Home / Galeri / MATA HATI

MATA HATI

Source : Pinterest

Intan Sari

Tubuhku bergetar membacanya, pikiranku kalut, perasaanku seperti tersayat pisau tajam. Perih, amat perih.

“Adakah obat rindu selain temu?” tanyaku padanya sore itu

“Ada,” jawabnya lugas

“Tolong beritahu aku,” pintaku padanya

“Doa,” jawabnya singkat

Sore itu hujan rintik turun membasahi bumi seakan mengerti apa yang sedang kurasakan. Hari itu Riko mengunjungi rumahku untuk berpamitan padaku juga keluargaku sebab dia akan bekerja di negeri matahari terbit, Jepang. Itu berarti kami akan menjalani  Long Distance Relationship sekaligus menunda waktu pernikahan kami, aku sungguh tidak siap.

Aku dan Riko duduk bersebelahan, aku meneteskan air mata tanpa suara. Riko menoleh kearahku. “Liana jangan bersedih seperti itu, aku hanya pergi untuk sementara demi masa depan kita berdua, percayalah aku pasti kembali dan kita akan hidup bahagia bersama,” ujar Riko berusaha meyakinkanku

Aku masih diam dan mataku tidak dapat menahan luapan kesedihan hari itu.

***

Keesokan harinya aku bangun pukul empat pagi, mataku masih sembab akibat menangis semalaman. Aku segera mengambil air dingin dan handuk kecil untuk mengompres mataku. Riko sudah di rumahku tepat pukul tujuh pagi, kami akan berangkat ke bandara bersama.

Aku tidak kuasa menahan air mataku agar tidak jatuh ketika Riko harus pergi meninggalkan ruang tunggu bandara. Aku sungguh ingin memeluk Riko kala itu namun aku paham Riko tidak menyukai sentuhan fisik seperti itu.

Sebelum meninggalkanku di ruang tunggu Riko melepas jam tangan kesayangannya dan memberikannya padaku, “Jaga ini seperti kamu menjaga hatimu menunggu aku pulang,” ujar Riko dengan mata berkaca-kaca dan senyum yang sedikit dipaksa karena menahan kesedihan yang sama sepertiku.

***

Dua tahun berlalu, hubungan aku dan Riko masih baik seperti biasanya, tampaknya cinta kami lebih kuat daripada jarak Indonesia – Jepang. Setiap kali aku mengatakan ‘Rindu’ jawaban Riko selalu sama ‘Doa’.

“Sebenarnya bukan itu jawaban yang aku inginkan dari kamu ko, yang aku inginkan adalah kehadiranmu disini,” begitu batinku berucap.

Aku bukanlah perempuan yang taat, aku hanya mengerjakan shalat jika aku mood. Riko tahu itu dan dia berkeinginan untuk merubahku menjadi lebih baik, memang setelah kami berpacaran shalat lima waktuku jarang sekali tinggal. Riko adalah alasan utama aku mengerjakan kewajiban itu.

Sekarang Riko tidak berada di dekatku lagi maka shalatku kembali ‘bolong-bolong’ seperti biasa. Jangankan berdoa untuk shalat saja aku malas. Aku terlalu disibukkan dengan urusan duniawi dan kini tidak ada lagi yang mengingatkanku untuk shalat.  Ya, sejak Riko bekerja di Jepang kalimat seperti Kamu sudah makan belum? Lagi ngapain? Jangan lupa shalat ya. Perlahan mulai menghilang. Obrolan kami memasuki tahun ketiga Long Distance Relationship ini lebih kepada obrolan singkat mengenai kegiatan harian yang kami lakukan pun pembahasan kami tidak terlalu intens seperti dulu.

***

Suatu sore aku mengirimi Riko sebuah pesan singkat :

 

Selamat sore sayang, bagaimana hari ini? Kuharap menyenangkan  

Ohya kamu ingat hari ini hari apa? Pasti ingat dong?

 Hari ini adalah hari pesta pernikahan kita yang tertunda and I miss you so much

Cepat kembali ya  aku menunggumu, selalu.

 

Pesanku hanya di diread saja oleh Riko, “mungkin dia sedang sibuk atau sudah kelelahan” pikirku

Satu minggu sudah berlalu dan pesanku belum mendapat balasan apapun dari Riko. Aku mencoba menelponnya namun tidak diangkat. Aku masih berpikir positif mungkin proyeknya disana sedang padat sehingga dia tidak sempat mengecek ponselnya.

Aku disini menjalani hari seperti biasa namun, sekarang aku punya kebiasan baru yaitu bermain di club malam bersama teman-temanku untuk menghilangkan rasa bosanku sejak Riko tidak lagi di Indonesia dan sejak dia tidak lagi memberikanku perhatian seperti dulu.

Tujuh bulan berselang, aku mendapati pesan masuk ke ponselku :

Liana, maafkan aku tidak memberitahumu sebelumnya. Aku sangat sibuk belakangan ini, sibuk di proyek juga sibuk mempersiapkan pesta pernikahanku dengan seorang gadis muslim berkebangsaan Jepang. Kupikir aku menemukan seorang wanita yang layak kujadikan Ibu dari anak-anakku, kami akan menikah di Indonesia bulan depan. Sekali lagi maafkan aku.

Tubuhku bergetar membacanya, pikiranku kalut, perasaanku seperti tersayat pisau tajam. Perih, amat perih.

Aku membanting tubuhku ke atas tempat tidur, aku menangis sejadi-jadinya. Aku masih tidak habis pikir mengapa hubungan yang dijalani selama bertahun-tahun bisa hilang seketika tergantikan seorang wanita yang baru dikenalnya beberapa bulan saja. Ingin rasanya aku mengutuk perempuan yang telah merebut calon suamiku itu.

Aku melirik pergelangan tangan kiriku, jam tangan pemberian Riko masih melingkar disana. Kubanting jam tangan itu ke lantai. Aku marah, aku kecewa, aku merasa seperti kehilangan sesuatu dari dalam diriku.

Kuceritakan semua pada Ibu dan Ayahku. Namun satu hal yang tidak terduga, aku seperti mendapat tamparan keras untuk kedua kalinya. Ternyata Ibu dan Ayah sudah mengetahui perihal itu dan parahnya lagi mereka bilang bahwa mereka ikhlas dengan semuanya “Riko telah menemukan jodohnya nak, bersabarlah, perbaiki dirimu sayang,” ujar Ibu tenang.

Aku benci kedua orangtuaku kala itu, khususnya Ibu yang tidak mengerti bagaimana perasaanku. Ibu hanya menasihatiku untuk bersabar dan menasihatiku agar aku berdoa meminta digantikan dengan yang lebih baik kepada Allah “Dekatkan dirimu pada Allah putriku,” ibu memelukku namun kutepis pelukan itu.

“Shit! Allah lagi Allah lagi Allah terus arghhhh,” batinku berkecamuk

Saat itu tidak ada yang paham bagaimana rasanya menjadi aku, harapanku selama bertahun-tahun pupus, semua usahaku untuk terus membangun hubungan dalam penantian yang cukup panjang lenyap sudah. Benar-benar tidak ada yang mengerti aku, tidak orangtua, keluarga, bahkan teman baruku di club yang biasanya membuatku merasa happy pun tidak lagi mampu membuatku tenang.

Aku sudah setengah gila saat itu, sampai ingin melakukan hal yang sangat ekstrem yaitu bunuh diri. Aku membuka aplikasi mesin pencari di ponselku untuk melihat video bunuh diri. Alih-alih ingin bunuh diri aku malah menemukan sebuah video berdurasi  55 detik di youtube, Video berjudul Sang Pembolak-balik Hati dari seorang ustadz yang namanya asing bagiku.

Entah mengapa tiba-tiba saja aku menangis kala itu, langsung saja aku berlari ke kamar mandi, mengambil wudhu, membuka lemari, mengambil Al-Quran kemudian  membacanya.

Niat untuk bunuh diri seketika saja digantikan Allah dengan sebuah hidayah melalui video yang baru saja ku tonton. Aku seperti menemukan diriku yang baru, aku seperti terlahir kembali. Masya Allah, Allah adalah sebaik-baiknya dzat dimuka bumi ini. Allah benar-benar maha pembolak balik hati.

“Ya Allah hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada engkaulah kami memohon pertolongan” (Qs.Al-Fatihah:5)

Hari itu Allah benar-benar menolong dan menyelamatkanku dari pemikiran gilaku, mata hatiku terbuka seketika.

Alhamdulillah sekarang aku telah dikaruniai dua orang anak kembar yang lucu dari seorang laki-laki yang videonya mengubah cara pandangku kemarin. Masya Allah rencana Allah adalah sebaik-baiknya karunia.

 

About Media Pijar

Media Pijar: Pers Mahasiswa - Pelita Insan Terpelajar - Laboratorium Departemen Ilmu Komunikasi, Universitas Sumatera Utara, Medan.

Silahkan Lihat Artikel ini juga !

Ilustrasi : Nadya Anatasya

Tidak, Jangan Lagi.

Suasana di kamar ini lengang. Menyisakan aku dan sekelebat bayang-bayang tentang peristiwa menakjubkan yang baru saja terjadi. Pukul satu dini hari. Aku masih tak dapat tidur. Masih terbawa suasana beberapa jam yang lalu. Telepon genggam ku bergetar.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *