Home / Jalan-Jalan / Kafe Kawa Daun, Sensasi Menikmati Kopi yang Bukan Kopi

Kafe Kawa Daun, Sensasi Menikmati Kopi yang Bukan Kopi

Cafe Kawa Daun, terletak di Jalan Halat, Pasar Merah Barat, Medan, Sumatera Utara. (Fotografer : Mutia Rahma ).

Tasya Nandita/Mutia R

PIJAR, Medan. Tradisi kopi atau ngopi memang sudah sangat melekat dengan keseharian warga Medan. Ngopi biasanya dilakukan untuk melepas penat setelah seharian beraktivitas dengan nongkrong beramai-ramai maupun me time. Banyak tempat nongkrong yang menyediakan minuman ber-kafein tersebut, terutama di Ibukota Medan.

Cafe Kawa Daun, warung kopi yang terletak di Jalan Halat, Pasar Merah Barat ini bisa menjadi rekomendasi tempat nongkrong baru bagi para pecinta kopi yang ada di Kota Medan. Baru dibuka September 2017 lalu, kafe ini dibuka sekitar pukul 19.00 WIB atau tepatnya sehabis maghrib sampai 00.00 WIB atau tergantung pengunjung yang datang setiap harinya.

Sesuai nama kafenya, Kawa Daun merupakan menu minuman andalannya. Kawa Daun merupakan minuman khas Sumatera Barat yang diformulasikan dari daun kopi, dan diseduh layaknya teh. Berbeda dengan kopi pada umumnya yang terbuat dari biji kopi, Kawa Daun memberikan sensasi  unik, selain cita rasa yang berbeda dengan minuman yang terbuat dari biji kopi,  penyajiannya yang menggunakan batok kelapa membuat aroma minuman Kawa Daun ini menjadi khas. Bisa dikatakan Kawa Daun menempati posisi diantara kopi dan teh.

Ferdi, sang pemilik kafe ini menyatakan bahwa memang konsep kafe terinspirasi dari kebudayaan Sumatera Barat. “Saat jalan-jalan ke Padang, pertama kali dapat ide untuk membawa ini ke Medan. Karena kawa daun ini menarik, ya. Beberapa teman yang hobi ngopi, bahkan yang biasa menikmati kopi pahit ketika pertama kali menikmati kawa daun ini, sangat takjub dengan rasa kawa daun yang sangat berbeda dengan kopi, namun merasa lebih pahit daripada kopi,” terang pria berdarah Minang tersebut.

Sadar bahwa kawa daun masih memerlukan adaptasi di lidah para pecinta kopi, Ferdi terus mencoba untuk berinovasi dengan minuman tersebut. “Sampai sekarang masih terus di tes sih, kira-kira enaknya diapain, ya? Dicampurin sama apa, ya? Yah, begitulah tapi sampai saat ini masih campuran susu yang kita berani buat di daftar menu, selain yang original ya hanya pakai gula atau tidak pakai sama sekali,” jelas pria berumur 33 tahun tersebut.

Selain itu, membawa kawa daun ke Kota Medan merupakan upaya Ferdi dalam memperkenalkan minuman warisan dari Sumatera Barat tersebut sekaligus melestarikannya agar tidak terlupakan anak muda zaman sekarang. Sebagaimana sejarah yang luar biasa dibalik minuman kawa daun itu, dimana pada jaman Belanda, masyarakat Sumatera Barat dijajah dan disuruh menanam biji kopi dan tidak boleh menikmati kopinya. Sehingga para petani pada saat itu, berinisiatif untuk mengolah daun kopi agar bisa merasakan setidaknya daun dari kopi tersebut.

Bicara mengenai minuman kawa daun, tak lengkap jika tanpa ditemani cemilannya, yaitu Roti Tenong. Roti yang juga makanan khas dari Padang Panjang. Selain kedua menu andalan tersebut, Kafe Kawa Daun juga menyajikan menu lainnya seperti, varian kopi, nasi goreng, mie goreng, dan iced blended. Semua menu tersebut hanya berkisaran antara Rp.8.000,- sampai Rp.20.000.

Selain sajian menu makananya, Kafe Kawa Daun yang memanfaatkan teras ruko sederhana yang cukup lebar menyediakan beberapa tempat duduk dan meja yang nyaman. Dinding kafe dipenuhi berbagai lettering khas, sebagai seni dindingnya.

Jaringa Wi-Fi gratis dengan kecepatan yang bagus dan iringan musik juga diberikan Kawa Daun Kafe untuk memanjakan pengunjung yang datang dari berbagai kalangan. “Tempatnya asyik, ya. Buat nongkrong ataupun untuk ngerjain tugas. Soalnya wifi nya lumayan kencang juga disini,” ucap Dita salah satu pegunjung yang sedang nongkrong bersama teman-temannya.

Sampai saat ini, Warkop Kawa Daun sudah memiliki pelanggan setia yang berkunjung untuk menikmati sajiannya. Demi memikat para pecinta kopi lainnya, Kafe Kawa Daun terus berinovasi dalam sajian kopi dan menu-menu yang ditawarkan. Tetapi tidak meninggalkan budaya ngopi ala Sumatera Barat itu sendiri sebagai ciri khasnya.

(Redaktur Tulisan: Viona Matullessya)

About Media Pijar

Media Pijar: Pers Mahasiswa - Pelita Insan Terpelajar - Laboratorium Departemen Ilmu Komunikasi, Universitas Sumatera Utara, Medan.

Silahkan Lihat Artikel ini juga !

20181121_192931

Nongkrong Asyik di Monkey the Cafe

Monkey the Cafe bisa menjadi referensi tempat nongkrong di akhir pekan ini. Kafe yang satu ini memang belum resmi dibuka, masih dalam the soft opening, tetapi pengunjung tak jarang mendatangi tempat ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *