Home / Sosok / Roland Tobing, Penggubah Lagu Asal USU
cover

Roland Tobing, Penggubah Lagu Asal USU

Prayer Nugraha /Citra R Ginting

“Tetap ikuti jamanmu tapi jangan tinggalkan budayamu,” – Roland Tobing

Pijar, Medan. Setiap orang dilahirkan dengan bakat dan talentanya masing-masing, baik dari segi hard skill maupun soft skill. Begitu pun dengan Roland Tobing, Roland adalah mahasiswa Etnomusikologi Universitas Sumatera Utara angkatan 2017. Roland juga merupakan Putra Daerah Tarutung, Tapanuli Utara yang memiliki bakat di  musik tradisional batak toba.

Roland sendiri sudah menekuni musik batak sejak duduk di bangku kelas empat sekolah dasar, ia juga sudah lama mengenal banyak alat musik daerah batak seperti tagading, kecapi, suling, tulila garatung, dan sarunetei. Menekuni minat dalam musik tradsional batak sejak kecil, Roland pun membuktikan hasil usahanya dengan memiliki segudang prestasi. Pada tahun 2010 Roland meraih juara pertama Marta Gading se-Kabupaten Tapanuli Utara dan Juara I  lomba Marhasapi di museum TB Silalahi Centre.

Tidak hanya bersolo musik, Roland pun juga mengikuti lomba musik tradisi grup di Tapanuli Utara dan meraih juara pertama, selain itu ketika Roland mengikuti  lomba kreatifitas musik remaja, ia juga meraih juara pertama. Bahkan tidak hanya memainkan alat musik saja, Roland juga berprestasi dalam seni vokal. Roland pernah mengikuti Fesival Vokal Solo Persparawi dan meraih juara I di Tapanuli Utara. Prestasi yang tak kalah menarik yang pernah diraih oleh Roland adalah Penerima Anugerah Kebudayaan Indonesia pada tahun 2017.

Beranjak dari segudang prestasi yang pernah diraih oleh Roland, awal mulanya ia terinspirasi dari sosok idola Viky Sianipar yang merupakan seorang musisi daerah ternama di tanah air. Bagi Roland, Viky adalah sosok hebat yang mampu mengaransemen musik lama menjadi musik yang lebih bergengsi dan enak didengar pada zamannya, seperti musik batak yang telah diaransemen dengan musik modern. Selain terinspirasi dari Viky Sianipar, ternyata ia  juga terinspirasi dari senior kampusnya sendiri, Martan Sitohang yang berhasil membawa musik batak hingga ke mancanegara.

Di kesehariannya, Roland juga menjadi guru musik di sekolah dan menjadi pengisi acara di festival musik. Kegiatan lain yang ia lakukan adalah memainkan seruling batak dan  menggubah lagu di kanal Youtube milik Roland. Dapat sobat Pijar lihat di kanal Youtube Roland, ia memainkan musik batak dengan alat musik seruling batak namun diaransemen semodern mungkin sehingga sangat cocok di telinga kalangan muda saat ini. Tak hanya musik batak, lagu-lagu yang sedang naik daun seperti Meraih Bintang yang dipopulerkan oleh Via Vallen, You Raise Me Up hingga Havana milik Camila Cabello pun digubah oleh Roland.

Berkat musik yang dikenalkan Roland lewat kanal Youtube miliknya, kini ia telah memiliki 5000 Subscriber dan penonton yang mencapai hingga 342.000 tayangan. Dengan menggubah musik batak menjadi lebih modern dan menggubah lagu yang tren dengan musik seruling batak, hal ini berhasil menarik perhatian kaum muda saat ini yang mungkin saja malu dengan budayanya atau melupakan budayanya sendiri. Cara tersebut bukan semata-mata hanya menarik perhatian kaum muda zaman sekarang, akan tetapi agar kaum muda sekarang mau melestarikan budaya mereka kembali.

Menurut Roland, musik batak sudah banyak yang ketinggalan, maka dari itu Roland berharap kaum muda saat ini mengerti betapa penting dan berharganya budaya-budaya yang ada Indonesia sebagai identitas suku bangsa agar tidak diakui hak milik oleh negara asing.

Meskipun upaya positif yang telah dilakukan Roland dalam meningkatkan kualitas musik tradisional batak, beberapa diantaranya pun masih ada yang memberikan tanggapan negatif terhadap musik Roland, jika kaum muda menilai lagu tren yang digubah oleh Roland menggunakan alat musik seruling batak terkesan sangat begitu unik dan keren, lain halnya  dengan pandangan orang tua yang menilai bahwa Roland telah merusak budaya itu sendiri. Walaupun sebenarnya Roland tidak berniat untuk merusak budaya, namun Roland berupaya bagaimana agar musik tradisional bisa mengikuti jamannya sehingga tidak statis dan mati lalu ditinggalkan.

“Kita boleh mengikuti jaman, akan tetapi jangan pernah meninggalkan budaya kita, karena budaya itu adalah identitas kita. Kemana pun kita pergi, entah itu keluar negeri sekali pun, yang dapat membedakan kita dengan mereka adalah budaya kita sendiri. Karena budaya sudah menjadi identitas kita sendiri, oleh karena itu jagalah dan lestarikan budaya kita masing-masing,” ujar Roland.

(Redaktur Tulisan: Intan Sari)

About Media Pijar

Media Pijar: Pers Mahasiswa - Pelita Insan Terpelajar - Laboratorium Departemen Ilmu Komunikasi, Universitas Sumatera Utara, Medan.

Silahkan Lihat Artikel ini juga !

Sumber Foto: Dokumentasi Pribadi

Fandy Matondang, Dari Duta Bahasa Sampai Duta GenRe

“Ternyata Keduta-dutaan ini memiliki unsur kecanduan, di kedutaan dapat pengalamannya dan bisa ketemu dengan speaker-speaker yang luar biasa”-Fandy Matondang

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *