Home / Hiburan / Eksistensi Musik Lama, Masihkah Punya Tempat di Zaman Milenial?
Sumber : Pinterest
Sumber : Pinterest

Eksistensi Musik Lama, Masihkah Punya Tempat di Zaman Milenial?

Nadya Anatasya

Pijar, Medan. Musik merupakan salah satu bagian terpenting dalam kehidupan sehari-hari manusia. Layaknya organ tubuh, musik tidak dapat lepas begitu saja karena sudah menyatu dalam diri kita. Jika organ tubuh tersebut hilang, mungkin akan terasa seperti ada yang tidak lengkap dalam hidup. Setidaknya seperti itulah musik digambarkan di kehidupan zaman modern seperti saat ini.

Perkembangan musik dunia kini semakin berkembang kian pesat. Khususnya di era milenial, banyak genre musik baru yang bermunculan. Beberapa di antaranya seperti; dream pop, future soul, electronicore, easycore, djent, dan akan muncul lagi berbagai macam genre baru seiring dengan perkembangan zaman.

Namun, di saat berkembangnya musik modern yang tengah menikmati masa jayanya, pernahkah sepintas terpikirkan atau teringat masa lalu ketika mendengar musik lama? Seperti ketika mendengarkan musik lama tersebut, akan muncul suatu kenangan yang kembali hadir pada diri kita dengan suasana kenangan di masa itu. Tentu kita semua pernah mengalaminya, tetapi apakah di era milenial seperti saat ini musik lama telah kehilangan peminat untuk diperdengarkan? Perihal banyaknya jenis musik yang lahir atau justru sebaliknya?

Faktanya, alunan musik lama masih terus terdengar hingga saat ini. Salah satu siaran radio nasional yang berada di kota Medan yaitu Delta FM bahkan telah membuat suatu program siaran bernama “Zona Lagu Enak”. Program tersebut bukan hanya menyiarkan lagu-lagu terbaru, melainkan lagu-lagu enak dari tahun 90-an dan 2000-an.

Salah satu band lokal Indonesia yang melegenda adalah Sheila On 7. Hingga kini band ini masih ramai peminat di kalangan anak muda sampai dewasa dengan berbagai single-nya seperti, ‘Seberapa Pantas’, Lapang Dada’, dan lagu lainnya. Tak jarang band yang terbentuk pada tahun 1996 ini, terlihat mengisi berbagai festival musik anak SMA. Sheila On 7 juga kerap meramaikan berbagai ajang konser ternama, salah satunya Line Concert Medan yang diselenggarakan pada 27 Januari 2018 lalu.

Film ‘Gita Cinta dari SMA’ yang dibuat pada tahun 1979 lalu,  memiliki soundtrack berjudul “Galih dan Ratna” yang kemudian dipopulerkan kembali oleh musisi terkini GAC. Film tersebut di-remake menjadi film bioskop yang kini kita ketahui sebagai ‘Galih dan Ratna’. Tidak heran jika suatu hari mendengar ibu kita menyanyikan lagu tersebut, karena memang sudah ada di zaman mereka.

Ada juga lagu dari para musisi legendaris dunia seperti The Beatles, Oasis, Gun’s & Roses, dan Westlife turut melengkapi daftar playlist pada aplikasi musik yang dimiliki anak SMA serta mahasiswa.

Bisa disimpulkan bahwa musik lama di era milenial memiliki ruang tersendiri di hati masyarakat. Kebanyakan lagu dari musik lama berisi lirik yang mendalam serta gaya bahasa yang puitis sesuai dengan ciri khas dari masing-masing musisinya. Sehingga ketika merasa jenuh dengan musik modern, musik lama ada sebagai wadah bernostalgia. Hal tersebut kerap memunculkan para pendengar baru bagi keberadaan musik lama di era milenial seperti saat ini.

Musik lama ibarat budaya yang akan terus berputar seiring perkembangan zaman, terlepas dari enak atau tidaknya didengar namun tetap memiliki kenangan tersendiri. Tidak peduli dengan pertumbuhan musik modern yang semakin subur, musik lama seakan menolak untuk layu dari permukaan.

Inilah yang menjadikan musik lama masih bertahan di setiap pergerakan waktu, dan akan selalu bertahan sampai kapan pun. Hingga dapat dipastikan musik lama masih mampu mencuri perhatian masyarakat khususnya mereka yang merupakan generasi milenial.

(Redaktur Tulisan : Annisa Rahmi )

About Media Pijar

Media Pijar: Pers Mahasiswa - Pelita Insan Terpelajar - Laboratorium Departemen Ilmu Komunikasi, Universitas Sumatera Utara, Medan.

Silahkan Lihat Artikel ini juga !

(Sumber gambar: alternativemovieposter.com)

Antara Kisah Hidup, Perjalanan Spiritual, dan Keputusasaan dalam Life of Pi

Ang Lee, sang sutradara asal Taiwan berhasil melejitkan namanya dalam daftar sutradara paling berpengaruh sepanjang masa setelah sukses memproduksi film berjudul Life of Pi dan mendominasi banyak ajang penghargaan bergengsi, termasuk Piala Oscar 2013 silam.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *