Home / Hiburan / Buku / The Silent Wife, Kemarahan Wanita Lebih Bahaya Dari Segalanya

The Silent Wife, Kemarahan Wanita Lebih Bahaya Dari Segalanya

sumber : google

Nadya Divariz Bhayitta Syam / Fatin Faiza Siregar

“… namun diam juga adalah senjatanya. Seorang wanita yang menolak untuk memihak. Yang tidak berteriak dan membentak – ada kekuatan di dalamnya, dan kekuasaan.”

Pijar, Medan.  Buku ini dibuka dengan unik. Bab pertama yang seharusnya menjadi awal dari semua cerita malah mengandung paragraf yang menceritakan tentang bagaimana nantinya kisah dalam novel ini akan berakhir. A.S.A Harrison menyajikan sebuah novel bergenre thriller psikologis yang merupakan novel non fiksi pertama sekaligus terakhir sebelum ia meninggal akibat kanker di usianya yang ke 65.

The Silent Wife bercerita tentang Jodi Brett dan Todd Gilbert, pasangan yang hidup bersama tanpa status yang pasti namun memiliki kehidupan seperti pernikahan selama 20 tahun. Jodi adalah seorang psikoterapis yang hidupnya berorientasi pada hari ini. Hidupnya tertata, mapan dan sempurna. Todd Gilbert adalah seorang kontraktor yang jatuh cinta pada setiap wanita yang ditemuinya.

Awalnya membunuh hanyalah salah satu dari sekian banyak kosakata yang dipelajari Jodi dan tersimpan rapi jauh di sudut otaknya tanpa pernah diperhatikan. Hidup Jodi aman dan tentram meski dia tau – dengan pasti – apa yang pasangannya lakukan di belakang. Ketika Todd mengatakan bahwa dia akan pergi memancing, Jodi tau bahwa Todd sedang membohonginya. Ketika Todd tercium seperti aroma wanita lain, Jodi mengabaikannya. Karena bagi Jodi semua akan baik-baik saja selama dia berpura-pura tidak mengetahuinya.

Todd ingin agar mereka memperjelas hubungan ini sedangkan Jodi merasa bahwa hubungan tanpa status seperti ini sudah lebih dari cukup untuk mereka berdua jalani. Baginya semua berjalan sesuai rencana, mereka berdua saling mencintai dan ikatan suci bernama pernikahan hanyalah acara memamerkan hubungan yang tidak penting. Namun, tidak saat Natasha hadir. Berselingkuh adalah insting alami Todd.

Menurutnya, mencintai dua wanita sekaligus tidak berarti cintanya pada wanita pertama akan berkurang. Itu adalah alibi atau setidaknya penyangkalan dalam dirinya untuk menghadapi kenyataan bahwa hubungannya dengan Jodi benar-benar membosankan. Jodi adalah orang yang teratur dan dibesarkan dalam hidup yang sedemikian rupa, berbeda dengan hidup Tod yang kasar dan buas. Natasha adalah ‘tantangan’ yang tepat untuknya. Setidaknya begitu sebelum gadis manis anak dari sahabat karibnya itu merengek ingin dinikahi.

Natasha ingin dianggap. Dia tau bahwa Jodi mengabaikannya seakan dia bukanlah si pihak penghancur hubungan mereka. Natasha ingin agar seluruh dunia tau tentang hubungannya, Natasha ingin Jodi sadar tentang hubungannya dengan Todd dan Natasha berhasil. Jodi membenci ketika hal yang telah susah payah dia abaikan malah muncul tepat di depannya dan menamparnya dengan telak. Semua hal yang telah dibangunnya dengan kepura-puraan hancur berantakan dan Jodi tidak menyukainya.

Walaupun akhir dari buku ini sudah diceritakan pada bab pertama, hal tersebut tidak berpengaruh karena Harrison menceritakannya dengan perlahan. Dia membangun setiap cerita dengan alur yang cukup lambat untuk sebuah novel thriller. Harrison menggambarkan setiap kepura-puraan Jodi atas perselingkuhan Todd dan bagaimana Todd berusaha untuk menyangkal kebenaran dengan sangat baik.

Ketika Todd sadar bahwa dia tidak bisa terus lari dari kenyataan yang mengejarnya, Jodi telah menemukan suaranya. Mungkin Todd tidak akan pernah tau bahwa hari ketika dia memutuskan untuk berbicara dari hati ke hati dengan Jodi adalah hari dimana kematiannya telah ditentukan.

Karena wanita yang marah itu lebih berbahaya daripada apapun. Bagaimana wujud kemarahan Jodi yang ‘berbahaya’ itu? Sobat Pijar penggemar thriller wajib membaca buku satu ini agar tidak dihantui penasaran. Selamat membaca!

(Redaktur Tulisan: Nadia Lumongga Nasution)

About Media Pijar

Media Pijar: Pers Mahasiswa - Pelita Insan Terpelajar - Laboratorium Departemen Ilmu Komunikasi, Universitas Sumatera Utara, Medan.

Silahkan Lihat Artikel ini juga !

Sumber foto:  fontsinuse.com/uses/15407/hidden-figures-movie-poster-1

Hidden Figures, Kisah Perjuangan Perempuan Minoritas

Pijar, Medan. Tidak seperti sekarang, di masa yang lampau antara ras kulit hitam dengan ras kulit putih mendapat perlakuan yang berbeda. Ras kulit hitam dianggap sebagai kelas yang rendah dibandingkan dengan ras kulit putih. Hal ini lah yang menjadi topik utama cerita film Hidden Figures yang dirilis pada tahun 2016 oleh 20th Century Fox.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *