Home / Sosok / Ahmad Prayoga, Pelukis Terbatas dengan Karya Tanpa Batas
Fotografer: Indah Ramadhani
Fotografer: Indah Ramadhani

Ahmad Prayoga, Pelukis Terbatas dengan Karya Tanpa Batas

Indah Ramadhanti/Yasmin Nabilah F

Manusia memang bukanlah makhluk yang sempurna. Akan tetapi, dengan ketidaksempurnaan itulah yang membuat manusia bisa memotivasi dirinya untuk maju. Sebab ketidaksempurnaan itulah yang menjadikan ia manusia.

Pijar, Medan. Ahmad Prayoga, atau biasa disapa Yoga adalah pemuda yang memiliki kesempurnaan di antara ketidaksempurnaannya. Dengan segala keterbatasan, pemuda yang lahir di tanggal 10 April 1998 ini mempunyai semangat yang luar biasa untuk bangkit dari keterpurukanya.

Sejak lahir, pemuda berusia 20 tahun ini awalnya memiliki fisik yang sempurna. Yoga menjadi penyandang difabel setelah kecelakaan yang menimpa dirinya dan berakibat ia harus kehilangan kedua tangan dan kakinya. Musibah tersebut berawal ketika ia masih duduk di bangku 2 SMK yang tengah bekerja sampingan sebagai tukang las. Pada kala itu, pemuda berumur 20 tahun ini tersengat aliran listrik tegangan listrik ketika ia sedang bekerja.

“Dulu sewaktu SMK, saya diajak kerja sama teman satu kelas, jadi waktu itu mau ngelas, dikarenakan dulu yoga SMK di jurusan otomotif, jadi waktu itu mau ngelas dirumah salah satu pengurus sekolah, saat hendak menaikkan besi ke lantai 2, ternyata di atas itu ada kabel tegangan tinggi dan menyentuh besi yang mau dinaikkan tadi sehingga membuat kaki dan tangannya lengket hingga melepuh. Dibawa ke rumah sakit di daerah sana, ternyata di rumah sakitnya tak ada penanganan, dirujuk ke Kisaran. Ternyata seperti itu juga, langsung dibawa ke Adam Malik dan diperiksa dan kata dokternya tangan Yoga harus diamputasi,” ungkapnya saat ditemui  di kediamannya Jalan Makmur, Pasar VII Tembung, Rabu (07/11) Sore.

Usai tragedi yang menimpanya tersebut, Yoga sempat mengalami depresi melihat kondisinya pada saat itu. Akan tetapi, dia tidak ingin melihat kedua orangtua dan keluarganya sedih, akhirnya dia pun menepis semua ketidakberdayaannya dan berusaha untuk bangkit lagi karena Yoga sadar, Tuhan tidak akan menguji kecuali melebihi batas kemampuan umatNya.

Walaupun dengan kondisi kedua tangan yang tak lagi dimilikinya, Yoga mulai menggeluti dunia melukis, pemuda yang merupakan anak kedua dari empat bersaudara itu mulai menekuni dunia melukis pada tahun 2016 dibulan Maret. Menurutnya, dengan melukis ia bisa menghilangkan kebosanan dan membuang hal-hal negatif yang ada di pikirannya. Kecelakaan yang menimpa dirinya memang sangat berdampak dalam hidupnya kala itu, karena ia merasa hancur ketika memikirkan perasaan kedua orang tuanya.

Peralatan yang digunakan Yoga untuk menuangkan bakatnya sebagai pelukis. (Fotografer: Yasmin Nabilah)
Peralatan yang digunakan Yoga untuk menuangkan bakatnya sebagai pelukis.
(Fotografer: Yasmin Nabilah)

Namun, seiring  dengan berjalannya waktu semua tidak ada gunanya jika ia terus menyesali apa yang terjadi tanpa melakukan sesuatu. “Hanya buang-buang waktu, gak berdampak yang berarti untuk masa depan,” ujarnya.

Awalnya, memang sulit ketika melukis menggunakan mulutnya karena merasa kaku dan tidak terbiasa. Bahkan, ia sering merasa tidak percaya diri karena hasil lukisannya belum maksimal. Hingga pada akhirnya, dirinya semakin lama semakin termotivasi dan ia yakin, ia pasti bisa melakukannya.

Kedua orang tuanya selalu memberi semangat dan motivasi agar ia tidak mengeluh dan putus asa. Ada juga sosok yang sangat menginspirasi yaitu Jenny Ong. Wanita yang biasa ia sapa dengan panggilan Bunda ini adalah seorang pemilik Yayasan Anak Kanker di Medan. Bundalah yang telah memberikan sepasang kaki palsu dan membuatnya bangkit dari keputusasaanya hingga ia bisa melukis dengan lebih nyaman sekarang ini.

Dengan kegemaran melukisnya ini, kini ia menjadikannya sebagai bisnis yang menguntungkan. Ia biasa menerima pesanan dengan berbagai macam permintaan sesuai dengan keinginan pelanggannya. Mulai dari doodle art, lukisan, hingga kaligrafi. Harga yang ia taksir pun mulai dari 150 ribu sampai 700 ribu tergantung ukuran yang diminta.

Tak hanya sebagai pelukis, saat ini kegiatan yang ia lakukan setiap sore adalah menjadi guru ngaji dan les untuk anak SD di daerah rumahnya. Pemuda ini beberapa kali pernah mendapatkan prestasi yang membanggakan. Salah satunya adalah menjadi sosok inspirator di salah satu stasiun TV di Medan. Seringkali ia berkata bahwa ia tidak terlalu mengejar prestasi. Baginya bisa membuat suatu hal kecil yang berdampak besar bagi orang banyak saja sudah menyenangkan.

Dalam jangka panjang, pemuda ini berencana ingin membuat komunitas untuk pelukis. Ia juga ingin memiliki galeri untuk karya-karyanya sendiri. “Ingin buat suatu gerakan pemuda di sekitar sini supaya berkarya, tidak membuang-buang waktu,” jelasnya.

Dengan kondisi yang seperti ini membuatnya sadar akan satu hal, yaitu bersyukur. “Syukuri aja dengan apa yang dikasih sama kita, dunia tempat berkeluh kesah. Bersyukur dan bersabar. Tuhan pasti kasih yang terbaik,” pungkasnya.

(Redaktur Tulisan: Hidayat Sikumbang)

About Media Pijar

Media Pijar: Pers Mahasiswa - Pelita Insan Terpelajar - Laboratorium Departemen Ilmu Komunikasi, Universitas Sumatera Utara, Medan.

Silahkan Lihat Artikel ini juga !

Sumber Foto: Dokumentasi Pribadi

Fandy Matondang, Dari Duta Bahasa Sampai Duta GenRe

“Ternyata Keduta-dutaan ini memiliki unsur kecanduan, di kedutaan dapat pengalamannya dan bisa ketemu dengan speaker-speaker yang luar biasa”-Fandy Matondang

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *