Home / Ruang Informasi / DESA DOKAN, PINTU PENJAGA KEBUDAYAAN

DESA DOKAN, PINTU PENJAGA KEBUDAYAAN

Sumber: Gapura News

Star Yeheskiel Munthe

Pijar,  Medan. Mereka menyebutnya Desa Budaya Dokan. Dunia yang masih jernih akan kebudayaan. Desa Dokan terletak di Kecamatan Merek, Kabupaten Karo, Sumatera Utara. Letaknya cukup strategis, yakni di antara Berastagi dan Danau Toba, desa ini tidak akan memberi rasa sesal bagi para pengunjungnya.

Dokan bukanlah sekadar desa. Lebih dari itu, Dokan adalah salah satu dari tiga desa yang merupakan simbol sejarah dan kebudayaan suku Karo. Desa lainnya adalah Desa Lingga dan Desa Peceren.

Terdapat Rumah adat Siwaluh Jabu yang menjadi simbol bagi desa budaya yang satu ini. Siwaluh Jabu artinya Delapan Rumah. Ada filosofi tersendiri yang dipercaya oleh masyarakat Karo hingga rumah adat ini disebut sebagai Siwaluh Jabu.

Dalam rumah adat Siwaluh Jabu terdapat delapan bagian rumah yang diisi oleh delapan kepala keluarga. Kedelapan bagian rumah tersebut diartikan sebagai ketenteraman dalam satu keluarga besar. Rumah adat Siwaluh Jabu yang terdapat di Desa Dokan disebut telah berusia ratusan tahun. Usia ini menyiratkan kekayaan adat masyarakat setempat.

Hal unik lain pada rumah adat Siwaluh Jabu ialah bahan bangunan yang digunakan untuk mendirikan rumah ini. Bahannya terbuat langsung dari sumber alam, seperti; bambu, kayu bulat, ijuk, dan tanpa menggunakan paku ataupun kawat untuk mengeratkan ikatan antar bahan bangunan lain. Rumah tradisional yang satu ini juga dikerjakan oleh tenaga arsitektur zaman dahulu.

Sumber: National Geographic
Sumber: National Geographic

Rumah adat ini pada umumnya dilengkapi empat dapur, dua di kanan dan dua di kiri. Masing-masing dapur memiliki dua tungku yang bisa digunakan oleh delapan keluarga. Peletakan tungku tersebut merupakan simbol dari masyarakat Karo yang tenteram. Setiap tungku di masing-masing dapur memiliki lima batu yang mengartikan bahwa dalam suku Karo terdapat 5 marga, yakni; Ginting, Sembiring, Karo-karo, Perangin-angin, dan Tarigan.

Pada kedua ujung atap pada rumah adat Siwaluh Jabu terdapat kepala kerbau yang dipercaya masyarakat Karo sebagai penolak hal-hal negatif. Rumah adat berbentuk panggung ini beratapkan ijuk dan memiliki dua pintu dengan delapan jendela. Setiap ruang keluarga disebut sebagai jabu. Bagian kolong rumah dimanfaatkan masyarakat Karo sebagai kandang ternak atau peliharaan.

Terdapat lebih dari tiga ratus keluarga yang tinggal di Desa Dokan. Namun, hanya terdapat lima puluh enam keluarga yang mendiami Siwaluh Jabu. Saat ini terdapat delapan rumah adat Siwaluh Jabu, serta tujuh rumah yang masih digunakan di Desa Dokan sendiri.

Desa Dokan tak hanya berbicara tentang rumah adat saja. Pada masa kejayaannya, Tanah Karo merupakan salah satu daerah penghasil jeruk yang cukup dikenal. Dokan adalah salah satu desa yang turut berperan dalam memproduksi jeruk tersebut. Sampai saat ini, Desa Dokan masih erat dengan buah jeruk. Ketika melintasi desa ini, kamu akan familier dengan tenda berwarna oranye yang digunakan para pedagang jeruk sebagai tempat berdagang.

Nah, buat sobat Pijar yang berada di luar provinsi Sumatera Utara dan ingin tahu bagaimana bentuk rumah adat Siwaluh Jabu, kamu juga bisa berkunjung ke Taman Mini Indonesia Indah lho..

(Redaktur Tulisan: Intan Sari)

About Media Pijar

Media Pijar: Pers Mahasiswa - Pelita Insan Terpelajar - Laboratorium Departemen Ilmu Komunikasi, Universitas Sumatera Utara, Medan.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *