih untuk menghindar daripada menjadi sasaran amuk si wanita.

Namun, belum banyak yang mengetahui atau mengerti bagaimana PMS itu sebenarnya, apakah itu suatu penyakit atau hanya bawaan emosional biasa yang tak lazim dirasakan oleh para perempuan di masa pra menstruasi. Sampai sekarang, penyebab PMS belum dapat dipastikan dengan jelas.

Menurut para ahli, gejala menjelang menstruasi ini erat kaitannya dengan perubahan hormonal di dalam tubuh. PMS bukan suatu penyakit, melainkan sebuah gangguan rutin yang selalu ‘mengunjungi’ wanita di masa sebelum menstruasi.

Ada beberapa perubahan emosional pada wanita yang sedang mengalami PMS yaitu meningkatnya emosional yang tinggi, mudah marah dan gelisah, bahkan terkadang ketika dalam situasi dan mood yang tidak bagus kita bisa merasakan tekanan dan kecemasan yang berlebihan, mudah sedih sampai nangis yang berkepanjangan, sulitnya berkonsentrasi, bahkan kita sangat sulit untuk berinteraksi dengan baik kepada orang.

Para perempuan juga suka merasakan sakit perut yang terasa sangat sakit ketika atau sebelum PMS yang biasa dikenal dengan senggugut. Hal itu menjadi salah satu pemicu meningkatnya emosinal bagi para perempuan yang sedang PMS. Dalam beberapa kasus, rasa nyeri ini bisa menyebabkan pingsan bahkan demam dan merasakan sakit diseluruh badan seperti badan sedang ditusuk-tusuk.

Salah satunya dirasakan oleh Nabila, ia merasakan perubahan ketika memasuki masa PMS-nya. Seperti nyeri di perut, agak mual, nyeri sendi, nafsu makan yang kurang, dan bawaan badan yang melemas. Tetapi Nabila bisa mengatasi hal-hal tersebut, misalnya jika nyeri perutnya kambuh ia akan mengusap perutnya dengan minyak kayu putih untuk meredakan rasa sakit pada perutnya. Tak jarang, Nabila meminum jamu khusus yang bisa meredakan rasa sakit pada perut pada saat PMS.

Nabila biasanya mengalami fase PMS tiga hingga empat hari lamanya. Selama hal itu ia rasakan, mood flying yang ia rasakan adalah mudah marah dan capek. Ya, hal seperti itu juga banyak dirasakan oleh para perempuan. Seperti yang sudah dipaparkan sebelumnya, hal ini merupakan situasi yang wajar dialami wanita di masa PMS-nya.

Jadi, untuk para wanita yang khawatir dengan gejala yang dialami saat PMS, buang jauh-jauh perasaan tersebut. Namun, untuk para pria yang berada di sekitarnya, harus punya cara tersendiri agar tidak menjadi sasaran empuk si wanita.

(Redaktur Tulisan: Viona Matullessya)

About Media Pijar

Media Pijar: Pers Mahasiswa - Pelita Insan Terpelajar - Laboratorium Departemen Ilmu Komunikasi, Universitas Sumatera Utara, Medan.

Silahkan Lihat Artikel ini juga !

Sumber gambar : Sumber: muslimarket.com

Bulan Puasa Bukan Alasan Untuk Tidak Berolahraga

Olahraga di bulan puasa akan memberikan manfaat yang besar bagi tubuh anda, seperti hilangnya rasa malas dan mengantuk, detoksifikasi tubuh akan tetap lancar hingga dapat membantu kita untuk menurunkan berat badan.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *