Home / Galeri / Sastra / Terimakasih Atas Segalanya

Terimakasih Atas Segalanya

sumber foto :Tumblr.com

Hidayat Sikumbang

Perkenalkan, ini dari kami. Kami berempat, Anindita, Echa, Dicky dan Aku, Feb. Kami bertemu dan berkumpul di kelas yang sama. Atas dasar mencintai seni musik, dan ingin membentuk sebuah band, kami membentuk ini. Deaf atau jika diartikan ke bahasa membuat orang terbahak – bahak.  Ya, jika diartikan ke bahasa nama band ini akan bernama Tuli. Deaf sendiri sudah berdiri sejak dua tahun yang lalu. Tetap menjadi seperti ini dan berharap kebersamaan band ini tak akan luntur meski pun nantinya kami akan lulus, dan melanjutkan mimpi kami masing – masing.

Subuh ini, matahari masih malu – malu menunjukkan sinarnya padahal hari sudah menunjukkan pukul enam pagi.  Mataku yang masih berat seakan memaksaku untuk berbaring lagi di tempat tidurku. Segera saja, aku mencoba beranjak dan kemudian membasuh badanku untuk mandi. Selesai mandi dan sholat subuh, aku menyalakan TV untuk mengulur waktu dan membunuh bosanku. “Jadi Feb, kira – kira kamu mau lanjut kemana nanti ? Jadi ke tempat ibu tiri kamu di Singapur ? Ya mana tau kamu mau tinggal sama ayah kamu. Ibu tidak yakin bisa, tapi ibu akan tetap berusaha membiayai kamu seberapa sanggup ibu untuk kamu, nak.” Suara ibu yang mengejutkanku. Ia kemudian duduk disebelahku sambil meletakkan segelas susu hangat di atas meja. “Ya liat nanti lah bu, aku juga belum yakin mau ke tempat papa.

“Siang, kalian di mana. Deaf mendapat tawaran konser, bisa ketemu bapak sekarang ? Bapak tunggu di Coffee Shop dekat sekolah ya.” Begitulah isi pesan broadcast yang dikirim kepala sekolahku. Langsung saja, aku bergegas mengganti baju tidur yang masih melekat di badanku. “Oke pak, otw.” Jawab ku kemudian.

Echa dan Dicky sudah sampai duluan. Astaga, dua sejoli ini selalu on time. Gumamku dalam hati. Tak lama setelah kedatanganku, Pak Nick kemudian memarkirkan motornya dan langsung menghampiri kami. “Haaa, sudah sampai kalian. Sorry lah, sorry bapak telat. Mana Anin ? Kok belum datang, katanya tadi on the way ?” “Itu BBM saya pak.” Celetuk ku yang kemudian mengundang tawa dari teman – temanku. Ketika Pak Nicky baru akan menjelaskan, Dicky memotong pembicaraan Pak Nicky, “Haaa itu dia pak baru turun dari angkot.” Dicky kemudian melambaikan tangannya ke arah Anin. Terlihat seorang gadis muda mengenakan dress merah dengan rambut dikuncir membalas lambaian Dicky. Ia kemudian menghampiri dan duduk ke arah kami. “

“Jadi gini, kalo sekolah kita mendapat tawaran manggung. Ya walaupun kita cuma band indie, otomatis tidak langsung membuat kita harus berkecil hati. Mengapa demikian, karena kita dapet tampil dengan beberapa band terkenal. Prestasi terakhir kalian menjadi acuan mengapa kita diundang. Sekali lagi, bapak ingin mengucapkan terima kasih sebesar – besarnya pada kalian.”

“Tapi Pak, bukannya jadwal pada brosur ini bentrok ama jadwal UAS kita ?” Ujar Anin, sambil melihat – lihat brosur yang dipegang Pak Nicky. “Masalah UAS gampang, kan bisa dipercepat seminggu. Lagian kan bapak belum bikin keputusan UAS untuk sekolah kita itu kapan. Cuma kabar burung aja. Belum resmi itu keputusannya.” Jawab Pak Nicky. “Gimana, tawaran ini apa kita terima aja ?”

“Jelas dong, pak. Kapan lagi kita manggung bareng artis, ya kan ?” Aku langsung ambil keputusan. “Setuju.” Sahut Echa. “Yang lain, gimana ?” Pak Nicky mengalihkan pandangan ke arah Dicky dan Anindita. Mereka mengangguk seakan memberi kode kalau mereka setuju pada keputusan kami semua.

Selamat Jalan

“Selamat Jalan. Sampai jumpa di sana. Bapak akan segera menemui kalian beberapa jam setelah urusan dengan orang dinas selesai.” Begitulah broadcast message terakhir yang dikirim oleh Pak Nicky. Konser yang akan diadakan di luar kota ini semakin memantik api semangat kami. Pak Nicky menyewa mobil beserta supirnya. Sesuai rencana, kami akan membawakan empat buah lagu, yang mana satu diantaranya akan kami nyanyikan bersama dengan Artis Ternama sekelas Kak Fay, penyanyi seriosa yang pernah menjuarai salah satu ajang pencarian bakat yang diadakan di negeri ini.

Naas bagi kami, sebuah kecelakaan hebat terjadi. Mobil yang kami kendarai mengalami kecelakaan, yang mana menyebabkan kami terpaksa dirawat di UGD. Aku hanya mengalami luka ringan, begitu juga dua temanku. Hanya Dicky, vocalis kami yang duduk di depan mengalami luka yang cukup serius. Selain luka memar, ia juga mengalami gagal ginjal. “Saudara Dicky mengalami gagal ginjal akibat dari kerusakan struktur glomerulus atau tubulus ginjal yang disebabkan benturan keras.” Begitulah penjelasan dokter kepada orang tua Dicky.  “Untuk penanganan lebih lanjut, beliau harus menemukan pendonor ginjal yang sesuai dengan golongan darahnya, Golongan darah AB+. Jika tidak ditangani segera, kondisi korban akan semakin parah”

Aku hanya bisa melihat dengan keadaan berbaring, dari tempat tidur rumah sakit ini. Air mata dari Ibu nya Dicky jatuh. Ia tak kuasa menahan tangisnya dari tadi. Tak lama, Pak Nicky masuk kedalam ruangan dan membesuk kami berempat. Ia juga telah mengetahui kabar kalau Supir yang tadi membawa kami telah tiada. “Maaf pak, ini kesalahan saya.” Dengan sedikit terisak, Pak Nicky memohon maaf kepada Orang Tua Nicky. “Tak ada yang perlu kita sesali, pak. Yang kita perlukan sekarang adalah pendonor ginjal AB+ , Saya dan Istri memiliki Golongan Darah berbeda, yaitu A dan B . Mungkin saya akan mencari terlebih dahulu, dengan istri saya. Jika saya bisa meminta pertolongan bapak. Saya ingin bapak menjaga anak – anak disini, selagi saya mencari pendonor.

“Bapak tidak usah repot mencari pendonor. Saya bersedia. Saya AB+ .” Sontak saja, wajah Ibunya Dicky yang tadinya menangis langsung terhenyak mendengar pernyataan Pak Nicky. “Tapi pak, bapak tidak bisa melakukan ini.” Sahut Ibu Dicky. “Benar, pak. Bapak adalah seorang kepala sekolahnya anak – anak kami.”

“Tidak apa – apa bu, pak. Ini sudah tanggung jawab saya. Saya yang menerim tawaran konser ini. Dicky harus segera ditangani.” “Saya akan menghubungi dokter, mungkin bapak bisa menemani saya untuk mengurus administrasinya.” Sambung Pak Nicky seraya mengajak Ayahnya Dicky. “Baiklah pak, jika bapak memaksa.” Ucap Ayahnya Dicky sambil memandang ke arah istrinya. Mereka beranjak menuju keluar ruangan. Tak lama kemudian aku melihat beberapa temanku seperti Anin dan Echa juga sudah mulai siuman.

Tepat pukul 9 pagi, donor ginjal pun berlangsung. Kami semua berharap semua berjalan maksimal. Echa seakan tak percaya kalau pendonor untuk pacarnya adalah kepala sekolah nya sendiri. “Tenang lah, Cha. Kita hanya bisa berdoa untuk keselamatan mereka berdua. Beberapa  jam kemudian, dokter yang menangani Dicky pun keluar ruangan.

“Bagaimana keadaan, anak saya dok ?”  “Iya dok, bagaimana keadaan Dicky ? “Sahut Echa, lagi.

“Operasi berjalan lancar, namun saya membawa kabar buruk, Kondisi Bapak Nicky kian memburuk setelah pengangkatan Ginjalnya, ia tak kunjung siuman dan detak jantungnya melemah. Ia baru saja menghembuskan nafas terakhirnya beberapa menit yang lalu. Sebelum operasi berlangsung, beliau menitipkan surat yang saya taruh di dalam laci. Hanya itu yang bisa saya sampaikan, saya tinggal dulu. “

Sontak saja, tangis menjadi pecah di ruang tunggu ini. Echa yang dari tadi sudah cemas, langsung masuk ke Ruangan Pak Nicky. Ia membuka laci dan membaca surat dengan sekeras – kerasnya.

Untuk Anak Didikku.

 

Maaf, bapak terpaksa melakukan operasi ini atas dasar tanggung jawab sebagai pengajar kalian.

Bapaklah, yang mengajukan tawaran ke panitia penyelenggara dan bapak hanya berpura – pura kalau kita diundang.

Bapaklah, yang mencetak dan mendesain sendiri brosur itu. Kebetulan, panitia acara itu adalah kerabat bapak, yang sama – sama pernah menjadi musisi.

Kalau kalian pernah mendengar seorang N.Firmansyah, seorang musisi yang hilang nama di masa tenarnya, itu bapak. Inisial N itu sebenarnya adalah Nicky.

Terima kasih, karena telah menjadi murid yang baik. Terima kasih, karena Deaf Band sekolah kita menjadi tenar dan bisa menjadi seperti ini karena kalian.

 

Belajarlah yang baik, manfaatkan waktu dan jika masih ingin menjadi musisi jauhi narkoba.

Bapak mungkin tidak bisa melanjutkan hidup tanpa ginjal, karena bapak telah mendonorkan ginjal bapak yang satunya ke istri bapak.

Namun, ajal tak bisa dihindari, meski telah hidup selama beberapa bulan, istri dan anak bapak meninggal ketika hendak mengantar anak tunggal bapak ke sekolah.

Kejar mimpi kalian, Anak – Anakku.

Orang Tua Echa yang baru sampai berusaha menenangkan putrinya. Begitu juga dan Ibuku. Kami menangisi kepergian kepala sekolah kami. Di satu sisi, kami bersyukur karena mendengar kabar kalau Dicky sudah mulai siuman.

About Media Pijar

Media Pijar: Pers Mahasiswa - Pelita Insan Terpelajar - Laboratorium Departemen Ilmu Komunikasi, Universitas Sumatera Utara, Medan.

Silahkan Lihat Artikel ini juga !

Fotografer : Dita Andriani

Teruntuk ibu

Dita Andriani   Pada siang hari, di mana kau selalu tersenyum memberi asi Acap kali …

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *