Home / Jalan-Jalan / Mie Sop, Makanan Semua Kalangan
image1

Mie Sop, Makanan Semua Kalangan

Azka Fikri/ Muhammad Abdul Fattah

PIJAR, Medan. Bila mengulik sedikit sejarah Indonesia, maka muncul pertanyaan, apa yang menjadi daya tarik para penjajah untuk menjajah negeri ini? Ya, jawabannya rempah-rempah. Umumnya rempah-rempah banyak diolah menjadi aneka ragam makanan, bagi orang Eropa sendiri, rempah-rempah juga dimanfaatkan sebagai penghangat tubuh.

Mi sup, atau yang lebih dikenal dengan sebutan mie sop, merupakan salah satu olahan pangan kaya rempah-rempah yang merupakan makanan paling mainstream se-Sumatera Utara. Betapa tidak, di setiap persimpangan pastilah kita temui makanan yang satu ini.

Beberapa bumbu untuk membuat kuah dari mi sup sendiri antara lain adalah bawang putih, bawang merah, kemiri, jahe, garam, bunga lawang, pala, kunyit, kapu laga, daun salam, kulit manis, dan merica, hasil rempah dari Indonesia. Ada pula tambahan kaldu ayam atau sapi, dan tak jarang ada yang menambahkan lemak sapi atau ayam sebagai penikmat. Sementara mi yang digunakan untuk mi sup ini adalah perpaduan mi putih dan mi kuning. Tak jarang penjual yang mengkreasikan dengan kwetiau.

Mi ini diisi dengan taburan ayam dan bawang goreng, serta disiram dengan kuah yang segar dan wangi akan rempah-rempahnya. Makanan yang kita temui ketika bersekolah, kuliah, ketika pacaran, dan makan bersama keluarga. Ya mi sup, makanan segala zaman dan segala usia.

Adam, salah satu  penggemar mi sup, menyatakan makanan ini sangat mudah didapatkan. Walau pun terkadang ada yang enak dan ada yang kurang enak, tetapi mi sup sendiri tidak jauh berbeda dari segi penyajian dan rasa. “Dari segi rasa sebenarnya semua miso sama saja, ada rasa bawang putihnya dan yang paling kental itu bunga lawang ya. Cuma yang membedakan biasanya porsi masing-masing dari penjualnya, ada yang ayamnya banyak ada juga yang kerupuknya banyak,” ungkap Adam.

Mie hun atau mie putih yang menjadi salah satu variasi mie dalam menyantapi mie sop. (Fotografer: Muhammad Abdul Fattah)
Mie hun atau mie putih yang menjadi salah satu variasi mie dalam menyantapi mie sop.
(Fotografer: Muhammad Abdul Fattah)

Mi sup sendiri sangat cocok dinikmati saat cuaca sedang hujan. Umumnya, gerai mi sup di Medan buka dari pukul 10.00-22.00. Maka, pangan ini sering disantap untuk makan siang maupun malam malam.

Selain Adam, Rifqi Syahlendra yang juga penggemar mi sup, mengaku bahwasanya mi sup itu sangat enak dan mudah didapatkan. Awalnya dirinya mengaku tidak tahu menahu dimana mie sop yang enak di kota Medan. Tapi seiring berjalannya waktu, ia merasa sebenarnya semua mi sup di Medan sama. “Yang menjadi favorit saya adalah mie sop dengan mie tiaw dimana belinya di tempat biasa saya makan”, tutur Rifqi yang juga ketua Ikatan Mahasiswa Jurusan Ilmu Komunikasi (IMAJINASI) USU.

Dalam urusan harga, mi sup memiliki harga yang beragam, yakni kisaran Rp5000 hingga Rp10.000. Hal inilah yang membuat mi sup menjadi makanan favorit semua orang. Harga yang murah, rasa yang nikmat, membuat orang berlomba-lomba menjadikan mi sup sebagai makanan favorit mereka.

Ibu Juli, sebagai salah satu penjual mi sup mengungkap mengapa mi sup dijual dengan harga yang sangat murah. “Karena memang layak dijual dengan harga segitu, pun bahannya didapatkan dengan mudah di pasar semua setiap hari ada yang jual,” ungkap Bu Juli.

Faktanya, mi sup tak hanya tersedia di warung-warung khusus mi sup. Mi sup juga dapat ditemukan di restauran dan rumah makan besar.  Walaupun dijual di restauran, harga yang ditawarkan pun tak masih dapat dijangkau.

“Jika ada orang yang jual Mie Sop dengan harga tinggi, sangat terlalu lah dia karena makanan sederhana ini bukan dimahali dengan uang. Tapi dimahali untuk dijaga kelestariannya,” tambah ibu Juli.

Tertarik mencoba mi sup?

Redaktur Tulisan: Viona Matullessya

About Media Pijar

Media Pijar: Pers Mahasiswa - Pelita Insan Terpelajar - Laboratorium Departemen Ilmu Komunikasi, Universitas Sumatera Utara, Medan.

Silahkan Lihat Artikel ini juga !

20181121_192931

Nongkrong Asyik di Monkey the Cafe

Monkey the Cafe bisa menjadi referensi tempat nongkrong di akhir pekan ini. Kafe yang satu ini memang belum resmi dibuka, masih dalam the soft opening, tetapi pengunjung tak jarang mendatangi tempat ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *