Home / Galeri / Tidak, Jangan Lagi.
Ilustrasi : Nadya Anatasya
Ilustrasi : Nadya Anatasya

Tidak, Jangan Lagi.

Diva Vania

Suasana di kamar ini lengang. Menyisakan aku dan sekelebat bayang-bayang tentang peristiwa menakjubkan yang baru saja terjadi. Pukul satu dini hari. Aku masih tak dapat tidur. Telepon genggam ku bergetar.

Ting!

Sebuah pesan. Unknown number.

“Divtiaaaaaaaaaaaaaaaa”

Aku terheran. “Iya, siapa?” tanyaku.

Dia mengirimkan rekaman suara. Pesan Whatsapp itu hanya kubiarkan saja. Sudah sangat larut, mataku sudah tak tahan menahan kantuk.  Pagi ini, setelah benar-benar terbangun dari hibernasi malam yang panjang akhirnya pesan itu kubuka. Gambar sosok dalam profilnya sangat kukenali. Seorang gadis bertubuh kecil dengan balon berwarna jingga ditangannya. Ya, Fatin.

Jangan mengira ekspresiku bisa biasa saja membaca pengirim dari pesan itu.

Woyyyyy. Sombong banget sihhhh,” bunyi rekaman tersebut.

Yaelah elu. Kirain fans gue dari mana yang ngechat malem-malem.” balasku mencoba sesantai mungkin. Aku tak ingin dia tahu aku begitu excited membalas pesannya.

 “Ada juga elu yang dulu ngefans banget sama gue. Jangan lupa, dulu lu pernah nangis-nangis demi diizinin panitia buat foto bareng sama gue,” balasnya diikuti emotikon tawa terpingkal-pingkal.

 “Khilaf kali ya, gue juga bingung kenapa dulu bisa gitu,” cetusku berpura-pura.

Ditengah pesan suara menyenangkan itu, ponselku berdering panjang. Seseorang menelpon. Ternyata dari lembaga tempatku mendaftar beasiswa. Aku memang telah memutuskan melanjutkan studi di salah satu universitas terbaik di Negeri Paman Sam. Orang tersebut menyampaikan satu dua hal mengenai keberangkatanku bulan depan. Aku menghela nafas.

Di tengah pikiranku yang kembali menari-nari itu, telepon genggamku kembali berdenting. Sebuah pesan Whatsapp masuk.  Fatin mengirimkan pesan lagi.

“Div,” sapanya di seberang sana.

Naon?” balasku.

“Lu beneran mau terbang ke planet lain?” tanyanya.

“USA kayaknya masih di bumi, Tin” jawabku.

Typing a message..

Tulisan itu lama sekali muncul di tampilan Whatsapp. Menulis, dihapus lagi. Dua puluh menit kemudian ponselku berdenting lagi.

“Ah, masa udah mau pergi aja? Yaudah liburan dulu yuk sebelum lu pindah planet,” candanya.

“Ini serius apa bercanda?” tanyaku antusias.

 “Emang gue pernah candain elu? Serius, Div. Ntar gue ajak Tita deh.“ balasnya. Tita, sahabat yang merangkap manager pribadinya.

“Nggak pernah candain, ngisengin sering. Yaudah kapan, kemana? Lu lagi sibuk sama projek baru juga, sok-sokan ngajakin main,” balasku.

Fatin tampaknya benar-benar serius kali ini. Setengah jam berlalu pesanku masih bercentrang biru. Tampaknya dia masih menimbang-nimbang saat yang pas.

Ting!

Telepon genggamku bergetar lagi. Lewat perdebatan panjang akhirnya Pulau Sabang diputuskan menjadi destinasi wisata kami. Fatin memaksa untuk segera berangkat. Dua hari lagi tepatnya. Ya, dua hari lagi pengalaman paling menakjubkan itu akan dimulai.  Dengan waktu yang amat singkat, kami merencanakan banyak hal matang-matang. Hari berikutnya, Fatin dan Tita memintaku menjemput mereka di bandara, sehari kemudian menuju Banda Aceh dan selanjutnya menyebrang ke Pulau Weh, Sabang.

Dalam perjalanan menuju Sabang, seseorang mengirimkan pesan melalui direct message Instagram. Kulihat pengirimnya. Eh, Oka membalas storyku? Bilang, tidak ya? Aku membatin. Mataku menatap mereka berdua. Ah, sepertinya tidak perlu. Isinya kan bukan yang macam-macam. Aku membatin lagi.

Fatin dan Tita masih menatap sekitar sambil mengabadikan gambar. Pelabuhan di seberang sudah terlihat. Lima belas menit lagi kami mendarat. Arsya, tour guide yang akan memandu selama perjalanan sudah menunggu di pelabuhan.

Kami sudah tiba di penginapan, Arsya akan menjemput kembali setelah kami selesai membereskan barang. Dua jam berlalu, Fatin sudah siap dengan pakaian pantai lengkap dengan topi, kaca mata dan kamera yang dikalungkannya. Arsya menunggu, berdiri gagah menyambut di ruang tunggu penginapan. Kami siap berpetualang.

Pemberhentian pertama, Tugu Nol Kilometer. Lima belas menit. Arsya memberikan waktu lima belas menit untuk mengambil gambar. Tak banyak yang bisa dilihat di sini, hanya tugu. Setelah mengambil satu-dua foto bersama kami berlanjut ke tempat pemberhentian kedua.

Bukit Klah.

Krik! Cklak!

Mesin penangkap gambar itu terus berbunyi. Tuannya tengah sibuk mengabadikan keadaan.

Viewnya bikin nggak mau pulang ini mah,” ujar Tita.

“Parah, Instagram gue bakal banjir feeds yang bagus-bagus nih!” Fatin berseru-seru senang.

Dua jam lebih. Fatin masih tidak ingin beranjak. Tita lelah memaksa, memilih meninggalkannya. Menyuruhku bergantian membujuk.

“Udah mau magrib, Tin. Kapan-kapan kesini lagi deh” bujukku.

“Lima menit lagi Div. Liat nih bagus-bagus banget!” katanya sambil menunjukkan hasil fotonya.

Aku mengangguk. Fatin memang pintar memilih angle.

Lima menit berlalu, tidak ada tawar-menawar lagi kali ini. Hari semakin sore. Pemberhentian selanjutnya masih menunggu. Fatin masih dengan wajah cemberutnya akhirnya menurut menuju parkiran. Tita sudah mengomel panjang lebar.

“Fatin tuh udah sering banget kayak gini Div. Kekanak-kanakan, nggak sadar kalau udah tua,” cetusnya kesal.

Fatin memicingkan matanya. Berlagak tak peduli dengan perkataan Tita. Aku hampir tertawa melihat air wajahnya.

Pantai Pasir Putih menjadi destinasi wisata selanjutnya. Seperti namanya, pasir disini benar-benar putih bersih. Di pinggirnya berdiri pohon-pohon kelapa yang melambai. Demi melihat itu semua, ekspresi Fatin pun akhirnya berubah seketika. Ia langsung berlari menuju bibir pantai dan berseru-seru. Aku dan Tita berjalan santai mengikutinya dari belakang.

“Udah berasa kayak nemenin anak kecil liburan belum Div?” tanyanya sambil menatap deburan ombak. Aku menjawabnya dengan senyuman. Entahlah. Bagiku, sifat itulah yang membuatku begitu menyayanginya.

Tita sudah berjalan menuju bibir pantai. Aku memilih berebahan di gubuk kecil dipinggir pantai. Membiarkan hembusan angin dan suara deburan ombak mengisi kesunyian. Kesiur angin memuat mataku semakin berat. Tanpa sadar, akupun tertidur. Saat itu, saat aku mulai tertidur pulas. Fatin kembali dari aktivitas potret-memotretnya. Saat itu pula, ia tak sengaja melihat notifikasi di ponselku.

Oky? Ngapain nge-dm Divtia? Fatin Membatin.

“Kalau akunya sayang kamu gimana?” bunyi pesan itu.

Detik itu, ketika sempurna melihat pesan-pesan itu. Fatin berlari meninggalkan pantai, tanpa diketahui siapapun.

Ia menjerit dalam tangis. Berlari entah kemana.

Fatin hanya salah paham.

Tita kembali ke gubuk tempatku beristirahat. Ia membangunkanku. Menanyakan keberadaan Fatin. Sudah dari setengah jam yang lalu ia tak melihatnya.  Aku yang sepenuhnya belum sadar pun kebigungan. Kami memutuskan menunggu sebentar lagi. Mungkin Fatin masih mengabadikan gambar, fikirku. Namun setelah satu jam berlalu, Fatin tak kunjung tiba. Tita mulai panik. Kemungkinan-kemungkinan buruk terus menghantui. Aku memutuskan menghubungi Arsya. Kami berpencar. Lima belas menit kemudian Arsya berteriak, kencang sekali. Aku dan Tita berlari tergopoh, kemungkinan-kemungkinan terburuk itu masih menghantui.

“Aku nemuin ini di sini” Arsya menyerahkan yang ditemukannya padaku. Mesin penangkap gambar milik Fatin. Astaga! Apa yang sedang terjadi?

Ditengah memikirkan kemungkinan-kemungkinan itu, entah mengapa tanganku merogoh ponsel yang kuletakkan di saku. Kenapa menu ponsel ku langsung teralih ke pesan langsung Instagram? aku membatin.

Setelah itu, setelah pesan itu terbuka sempurna, aku paham alasan ia pergi. Pesan dari Oka. Pasti pesan dari Oka penyebabnya. Aku memberitahukannya pada Tita. Aku sudah tak memperdulikan bagaimana reaksi Tita saat mengetahui pesan itu. Aku hanya ingin mengecilkan kemungkinan-kemungkinan yang ada.

“LU HARUSNYA TAU DIRI, TAU NGGAK! NGGAK USAH KEGATELAN SAMA PACAR ORANG! FATIN TUH UDAH BAIK BANGET KE ELU. LU HARUSNYA NGACA! LU SIAPA,DIA SIAPA!” Tita berteriak. Tangannya mendarat di pipi kananku, memunculkan kemerahan bekas gambar tanganya. Aku menangis.

Tita sudah berlalu meninggalkan. Arsya menatapku kasihan.Namun ia juga memilih  mengejar Tita yang sudah berlari jauh ke depan. Aku benar-benar bingung. Ditengah kegalauan dan kesendirian itu, entah darimana, tiba-tiba gelombang besar menggulungku. Nafasku sesak, pandanganku hitam.

 Aku terbangun dari mimpi buruk itu.

Aku sontak tersedak dan langsung bangkit. Menatap nanar, berusaha memahami sekitar. Fatin dengan tingkah jahilnya telah berhasil menyirami tubuhku dengan sebotol air laut. Ia sudah berseru-seru puas. Tita berlari menghampiri kami.

“Kita kesini buat liburan Div, lu malah tidur! Ayooo main basah-basahan!” serunya. Ia tak memerdulikan aku yang sangat kesal karena tingkahnya. Baginya, mengerjaiku adalah hal yang selalu menyenangkan baginya.

“FAAATIIN!!” Teriakku. Aku sudah berlari mengejarnya. Tita tertawa geli.

Sambil berlarian saling balas basah-membasahi, aku membatin.

Tuhan, bagaimana jika mimpiku tempo hari benar-benar menjadi nyata?

Tidak, jangan lagi Tuhan.

Mengalaminya di dalam mimpi saja cukup menyakitkan.

Tidak, jangan lagi Tuhan.

Jangan biarkan hal buruk terjadi, walaupun hanya sekadar mimpi.

 

About Media Pijar

Media Pijar: Pers Mahasiswa - Pelita Insan Terpelajar - Laboratorium Departemen Ilmu Komunikasi, Universitas Sumatera Utara, Medan.

Silahkan Lihat Artikel ini juga !

image

Jembatan Ilmu

     

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *