Home / Hiburan / Buku / Kisah Wanita Tiga Zaman pada Sunyi di Dada Sumirah
Fotografer : Hidayat Sikumbang
Fotografer : Hidayat Sikumbang

Kisah Wanita Tiga Zaman pada Sunyi di Dada Sumirah

Hidayat Sikumbang/Dasmida

Pijar, Medan. Setiap wanita yang diciptakan oleh Tuhan adalah spesial. Lewat kisah yang tertuang dalam sebuah buku yang berjudul Sunyi di Dada Sumirah, kita akan melihat cerita 3 dara yang terlahir dalam 3 generasi yang berbeda. Mereka terlahir dengan takdir yang tidak sama dan harus menjalani kesepiannya masing-masing. Novel karangan Artie Ahmad ini terbit di tahun 2018 dan tentu saja, novel ini dikonsumsi hanya untuk mereka yang sudah cukup umur.

Sunyi, cerita pertama adalah benar-benar tentang sebuah kesunyian. Terlahir dengan roman wajah asli timur tapi kebarat-baratan, justru Sunyi tidak berbangga hati. Ia justru menutupi semua ini. Bola matanya yang biru harus tersembunyi di balik lensa kontak berwarna coklat. Sunyi benar-benar hidup dalam sebuah kesunyian. Ia sama sekali tak menyukai hidupnya. Meski sempat menikmati apa itu arti cinta, semuanya sirna begitu saja setelah Ram, sang kekasih mengkhianati kepercayaannya. Hubungannya dengan Mi, ibunya begitu buruk. Namun kehadiran Ram pula yang membuatnya kini memahami, bahwa harga diri seorang manusia tidak berdasarkan seberapa kaya orang tersebut.

Sumirah, seorang kembang desa yang cantik. Kemolekan tubuhnya semakin lengkap dengan rambut pekat yang menjadi daya tarik tersendiri bagi siapa saja yang melihatnya. Sumirah sudah terbiasa hidup tanpa ayah, hari-harinya di waktu kecil hanya ia habiskan bekerja. Lama-kelamaan, ia bosan. Seseorang yang telah ia kenal begitu lama pada akhirnya mengajaknya untuk keluar dari kampung dan menikmati hidup di Ibu Kota. Bekerja di Jakarta, sudah sejak dulu menjadi sebuah mimpi bagi orang-orang dari desa.

Namun, semua tak semanis yang ia kira. Ia dijual, diperdagangkan layaknya sebuah barang. Ya, Sumirah adalah barang mahal bagi mereka yang mempekerjakan wanita-wanita malam. Sumirah dijual, ia dikhianati oleh temannya yang telah ia percayai sejak kecil. Ia mengencani siapa saja yang membayarnya, baik pria pribumi maupun mancanegara. Sumirah tidak mengerti mengapa Gusti menakdirkan hidupnya seperti ini.

Mendekamnya sang ibu di balik jeruji besi pada masa kecil adalah cobaan yang paling berat menurutnya. Namun, cobaan tersebut pun berlanjut hingga ia kini mengenal kehidupan malam. Berbeda masa, namun memiliki makna yang sama. Sama-sama dikucilkan karena dianggap sampah masyarakat.

Cerita selanjutnya adalah tentang Suntini, si wanita yang begitu tegar memaknai hidup. Memiliki suami adalah salah satu impian dari setiap wanita di bumi ini, namun bagaimana jika sang suami harus menghadap Gusti Allah saat kita mengandung putri yang kita cintai? Bagaimana cara kita menjelaskan pada anak kita sendiri nantinya, kemana ayahnya pergi? Suntini berusaha untuk tetap tegar. Ia menganggap semua ini sudah digariskan oleh Tuhan, dan Tuhan pun tak mungkin memberi cobaan melebihi kemampuan manusia.

Ia membesarkan putrinya bersama Mbah Wedok. Hingga pada suatu malam, kekelaman itu terjadi. Ia dituduh sebagai anggota PKI. Hingga pada akhirnya kesunyian itu semakin sumir menderu hidupnya di balik jeruji besi. Di lubuk hatinya yang paling dalam, ia berharap suatu saat nanti ia bisa kembali. Melihat sang putri tumbuh besar, menjadi semakin  anggun. Namun, semakin lama ia semakin yakin. Ia akan menghembuskan nafasnya sebagai tahanan negara.

Semua cerita ini dikemas dalam satu novel. Novel yang berjudul Sunyi di Dada Sumirah ini tentu menyingkap bagaimana seorang wanita yang memiliki takdir yang berbeda-beda pula, tapi memiliki keterkaitan antara satu dan lainnya. Novel ini dikemas dengan sangat apik, menggambarkan bagaimana pandangan masyarakat Jawa tentang kelamnya Jakarta, dan PKI pada masanya.

(Redaktur Tulisan: Intan Sari)

About Media Pijar

Media Pijar: Pers Mahasiswa - Pelita Insan Terpelajar - Laboratorium Departemen Ilmu Komunikasi, Universitas Sumatera Utara, Medan.

Silahkan Lihat Artikel ini juga !

Sumber foto: Dokumentasi Pribadi

The Sugarcane Ungkap  “Undur Diri” Lewat Lagu Manis

The Sugarcane sendiri telah mengeluarkan single lagu pertamanya yang berjudul “Undur Diri” sekitar dua bulan yang lalu. Lirik lagu undur diri ditulis oleh Dendi Riziah sang gitaris band berdasarkan pengalaman pribadinya, saat menjalin sebuah hubungan asmara.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *