Home / Berita / Menghidupkan Kembali Tradisi Minum Jamu Melalui Festival Jamuvolusi
cover

Menghidupkan Kembali Tradisi Minum Jamu Melalui Festival Jamuvolusi

Widya Tri Utami/Annisa Nahda

Pijar, Medan. Di masa sekarang ini,  jamu mungkin sudah tidak terlalu banyak peminatnya. Hanya segelintir orang saja yang masih mengkonsumsi obat tradisional dari Indonesia ini. SIRKAM yang berkolaborasi dengan YP2M, PPMN dan Citradaya Nita bekerja sama menyelenggarakan acara Festival Jamuvolusi yang diadakan di Degil House Jl. Sei Silau No. 50/54, Minggu (4/11).  Acara yang berlangsung pukul 12.00-16.00 WIB ini terbuka untuk umum.

Acara ini dimulai dengan kata sambutan oleh salah satu panitia penyelenggara sekaligus pendiri dari SIRKAM, Citra Hasan. Selanjutnya kata sambutan dari perwakilan Y2PM yaitu Ibu Mazdalifa. Acara selanjutnya di isi dengan talkshow bersama Dr. Ikhwan selaku perwakilan dari Ikatan Farmakologi Indonesia cabang Medan, beliau yang membahas mengenai kelebihan dan kekurangan dari sebuah jamu  serta solusi untuk jamu di Indonesia.

Sebelum memulai talkshow penonton disuguhi terlebih dahulu dengan sebuah film dokumenter yang menceritakan tentang  kehidupan para penjual jamu. Dari film tersebut kita dapat mengetahui perjuangan para penjual jamu yang tidak mudah. Salah satu penjual jamu yaitu Suparti, ia mengaku sudah pernah mendapatkan perlakuan tidak menyenangkan saat menjual jamu yang sudah dilakoninya selama  kurang lebih 30 tahun ini. Meskipun begitu, Suparti tidak lantas kehilangan kepercayaan diri dan tetap berusaha menjual jamu hingga sekarang.

Penampilan musikalisasi puisi dan tarian yang dibawakan oleh Anggota SIRKAM turut meramaikan pergelaran festival ini. Selain itu, kita juga diberi kesempatan untuk dapat melihat dan mempelajari langsung proses pembuatan jamu bersama dengan Suminah, seorang penjual jamu modern yang memasarkan jamunya di sebuah media sosial seperti Facebook. Peserta diajak untuk membuat jamu beras kencur dan kunyit asam, bahkan diberikan kesempatan untuk  mencoba langsung jamu tersebut.

‘Jamuvolusi’ sendiri berasal dari kata ‘jamu’ dan ‘evolusi’. Sesuai dengan namanya, festival ini memiliki dua tujuan, yang pertama ialah mengenalkan jamu sebagai kearifan lokal yang sudah ada secara turun temurun serta menyadarkan masyarakat khususnya para kawula muda untuk  menghidupkan kembali tradisi minum jamu, dan mengubah pola pikir bahwa jamu hanya dinikmati orang-orang usia tua.

Tujuan yang kedua ialah mengubah persepsi orang-orang yang selalu memandang sebelah mata perempuan penjual jamu di Indonesia. Seharusnya kita merangkul dan memberi perhatian lebih kepada mereka, karena berjuang menjadi seorang penjual jamu di era saat ini sangat berat.

“Saya semakin kenal dengan ibu-ibu penjual jamu dan semakin tercerahkan karna masih banyak perempuan-perempuan akar rumput yang harus didukung diluar sana serta termotivasi untuk gerakan-gerakan selanjutnya, ” tutur Lusty, peserta Festival Jamuvolusi.

“Harapan kita agar selesai acara ini, kita tidak hanya mulai mencintai jamu tetapi juga mengabarkan kepada orang-orang sekitar kita bahwa jamu bukan hanya simbol saja namun juga sudah ada dari zaman nenek moyang kita dulu dan pastinya para penjual jamu yang sudah mendapat perhatian dan kita tetap terus bekerja sama dan tidak terhenti hubungannya,” ujar Citra, panitia Festival Jamuvolusi.

(Redaktur Tulisan: Intan Sari)

About Media Pijar

Media Pijar: Pers Mahasiswa - Pelita Insan Terpelajar - Laboratorium Departemen Ilmu Komunikasi, Universitas Sumatera Utara, Medan.

Silahkan Lihat Artikel ini juga !

IMG_3686

Ngevlog Simpel Bersama From Youth Imagination Footage

Pijar, Medan. Komunitas From Youth Imagination (FYI) Medan menyelenggarakan Lokakarya Footage Road to Live Matsuri bertemakan “Nge-vlog ga ribet, serius?” yang diselenggarakan di We Talk A Lot (lantai 2) Komp. Tasbih 2 Medan pada Minggu (11/11).

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *