Home / Lifestyle / Antara Vegetarian, Vegan, dan Kasih Sayang pada Hewan

Antara Vegetarian, Vegan, dan Kasih Sayang pada Hewan

Sumber gambar : Flickr.com

Star Yeheskiel Munthe

 “Hewan hidup disini bersama kita, bukan untuk kita.”

PIJAR, Medan. Sungguh hal yang umum mempertanyakan tujuan dari keberadaan manusia di bumi ini. Juga bukan hal yang aneh jika mempertanyakan kekuasaan manusia akan makhluk hidup lain. Akan tetapi pernahkah kamu melihat secara langsung, mata dari hewan yang akan disembelih itu adalah perasaan, air mata, dan isyarat meminta ampun. Demikianlah salah satu pengebrak gaya hidup nan kontroversial.

Vegan, gaya hidup yang mungkin bisa kategorikan luar biasa aneh. Karena gaya hidup yang satu ini akan mengharuskan peneladannya, mengeliminasi segala jenis daging dari dunia konsumsinya, dan hanya memakan sumber daya nabati.

Sungguh garis keras yang memberontak pada peradaban. Memangsa sumber daya hewani secara selektif adalah kebudayaan yang sudah membaja bagi kaum yang menganggap dirinya adalah penguasa dari si planet biru, bumi. Juga bukan hal yang etis jika kita memandang vegan sebagai disiplin pada tubuh demi tujuan diet.

Vegan terlalu mahal untuk dikaitkan dengan diet semata. Vegan adalah keputusan untuk mengeliminasi unsur hewani dari sub-konsumsinya, karena beberapa alasan yang pada umumnya berkaitan dengan hati nurani. Lalu, diet yang mengeliminasi daging disebut apa? Apabila pengeliminasian tersebut bersifat sementara, ia akan disebut vegetarian.

Vegan dan vegetarian, sebungkus konteks dengan isi dan tujuan yang berbeda. Menjadi vegetarian mungkin tidak terlalu sulit, apalagi ada motivasi kuat seperti mengecilkan perut. Sedangkan adalah hal yang sepele apabila meremehkan vegan, apalagi mengatakannya bodoh. Mereka yang menjadi vegan, sejatinya ialah orang yang kuat jasmani dan rohani. Akan ada bayang-bayang daging yang hadir dalam bayang-bayang mereka yang masih menjadi pemula dalam gaya hidup yang satu ini. Namun, ketika sudah terbiasa, hal tersebut akan meberi dampak besar.

Secara pragmatis, vegan adalah suatu yang benar dalam wujud mencintai bumi dan isinya. Selama ini kita mengenal kanibalisme sebagai hal yang keji karena bukanlah hal yang etis menurut kita untuk memakan sesama. Namun, kenapa kita menganggap memakan sesama adalah hal yang tidak etis? Karena secara tidak langsung, kita mampu melihat kesakitan itu melalui mata dan teriakan.

Apakah binatang itu tidak merasakan sakit? Peneliti mengatakan mereka tidak punya akal. Akan tetapi tidak ada yang mengatakan mereka tidak punya perasaan dan jiwa. Sebagai bukti, tak jarang kita temui terjalinnya relasi persahabatan antara manusia dan binatang.

“Sakit, sedih, hingga cinta bisa dirasakan oleh binatang. Mereka disini juga sebagai penghuni, bukan pemenuh nafsu makan.”

Bumi terus berputar, manusia kian bertambah banyak, dan produksi pangan masih berjalan di tempat. Masalah ledakan populasi ini pada akhirnya yang akan membuat putaran bumi menjadi rotasi peradaban. Keterbatasan pangan dan membludaknya konsumen akan memicu perang pangan dan lahan. Lebih dari itu, kanibalisme sebagai pemenuh nafsu makan juga pada akhirnya tak akan terelakkan.

Vegan hadir sebagai penggebrak budaya. Terlepas dari perut, akal dan nurani harus jelas terlibat untuk mejadi seorang vegan. Menjadi seorang vegan secara tak langsung adalah wujud kampanye cinta bumi. Karena dengan mengeliminasi sekian banyak daging dalam kehidupan sehari-hari akan menolong bumi itu pula.

“Ketika kepasar tradisional, saya sangat menghindari titik rumah potong hewan. Karena saya merasa sangat perih melihat bagaimana mereka disembelih. Lalu saat melihat orang lain mengkonsumsi daging dan sebagainya, saya turut merasa sedih,” ujar Jasmine, Mahasiswi Ilmu Komunikasi USU yang mengaku sudah mejadi vegan sejak 2016 silam.

Hal yang luar biasa keji apabila mereka yang mampu merasakan rasa sakit dari hewan yang disembelih melihat orang lain dengan senyum mengkonsumsi daging. Tentu suatu hal apabila sudut pandang tersebut dialihkan kepada mereka yang sudah biasa dengan daging. Akan tetapi kebiasaan baik kah mengabaikan perasaan makhluk lain? Mungkin sudah jutaan kutukan yang diteriakkan para binatang kepada manusia atas tindakan tersebut.

Sudah terlalu kuno untuk meneladani istilah, memakan atau dimakan. Sebaiknya hadir istilah, memakan butuh keteladanan.”

Lantas bagaimana dengan binatang yang saling memangsa satu sama lain? mungkin di sinilah kita mampu menemukan taraf dari insting dan akal. Insting umumnya berkaitan dengan berburu dan bersembunyi. Akal lebih dari itu. Ia bisa merasakan, bahkan menjiwai.

Apabila manusia berhenti mengonsumsi daging, dari mana ia akan memenuhi zat penting yang dibutuhkan tubuh seperti karbohidrat, lemak, protein? Jasmine menjawab bahwa sejatinya zat-zat tersebut bisa ditemukan dari berbagai macam tumbuhan.

“Saya tidak terlalu berharap orang-orang akan menjadi vegan. Tapi, saya berharap mereka semakin peka dengan apa yang ia konsumsi,” tandas Jasmine.

(Redaktur Tulisan : Hidayat Sikumbang)

About Media Pijar

Media Pijar: Pers Mahasiswa - Pelita Insan Terpelajar - Laboratorium Departemen Ilmu Komunikasi, Universitas Sumatera Utara, Medan.

Silahkan Lihat Artikel ini juga !

http://greenmommyshop.com/product/sedotan-stainless/

SEDOTAN STAINLESS STEEL SI RAMAH LINGKUNGAN

Penelitian di Amerika Serikat menunjukkan bahwa penggunaan produk plastik sebagai wadah atau alat makan maupun minum bisa berbahaya. Hal tersebut sudah jelas karena BPA yang terkandung dalam plastik bisa luntur dan mengontaminasi makanan kita.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *