Home / Galeri / AKHIR DARI PENANTIAN

AKHIR DARI PENANTIAN

Sumber gambar: inspirasibundamagz

Savira Dina

 

Mei, 2003

Seorang gadis kecil berumur sekitar 4 tahun tengah menangis di bawah reruntuhan rumah yang telah rata dengan tanah akibat gempa bumi yang terjadi di desa mereka. Tidak diketahui pasti dimana kedua orang tua gadis ini. Hanyalah terlihat beberapa orang relawan yang membawa gadis ini ke posko dan pada saat itu pula seorang lelaki muda muncul.

“Adik cantik dimana ibu dan ayahmu?” tanya sang lelaki.

Tetapi sang gadis kecil hanya menangis.

10 tahun kemudian…..

“Non bangun, Tuan dan Nyonya udah nunggu dibawah non,” ucap seorang perempuan paruh baya.

“Iya bi, Bunga mau mandi dulu abis itu baru turun,” jawab Bunga singkat.

Bunga adalah gadis kecil yang 10 tahun lalu menjadi korban bencana alam namun nama aslinya ialah Melati. Kini ia telah menjadi anak angkat dari seorang konglomerat bernama bapak Wijaya. Bunga memang mengetahui bahwa dirinya adalah seorang anak angkat, karena papa angkatnya pernah bercerita bahwa Bunga ditemukan di posko bencana alam. Alasan mengapa papa dan mama angkatnya mengadopsi Bunga karena mereka mengatakan bahwa orang tua Bunga telah meninggal. Bunga memang mempercayai hal tersebut karena papa dan mama angkatnya adalah orang baik, jadi mereka tidak mungkin berbohong kepada Bunga. Ia pun tidak pernah menanyakan kepada orang tua angkatnya mengapa namanya diganti menjadi Bunga.

 Terdengar suara kaki yang tengah menuruni tangga sambil setengah berlari.

“Pagi papa, pagi mama,” kata Bunga dengan wajah gembira.

“Pagi sayang,” jawab kedua orang tua ini serempak.

“Kok kayaknya hari ini kamu senang banget nih?” tanya sang mama kepada Bunga.

“Iya nih ma, bunga hari ini mau tampil di teater sekolah. Mama sama papa harus datang ya lihat Bunga!!” sahut bunga.

“Papa dan mama pasti datang kok sayang,” jawab papanya.

Pertunjukan akan segera dimulai tapi kedua orang tua Bunga belum juga menampakkan batang hidung mereka. Hingga pertunjukan selesai pun Bunga tidak juga melihat kehadiran kedua orang tuanya itu.

”Non, tuan dan nyonya mengalami kecelakaan saat hendak datang ke sekolah non,”ucap seseorang di seberang sana melalui handphone.

Sontak hal tersebut membuat hati Bunga seperti tersayat pisau yang begitu tajam. Tanpa berpikir panjang Bunga pun langsung menyetop taxi dan langsung pulang menuju rumah dengan pikiran yang amat sangat kacau. Ketika sampai dirumah ia hanya mendapati dua tubuh yang terbujur kaku di balut kain panjang yang menutup sekujur tubuh kedua orang itu. Kedua orang itu adalah Papa dan Mama Bunga. Seperti kehilangan arah, Bunga berjalan tergontai-gontai menuju kedua orang itu. Dengan mata yang penuh air mata ia tak henti-henti memanggil kedua orang yang sangat ia cintai itu.

 “Dasar pembunuh, kau yang telah menyebabkan adikku menjadi seperti ini,” ucap seseorang dari belakang yang memukul Bunga dengan penuh amarah.

“Apa salah Bunga?” ucap Bunga masih dengan suara yang tersedu-sedu.

“Pergi kau dasar pembunuh,”  sambil menyeret Bunga keluar dari rumah megahnya itu.

Seperti orang yang kehilangan arah, Bunga terus berjalan tanpa tau ia akan kemana. Tiba-tiba kakinya terhenti di sebuah panti asuhan yang bisa dibilang sangat sederhana. Bunga pun masuk dan mencari pemilik panti asuhan tersebut. Ia menceritakan semua yang terjadi sehingga ia bisa menjadi seperti sekarang ini, dengan hati yang ikhlas sang pemilik panti asuhan tersebut pun membiarkan Bunga tinggal disana.

Bunga menjalani hari-harinya di panti tersebut dengan hati yang ikhlas meskipun ia sudah tidak bersekolah di sekolahnya dulu, melainkan di sekolah yang terdapat di panti tersebut. Meskipun begitu tetap saja kenangan-kenangan indah ia bersama kedua orang tua angkatnya tersebut tidak bisa hilang dari ingatan gadis yang kini berusia 14 tahun itu.

”Bungaaaaa!!!!!” panggil Bunda Uci yang merupakan sang pemilik panti itu.

“Iya, Bunda,” sahut Bunga.

Bunda Uci memanggil Bunga karena ada yang ingin bertemu dengan Bunga. Ia adalah Pak Hadi seseorang yang ingin mengadopsi Bunga. Karena melihat Pak Hadi yang memiliki wajah yang ramah Bunga pun bersedia diadopsi Pak Hadi.

Tapi bak pepatah serigala berbulu domba itulah yang dialami oleh Bunga. Berharap mendapat kasih sayang, ia malah menjadi seorang pekerja dirumah majikan yang memiliki sifat yang tidak terpuji.

Bunga setiap harinya hanya diberi makan sekali sehari dan harus tidur di loteng tempat sarangnya tikus-tikus. Tapi walaupun begitu Bunga tetap bersyukur dan tidak pernah sekalipun ia meninggalkan kewajibannya yaitu Shalat. Karena menurutnya segala yang ia hadapi ini merupakan cobaan dari Allah SWT. Bunga merasa dengan ia Shalat hatinya lebih terasa sejuk dan seakan beban itu sirna. Tiap harinya Bunga selalu melakukan pekerjaan yang menguras energi karena jika ia tidak melakukan pekerjaan tersebut ia akan dipukul oleh Pak Hadi sang majikan.

Ketika hendak membeli sayuran di pasar, Bunga menyebrang tanpa melihat di kirinya ada sebuah mobil yang sedang melaju kencang dan Brukkk……

Bunga tertabrak dan mengeluarkan banyak darah kental segar dari kepalanya.

Akhirnya sang penabrak pun turun dari mobil dan meminta bantuan warga untuk membawa Bunga ke Rumah Sakit terdekat dengan menggunakan mobilnya. Bunga pun masuk ruang UGD. Karena banyak mengeluarkan darah, Bunga pun harus menerima tambahan darah.

Sang penabrak pun berusaha mencoba menghubungi keluarga Bunga menurut informasi yang diberikan warga. Ketika sang penabrak menghubungi keluarga Bunga, seolah-olah keluarganya itu acuh tak acuh.  Sang penabrak pun dibuat penasaran akan sikap keluarga Bunga tersebut. Sang penabrak tersebut pun mencari informasi melalui seorang warga yang tadi ikut membantunya membawa Bunga ke Rumah Sakit.

Seorang warga tersebut pun bercerita bahwa Bunga adalah anak angkat yang diadopsi dari panti asuhan yang tidak jauh dari pasar tadi. Ketika warga dan sang penabrak sedang bercerita, dokter yang baru keluar dari ruang UGD mengatakan bahwa Bunga harus segera mendapatkan darah yang bergolongan O. Mendengar hal tersebut pun sang penabrak segera bersedia mendonorkan darahnya karena ia juga memiliki golongan darah O.

Setelah ia selesai mendonorkan darahnya, sang penabrak itu pun langsung pergi ke panti asuhan yang dimaksud warga tadi.

Sesampainya di panti asuhan tersebut, sang penabrak itu pun langsung bertemu dengan Bunda Uci untuk mencari informasi yang sangat ia butuhkan. Karena sang penabrak itu merasa ada ikatan batin antara ia dan Bunga. Setelah mendapat informasi dari Bunda Uci, sang penabrak pun langsung menghubungi suaminya untuk melakukan tes DNA tanpa sepengetahuan Bunga.

3 hari kemudian……

Bunga pun sadar dan merasa kebingunggan karena mendapati dirinya tengah berada di Rumah Sakit. Ketika ia membuka matanya ia melihat sepasang suami istri yang melihatnya dengan tatapan lembut, seketika hatinya merasa tentram melihat tatapan tersebut. Ternyata wanita yang ada dihadapannya ini adalah orang yang menabraknya beberapa waktu yang lalu.

Bunga pun mencoba untuk bangun walaupun badannya masih lemah.

“Tenang nak, badanmu masih lemah kamu masih harus istirahat,” kata sang penabrak.

“Tapi Bunga masih banyak kerjaan dirumah, kalau Bunga tidak menyiapkan tugas tersebut Bunga pasti akan di hukum lagi,” ucap Bunga dengan suara lemah.

Mendengar perkataan Bunga tersebut, sang penabrak yang sebenarnya adalah Ibu Kandung Bunga pun tidak tega dan langsung memeluk Bunga dengan penuh kasih sayang.

“Anakku, maafkan Bunda,” sambil menangis tersedu-sedu.

“Anakku?” tanya Bunga dengan penuh rasa penasaran.

Akhirnya sang penabrak yang sebenarnya adalah Bunda dari Bunga pun bercerita selama 10 tahun ini ia terus mencari anaknya yang hilang. Karena ia memiliki pekerjaan di luar kota, mau tidak mau ia dan suaminya harus pindah ke luar kota dan meminta bantuan orang yang mereka kenal untuk mencari informasi tentang keberadaan Melati, sudah banyak biaya yang mereka keluarkan namun tidak membuahkan hasil. Tetapi sebagai seorang Ibu, nalurinya berkata bahwa anaknya masih hidup dan ia selalu berdoa kepada Allah SWT tanpa mengenal kata putus asa, agar anaknya selalu dalam perlindungan Allah SWT dan akhirnya doa dan pencariannya pun terjawab, 3 hari yang lalu ketika ia hendak ke posko bencana itu lagi ia malah menabrak orang yang selama 10 tahun ia dan suaminya cari.

Mendengar penjelasan serta bukti hasil tes DNA tersebut, Bunga pun langsung menangis dipelukan kedua orang tua kandungnya itu.

“Ternyata selama ini Allah telah menyiapkan jawaban atas segala doa-doa kami,” ucap sang ayah.

About Media Pijar

Media Pijar: Pers Mahasiswa - Pelita Insan Terpelajar - Laboratorium Departemen Ilmu Komunikasi, Universitas Sumatera Utara, Medan.

Silahkan Lihat Artikel ini juga !

Foto Oleh : Putri Arum Marzura

Gelisaku

Saat malam mulai sunyi Hati merasa terlalu sepi Tak ada satupun yang bisa menemaniku Suara itu!

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *