Home / Lifestyle / E-book atau Buku?

E-book atau Buku?

Sumber gambar : google.com

Gading Akbar/Mhd Abdul Fattah

PIJAR, Medan. Seiring dengan perkembangan zaman, teknologi mulai mengambil alih setiap sendi-sendi kehidupan manusia, mulai dari cara berkomunikasi, berwirausaha, berniaga, bahkan bertransportasi yang semuanya bisa dilakukan melalui sistem online yang dapat diakses dengan mudah melalui internet. Hal tersebut tanpa terkecuali juga menyentuh cara kita membaca dan belajar yang tak luput dari implementasi teknologi saat ini.

Sejak zaman dahulu, kebudayaan manusia dalam membaca dapat dilakukan melalui berbagai media. Mulai dari tulisan di batu, daun lontar, lempengan, dinding gua hingga akhirnya muncul-lah kertas yang kemudian dijadikan buku. Tapi kini muncul lagi pilihan media baca yang mulai beralih ke media e-book (electronic book) atau buku elektronik.

Bila pada umumnya buku hanyalah kumpulan kertas yang berisikan tulisan atau gambar, maka e-book adalah buku berbentuk digital yang dapat diakses melalui perangkat elektronik seperti komputer, gadget, smartphone, dan lain sebagainya. Perubahan zaman membuat cara membaca dan belajar menjadi semakin bervariasi. Hal ini dapat lebih memudahkan manusia dalam menjalankan aktifitasnya. Namun apakah perubahan ini dapat diterima begitu saja? Tentu saja tidak, banyak kontroversi yang terjadi tentang alih fungsi buku menjadi e-book sebagai media baca. Beragam tanggapan pro dan kontra pun berdatangan tentang kelebihan dan kekurangan diantara keduanya.

Penggunaan e-book yang sedang marak saat ini dikhawatirkan akan menggusur penggunaan buku cetak yang selama ini telah ada. Tentu saja hal ini membuat para pecinta buku tidak tinggal diam. Mereka berpendapat bahwa membaca menggunakan buku cetak jauh lebih dapat dinikmati dan dihayati. Aroma khas dari buku, sensasi gerakan jari saat membalik kertas, sampul buku yang bermacam-macam, dan lain-lain merupakan kesan yang didapat ketika menggunakan buku.

Tidak seperti e-book yang digital, buku cetak yang berwujud nyata dapat dibuat menjadi sedemikian rupa seperti ditekuk, dilipat, dicoret, dipeluk, dijadikan kipas, dan berbagai kegunaan lainnya yang tidak dapat dilakukan pada e-book. Selain itu mengoleksi buku yang kemudian ditempatkan di rak-rak buku juga  mendatangkan kesenangan tersendiri. Para kolektor buku akan merasa senang bila koleksi buku mereka sudah banyak dan tersusun rapi di rak buku.

Menurut penelitian, membaca materi dari buku cetak lebih mudah diingat untuk jangka panjang dibanding membaca lewat layar. Peneliti mengungkap bahwa membaca lewat komputer membutuhkan waktu yang lama untuk diingat dan harus dibaca berulang-ulang karena kurangnya kesan ketika membaca melalui layar.

Rizka Gusti, sebagai mahasiswa mengakui bahwa dari segi waktu, buku lebih fleksibel. Jika melihat dari kenyamanan membaca ,pasti para pembaca lebih merasa nyaman dengan adanya bentuk fisik buku. Untuk membaca e-book diperlukan menatap layar sehingga mungkin saja dapat mengganggu penglihatan dalam waktu dekat. “Saya pribadi akan membaca e-book ketika harga buku aslinya terlalu mahal dan hanya membutuhkan beberapa informasi saja,” pungkas Rizka.

Adapula yang berpendapat bahwa penggunaan e-book sama sekali tidak menggangu eksistensi buku cetak. Menurut mereka ini hanyalah masalah cara penyajian bacaan saja. Namun bukan berarti bahwa penggunaan e-book itu tidak lebih baik dari penggunaan buku cetak. Terdapat juga kemudahan-kemudahan yang tidak dapat ditemukan ketika menggunakan buku cetak.

Kemudahan e-book dalam penggunaannya yang bisa dilakukan dimana saja menjadi pilihan ketika berada disaat-saat tertentu. Akses yang mudah didapat dan harga yang lebih murah juga ditawarkan dalam penggunaan e-book. Kapasitas yang praktis juga memungkinkan Anda untuk membawa ratusan buku elektronik yang dapat disimpan dalam memori walau hanya 1 GB saja.

Pembaca juga dapat membagikan berkas e-book tersebut kepada siapa saja yang kita inginkan. Hanya dengan mengklik “copy” maka file nya akan disalin kemanapun yang diinginkan.  Selain itu, e-book, yang tanpa penggunaan kertas ini, juga membawa dampak positif bagi lingkungan. Jadi tak selamanya bahwa penggunaan e-book membawa pengaruh negatif dalam membaca.

“Membaca melalui buku cetak ataupun e-book hanyalah pilihan semata. Kita bebas memilih pada media apa kita akan membaca. Itu semua tergantung pada bagaimana kita menggunakan dan kondisi apa yang sedang dialami serta bagaimana kita menyikapi perubahan yang akan terus berlanjut,” tutur Ibu Mazdalifah yang merupakan dosen Departemen Ilmu Komunikasi FISIP USU.

 Selain itu, media percetakan yang mengeluarkan buku merupakan salah satu industri kreatif yang akan terus berkembang karena persaingan yang semakin hari semakin ketat. Jadi tak heran, akan ada muncul cara-cara baru dalam media baca yang akan keluar nantinya.

Hal terpenting adalah bagaimana minat baca kita tidak memudar, karena seharusnya media-media baca seperti ini harus segera ditingkatkan agar memunculkan minat baca di semua kalangan masyarakat. Mengingat bahwa bangsa ini mempunyai minat baca yang sangat rendah sehingga butuh kepedulian  lebih. Kita semua berharap bahwa baik buku maupun e-book dapat dijadikan sebuah sarana agar pendidikan di Indonesia jauh lebih baik dari sekarang. Semua elemen harus ikut andil dalam peningkatan minat baca di negeri ini.

(Redaktur Tulisan: Viona Matullessya)

 

 

About Media Pijar

Media Pijar: Pers Mahasiswa - Pelita Insan Terpelajar - Laboratorium Departemen Ilmu Komunikasi, Universitas Sumatera Utara, Medan.

Silahkan Lihat Artikel ini juga !

Sumber foto: maldepuero

Tidur setelah sahur? Bahaya!

Tak jarang, sahur yang dilakukan saat jam orang-orang tertidur dengan pulasnya menyebabkan rasa malas untuk berpuasa. Terkadang kita ingin melewatkan makan sahur dan tetap melanjutkan tidur.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *