Home / Lifestyle / Pola DMS, Usaha Hilangkan Candu Pada Media Sosial

Pola DMS, Usaha Hilangkan Candu Pada Media Sosial

Sumber : Google

Star Yeshikiel Munthe & Lucky Andriansyah

PIJAR, Medan –   Berbicara seputar kebutuhan primer, Lupakan sejenak tentang makanan, lupakan sejenak tentang pakaian, lupakan sejenak tentang rumah. Melihat seputar gawai, sebuah benda yang hampir tak bisa dilepas dari tangan manusia era milenial.

Apa itu gawai? Gawai (bahasa inggris: gadget) adalah sebuah piranti atau instrumen yang memiliki tujuan dan fungsi praktis yang secara spesifik dirancang lebih canggih dibandingkan dengan teknologi yang diciptakan sebelumnya.

Berdasarkan hasil penelitian, pengguna gawai lebih dominan menggunakan program Media Sosial (Medsos) dibandingkan pilihan lain seperti Games, Musik, Fotografi, Notes. Walaupun dalam gawai semua pilihan program/aplikasi tersebut pada umumnya sudah dimasukkan, namun keistimewaan media sosial sangatlah berdampak pada penggunaan gawai.

Medsos adalah produk terbaik zaman. Bahkan, produk terbaik zaman ini hampir mampu mengalihkan perhatian manusia hampir mendekati 60% perhari. Hal ini tidak terlalu buruk sebenarnya karena banyak orang yang beralasan, medsos memudahkan. Namun, selalu ada dampak negatif yang kadang tidak kita sadari akibat media sosial.

Dampak yang sangat disayangkan terjadi kepada kaum muda milenial atau yang lebih dikenal sebagai “Kids Zaman Now.” Dilansir Repubilka, jati diri anak remaja era milenial semakin merosot akibat internet, dan lagi-lagi yang sangat memberi dampak besar adalah media sosial. Media sosial memberikan jangkauan yang amat luas, memberikan ruang untuk berekspresi dan mencari inspirasi. Kebebasan tersebut yang sering disalahgunakan. Bukti jati diri merosot ini dapat dilihat dari kemerdekaan berbicara di media sosial, namun diam layaknya tembok di dunia nyata.

Pengakuan eksistensi adalah salah satu alasan terkuat orang menggunakan media sosial. Dalam dunia media sosial, orang-orang seolah terbagi menjadi beberapa kelas. Misalnya orang-orang yang memiliki pengikut diatas 10k adalah kelas atas, 1k-10k adalah kelas menengah, dan dibawah 1k adalah kelas terendah. Kelas rendah tidak menghentikan niat mereka untuk bermobilisasi. Banyak hal yang kelihatannya aneh, gila, atau bodoh sekalipun namun dilakukan pengguna media sosial demi kata viral. Dengan viral dirinya akan membuatnya dikenal, mendapat pengakuan dan yang terpenting memperoleh pengikut lebih.

Apakah media sosial menutup akal logika kita sebagai manusia? Orang lebih memilih merekam orang yang sedang terkena musibah daripada mengambil opsi kedua, yakni membantunya. Atau yang lebih sederhana, dalam sebuah reuni 5 sahabat SMA disebuah meja kafe, satu dari mereka tidak memiliki gawai. Pada walnya perbincangan berjalan baik, namun akan tiba saatnya ketika mereka yang memiliki gawai akan memfokuskan dirinya pada layar dan seorang lain yang tidak membawa gawai hanya kesal dan menyadari bagaimana media membunuh sosial didunia nyata.

Bukan hal yang baik juga membuang gawai milikmu dan mencoba hidup seperti era teknologi belum dilahirkannya gawai atau sekedar melupakan resikonya. Ini hanya tentang bagaimana kita dapat mengontrol penggunaan. Kecanduan adalah hal yang umum. Hampir semua orang telah kecanduan media sosial, waktu luang adalah waktunya membuka gawai baginya.

“Bagaimana aku akan mampu menguasai benda yang sudah menguasaiku selama bertahun-tahun?” Sedarhana saja, sebelum memulai aktifitas, sebaiknya pikirkan dahulu seberapa penting sobat Pijar membawa gawai kedalam aktifitas sehari-hari. Sekedar matikan gawai, ketika sedang melakukan aktifitas/rutinitas ataupun sekedar berkumpul bersama orang-orang terdekat. Mengontrol gawai adalah awal menjadi manusia bijak di era milenial.

Menjauhkan diri dari media sosial bukanlah tindakan yang dapat dikatakan primitif, hal ini sudah ramai dilakukan oleh mereka yang dulu pernah dikenal sebagai pegiat media sosial. Istilah menjauhkan diri dari media sosial ini dikenal sebagai “Detox Media Sosial.” Bahkan, kebanyakan dari mereka yang mengaku melakukan Detox Media Sosial (DMS), karena mereka beranggapan media sosial memberikan dampak buruk yang lebih besar kedalam kehidupannya daripada dampak positif yang mereka peroleh.

Namun, DMS bukanlah hal yang mudah untuk direalisasikan. Butuh proses panjang dan motivasi kuat dalam diri untuk menghalau segala niat untuk kembali membuka media sosial. Oleh karena itulah para pejuang DMS menyebut Medsos adalah candu.

Apa yang dialami pecandu narkoba saat menjauhkan diri narkoba tidaklah jauh berbeda dengan apa yang dialami para pecandu media sosial. Hal yang pertama yang biasanya dilakukan para pejuang DMS kelas pemula ialah menghapus aplikasi Media Sosial. Dengan menghapus aplikasi tersebut maka akan mengurungkan sebagian besar niat untuk kembali. Pada akhirnya, mereka yang sudah mencapai kelas pro atau telah lepas dan tidak candu lagi pada Media Sosial akan kembali mendownload aplikasi Media Sosial, namun perlu diketahui hal tersebut bukan dimaksudkan untuk kembali menjadi pecandu Medsos. Melainkan, hanya untuk sosialisai seperlunya dan tidak terlalu tergantung.

Dengan motivasi yang kuat dan lahir dari diri sendiri merupakan kunci utama menghalau candu, termasuk candu pada media sosial. Gagal bukan hal aneh bagi mereka yang pernah berhasil menyembuhkan diri dari candu akan media sosial. Gagal berulang-ulang akan melahirkan motivasi yang kuat pada diri sendiri untuk berhasil.

Nah sobat Pijar, sudah tertarik belum untuk melakukan Detox Media Sosial? Jangan sampai digurui media sosial, ya sobat Pijar!

(Redaktur Tulisan: Viona Matullessya)

About Media Pijar

Media Pijar: Pers Mahasiswa - Pelita Insan Terpelajar - Laboratorium Departemen Ilmu Komunikasi, Universitas Sumatera Utara, Medan.

Silahkan Lihat Artikel ini juga !

Sumber foto: freepik.com

Budaya Hangout, Mengapa Kopi Membuat Kita Menjadi Candu?

Kebiasaan anak muda saat ini dengan gaya hidup hangout membuat para pebisnis memanfaatkan kesempatan ini dengan membuka kafe-kafe yang di fasilitasi dengan Wi-Fi gratis.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *