Home / Lifestyle / Sketsa Awal Bendera Pusaka
Foto: Hidtori.id
Foto: Hidtori.id

Sketsa Awal Bendera Pusaka

Nadya Htg

 

“Berkibarlah benderaku, lambang suci gagah perwira. Di seluruh rakyat Indonesia, kau tetap pujaan bangsa.”

Pijar, Medan. Kisah ini berawal dari Fatmawati, Ibu Negara Indonesia pertama pada tahun 1945 hingga 1967. Suatu hari, pada tahun 1944, tatkala kandungannya berusia sembilan bulan, datang seorang perwira Jepang membawa kain dua blok. Disampaikan oleh Fatmawati dalam bukunya Catatan Kecil Bersama Bung Karno, Volume 1, yang terbit tahun 1978, dirinya mendapat kain dua blok berwarna merah dan putih dari Hitoshi Shimizu, pimpinan barisan Propaganda Jepang lewat pemuda bernama Chairul Basri.

Pemberian kain sebagai bahan bendera itu berkenaan dengan pengumuman Perdana Menteri Koiso pada 7 September 1944 bahwa Jepang berjanji akan memberikan kemerdekaan kepada Indonesia. Kain itu oleh Fatmawati kemudian dijahit menjadi sebuah bendera berukuran 2×3 meter, bak ramalan yang tepat sasaran ketika melihat Kemerdekaan Indonesia sudah dekat.

Bendera merah putih pertama kali dikibarkan setelah Soekarno membacakan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia di Jalan Pengangsaan Timur 56, Jakarta. Semenjak pagi yang bersejarah itu, Bendera itu terus dikibarkan di setiap peringatan Kemerdekaan Republik Indonesia sampai tahun 1968. Seterusnya Hari Kemerdekaan RI se­nan­tiasa diperingati setiap 17 Agustus, dengan digelarnya Upacara Pe­ngibaran dan Penurunan Bendera Merah Putih.

Setelah tahun 1968, Bendera yang dikibarkan di Istana saat Kemerdekaan RI adalah bendera duplikat yang terbuat dari sutra. Bendera pusaka yang asli diikutsertakan di acara itu namun hanya diletakan di dalam kotak penyimpanan.Ide pembuatan duplikat ini karena bendera pusaka saat itu telah lapuk. Duplikasi pertama dikibarkan pada tahun 1969. Setelah tiga puluh empat tahun, Bendera duplikasi pertama dipensiunkan, selanjutnya pada tahun 1985 bendera duplikasi kedua dikibarkan hingga tahun 2014. Ketika itu tahun 1995, duplikasi Bendera Merah Putih ketiga sudah dibuat, namun saat itu tidak dikibarkan dan hanya disimpan saja. Bendera duplikasi ketiga itu akhirnya mulai berkibar di upacara peringatan 17 Agustus 2015 lalu.

Sebagai sebuah lambang negara, penggunaan Bendera Merah Putih sendiri diatur oleh UU Nomor 24 Tahun 2009 tentang Bendera, Bahasa, dan Lambang Negara, serta Lagu Kebangsaan. Berdasarkan regulasi ini, bendera merupakan sarana pemersatu, identitas, dan wujud eksistensi bangsa yang menjadi simbol kedaulatan dan kehormatan negara.

Sang Konseptor

Setiap 17 Agustus, upacara peringatan detik-detik proklamasi senantiasa disemarakkan oleh riuh rendah derap langkah Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka). Lewat  sikap kokoh nan  formasi yang akurasi, Pasukan yang dimegahkan sebagai putra-putri terbaik bangsa ini berbaris memandu sang merah putih. Pakaian serba putih dengan variasi merah membalut tubuh mereka. Lantas, bagaimana cikal bakal munculnya pasukan ini?

Husein Mutahar, kala itu menjabat sebagai ajudan  pertama Sukarno, saat ibukota Republik Indonesia dipindahkan ke Jogjakarta. Menyambut peringatan proklamasi Republik Indonesia yang pertama, Husein Mutahar dipanggil sang proklamator untuk penyusun dan mempersiapkan upacara pengibaran bendera. Pengibaran bendera merah putih pada 17 Agustus 1946, akhirnya dieksekusi oleh lima orang pemuda yang berasal dari Jogjakarta.  Pelaksanaan demikian, seperti yang dipaparkan sejarawan Asvi Warman Adam, kemudian berlangsung hingga tahun 1949.

Selanjutnya saat kursi presiden sudah dijabat oleh Suharto. Suharto meminta Mutahar untuk menyusun tata cara pengibaran bendera pusaka Mutahar segera menghubungi salah satu orang kepercayaannya, yakni Idik Sulaeman yang saat itu mengampu posisi sebagai Kepala Dinas Pengembangan dan Latihan di Depdikbud. Pria paruh baya ini memang cukup berbakat, lulusan seni rupa dari Institut Teknologi Bandung. Bersama Idik, Mutahar merumuskan konsep tentang segala hal terkait rencana penyempurnaan pasukan pengibar bendera seperti yang dikehendaki oleh Soeharto. Berkat ide cemerlang Idik, maka dihasilkan rumusan untuk susunan pasukan pengibar bendera.

Idik pun memaparkan konsepnya, pasukan pengibar bendera pusaka akan dibagi menjadi 3 kelompok yang namanya diambil dari penanggalan hari kemerdekaan RI yaitu tanggal 17, bulan 8, dan tahun 45. Kelompok 17 ditugaskan sebagai pengiring atau pemandu, Kelompok 8 sebagai kelompok inti yang membawa bendera pusaka, dan Kelompok 45 sebagai pengawal.

Akhirnya, terbentuklah pasukan pengibar bendera pusaka dengan nama Pasukan Pengerek Bendera Pusaka. Saat itu, para pengerek bendera pusaka masih diambil dari Pasukan Pengawal Presiden (Paswalpres). Setahun kemudian, sebagian petugas pengibar bendera pusaka diambil dari perwakilan pemuda dari utusan provinsi.

Idik merasa nama Pasukan Pengerek Bendera Pusaka masih kurang pas. Ia pun berpikir keras, merumuskan nama apa yang kira-kira paling tepat. Akhirnya, pada 1973, Idik mengemukakan hasil pemikirannya. Ia mengusulkan nama baru, yaitu Paskibraka yang merupakan kepanjangan dari PASuKan PengIBar, BendeRA PusaKA. Selain mencetuskan nama Paskibraka, Idik juga merancang semua perlengkapan yang wajib dipakai oleh para petugasnya, dari seragam, lambang korps, lambang anggota, lencana tanda pengukuhan, dan kendit kecakapan. Ia pun turun langsung dalam penggemblengan para anggota Paskibraka hingga tahun 1979.

About Media Pijar

Media Pijar: Pers Mahasiswa - Pelita Insan Terpelajar - Laboratorium Departemen Ilmu Komunikasi, Universitas Sumatera Utara, Medan.

Silahkan Lihat Artikel ini juga !

Sumber gambar : Sumber: muslimarket.com

Bulan Puasa Bukan Alasan Untuk Tidak Berolahraga

Olahraga di bulan puasa akan memberikan manfaat yang besar bagi tubuh anda, seperti hilangnya rasa malas dan mengantuk, detoksifikasi tubuh akan tetap lancar hingga dapat membantu kita untuk menurunkan berat badan.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *