Home / Galeri / Aku, dan Diriku Seorang
Ilustrasi: Nadya Anatasya
Ilustrasi: Nadya Anatasya

Aku, dan Diriku Seorang

Putri Arum Marzura

Kala itu, aku sedang merasakan kebahagiaan yang sangat luar biasa. Tidak bisa terdeskripsikan betapa bahagianya diriku. Berbaring di tempat yang teramat sangat nyaman. Aku merasa seperti sedang berada di sekeliling orang-orang yang membuatku nyaman. Beranggapan seolah-olah inilah zona nyamanku. Seiring berjalannya waktu, aku mengikuti alur kehidupan dengan selayaknya manusia biasa pada umumnya. Merasakan udara segar dengan kegembiraan yang luar biasa. Aku melihat cahaya terang, dan kemudian mengikutinya.

Seketika semuanya berubah menjadi gelap. Tidak ada udara segar. Bahkan untuk melihat titik terang saja tidak bisa. Lalu aku tersadar, aku sedang berada di dalam kesunyian dan kegelapan seorang diri. Zona nyamanku telah hilang. Orang-orang yang membentuk kebahagiaanku, telah hilang. Ada apa dengan semua ini?

Aku termenung. Mengapa aku harus menerima ini. Hanya kesedihan yang bisa kurasakan saat ini. Terdiam dan terpaku tanpa melakukan apapun. Apa mungkin aku telah melakukan suatu kebodohan dalam diriku?

Pertanyaan terus menerus menghantui pikiranku. Tak sedikit pun aku bisa berpikir tenang di kegelapan dan kekosongan ini. Seperti orang yang hidup tanpa arah dan tujuan, itulah diriku saat ini.

Mencari titik terang di dalam kegelapanku saat ini tak semudah membalikkan telapak tangan. Lalu seketika terlintas di benakku, apakah aku harus melepaskan semua kebahagiaan dan kenyamanan yang pernah ku dapat dan kurasakan? Pertanyaan dalam diriku yang terus menerus menjadi bebanku. Tidak kutemukan jawaban dalam diriku dengan keadaanku.

Hanya satu yang menjadi pertanyaan dalam diriku, apakah aku harus melupakan semua hal yang telah kulalui? Berat rasanya untuk mengatakannya dan melakukannya. Kulepaskan zona nyamanku begitu saja. Tetapi keadaanku mendukungku untuk merelakan dan melepaskan semuanya demi kebaikan diriku. Tentunya, demi kembalinya aku ke dalam cahaya terang dan menemukan zona nyamanku yang lain.

Aku berusaha, berusaha, dan terus berusaha untuk mencari jalan keluar dari semua ini. Seribu rintangan ku lalui. Rintangan dalam pikiranku yang sempat membuatku putus asa untuk menjalani kehidupan ini. Tersentak aku memberanikan diri mengambil keputusan untuk melupakan semuanya.  Semuanya. Ya, keputusanku sudah bulat. Aku harus. Harus!

Hingga pada akhirnya, kubulatkan tekatku untuk aku melepaskan seluruhnya. Kebahagiaanku, orang-orang sekelilingku yang dulunya membuatku nyaman terutama zona nyamanku. Tetesan air mata pun membasahi wajahku. Rasanya untuk melepaskan itu terlalu berat bagiku. Tapi harus aku lakukan demi kebaikanku.

Sekarang, hanya aku seorang diri yang menjalani hidup bahagia. Membuat kenyamanan pada diriku sendiri dan berjuang mencari cahaya terang ku kembali. Kelak, aku berharap bertemu zona nyamanku kembali. Entahlah, apapun dan siapa pun itu, mungkin akan kutemukan nanti.

About Media Pijar

Media Pijar: Pers Mahasiswa - Pelita Insan Terpelajar - Laboratorium Departemen Ilmu Komunikasi, Universitas Sumatera Utara, Medan.

Silahkan Lihat Artikel ini juga !

image

Jembatan Ilmu

     

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *