Home / Jalan-Jalan / Sayur Jadi Manisan?

Sayur Jadi Manisan?

Source : https://cdns.klimg.com/merdeka.com/i/w/news/2014/07/15/399412/670x335/ini-si-manis-halua-kuliner-lebaran-khas-melayu-langkat.jpg

Riska Apsari/Muhammad Abdul Fattah

Pijar, Medan. Kita biasa mengolah sayur dan buah di dapur menjadi makanan yang melezatkan, mulai dari olahan yang dimasak maupun sekedar sebagai lalapan dengan sambal untuk menemani nasi. Lalu apa jadinya jika sayur dijadikan manisan?

Halwa, berbahan dasar sayur-sayuran dan gula sebagai pengawet sekaligus perasa manisan. Hal ini membuktikan bahwa sayur tidak selalu diolah sebagi lauk bersama nasi. Halwa merupakan manisan khas Masyarakat Melayu, Sumatera Utara.

Halwa memiliki rasa manis yang mencolok dengan sedikit tambahan pewarna makanan. Biasanya Halwa disajikan ketika Lebaran Idul Fitri dan Idul Adha maupun penyambutan hari besar lain sebagai makanan pelengkap. Bagi Masyarakat Melayu sendiri, Halwa menjadi hidangan menjamu tamu.

Tidak perlu menunggu waktu lebaran atau hari besar lain untuk menikmati Halwa. Sekarang Halwa sudah tersedia di toko-toko penjual manisan yang ada di Kota Medan, bahkan sudah tersedia di toko-toko online juga. Harga Halwa bervariasi, berkisar Rp80000-Rp90000 per kilogram. Cita rasa Halwa itu sendiri dihasilkan dari keahlian turun temurun Masyarakat Melayu. Pembuatanya memang cukup sederhana seperti membuat manisan pada umumnya, tetapi tetap memerlukan kesabaran.

Dalam pembuatan Halwa, yang terpenting adalah proses pemilihan bahan dasar. Pemilihan bahan dasar Halwa yakni dari buah dan sayur yang masih segar. Agar memperoleh rasa renyah dan segar, buah dan sayur yang sudah dipilih dibersihkan terlebih dahulu dengan air bersih agar kotoran dan debu tidak tertinggal dalam proses pengolahan. Intinya tetap menjaga kebersihan agar manisan yang diperoleh dapat disimpan lebih lama. Setelah dibersihkan semua bahan diletakan ke wadah yang sudah disediakan untuk dibentuk dan diukir agar lebih menarik. Bahan yang sudah dibentuk dan dipotong, direbus terlebih dahulu. Tidak membutuhkan waktu yang lama dalam merebusnya,  cukup sedikit layu saja untuk tetap menjaga cita rasa buah dan sayur itu sendiri sehingga manisan yang dihasilkan lebih gurih saat dikunyah. Kemudian bahan tadi ditiriskan untuk memisahkan air rebusan. Dan proses akhirnya adalah merendam buah dan sayur tadi kedalam air gula untuk mendapatkan rasa manis. Proses tersebut memerlukan waktu 5 hingga 9 hari.

Agar memiliki rasa yang enak, biasanya masyarakat menusuk-nusuk daging buah dan sayur sehingga rasa manis meresap sampai ke dalam. Hal itulah yang menimbulkan cita rasa manis yang khas yang digemari oleh masyarakat. Halwa memiliki banyak penggemarnya, tak hanya di kalangan muda dan tua saja, namun anak-anak juga menyukainya.

Dari banyaknya jenis halwa, menurut penggemar yang paling enak dan unik adalah Halwa berbahan dasar sayur sawi dan cabai. Biasanya masyarakat menggunakan cabai sebagai bumbu dapur yang menghasilkan rasa pedas, namun Masyarakat Melayu mengolah cabai menjadi halwa yang manis.

“Untuk Halwa sendiri, disini yang saya suka adalah sawi. Mungkin sebagian orang menganggap sawi itu tidak enak apalagi dijadikan manisan yang kedengaranya aneh,” tutur Riska salah satu penggemar Halwa.

Namun faktanya, sayur sawi tidak begitu buruk dan pahit seperti anggapan orang.  Bagi kalian yang tidak menyukai sayur, bisa mencoba alternatif lain makan sayur dengan memakan Halwa. Selamat mencoba si manis Halwa.

(Redaktur Tulisan: Maya Andani)

About Media Pijar

Media Pijar: Pers Mahasiswa - Pelita Insan Terpelajar - Laboratorium Departemen Ilmu Komunikasi, Universitas Sumatera Utara, Medan.

Silahkan Lihat Artikel ini juga !

Sumber Foto : https://www.pictasite.com/post/Be5gvHinljW

Kue Khas Mandailing yang Kaya Manfaat

Alame adalah nama kue dari daerah Mandailing Natal, Sumatera Utara. Kue ini biasanya disebut juga Dodol khas Mandailing. Makanan tradisional ini sudah sangat popular bahkan hingga ke negara tetangga Malaysia.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *