Home / Galeri / Bertepuk Sebelah Tangan
FullSizeRender

Bertepuk Sebelah Tangan

Gabriella Prily Elvani

Pagi itu cerah, namun tak secerah perasaanku. Sapaan pagi yang biasanya mengganggu notification ponselku kini tak ada lagi. Aneh, tak biasanya dia tak bersuara seperti ini. Dia adalah gebetanku, seseorang yang 3 bulan lalu memulai ini semua, hubungan tanpa status dengan rasa yang memanas setiap harinya. Sudah 3 hari terakhir dia tidak menyapaku seperti biasa. Pagi itu aku mencoba untuk menyapanya,

“Hai, selamat morning hehe”

Delivered

Ini kali pertama aku menyapanya duluan. Aku malu, takut tidak ada respon darinya. Beberapa saat kemudian,

Ting

“Hai, good pagi haha”

Okay, aku bingung. Apa yang harus aku balas setelah ini. Lama aku terdiam memikirkan balasan apa yang harus aku berikan, tak lama dia membalas lagi.

“Jangan lupa sarapan kamu”

Kalimat sederhana itu sempurna membuat senyumku merekah pagi itu.

“Siap, Pakbos. Siap-siap kuliah dulu yaa”

Delivered

Setengah jam berlalu, lama aku menunggu balasan darinya akhirnya aku memutuskan untuk bersiap untuk kuliah. Selesai mandi aku melihat layar handphoneku, namun nihil. Aku tidak ingin berpikir negaitf, kuputuskan untuk berangkat kuliah karena ternyata 15 menit lagi kelas akan segera dimulai.

Sesampainya di kampus aku kembali melihat layar handphoneku, belum ada balasan darinya. Tak sabar menunggu balasan darinya aku kembali mengirim pesan padanya.

“Kuliah dulu ya J”

Delivered

Kelas pun akhirnya dimulai. Sepanjang dosen menjelaskan aku sibuk dengan pikiranku, apa lagi kalau bukan memikirkan sikap gebetanku itu selama 3 hari terakhir ini. Dia sudah jarang menyemangatiku kuliah, bahkan untuk sekedar mengingatkanku makan saja sudah tidak pernah lagi. Aku memutuskan untuk segera menceritakan hal ini kepada sahabatku setelah kelas ini berakhir.

“Jes, abis ini makan yuk”, bisikku kepada sahabatku yang sedang duduk memperhatikan dosen menjelaskan disampingku.

“Okay”, Jes hanya menjawab singkat tanpa mengalihkan perhatiannya dari dosen yang sedang menjelaskan didepan.

Kelas akhirnya berakhir, sebagian teman-teman kelasku sudah keluar dari kelas. Aku segera memasukkan bukuku ke dalam tas dan bergegas mengajak Jes untuk keluar dari kelas karena tak sabar mendengar pendapat dari sahabatku yang satu ini.

“Kau kenapa sih, dari tadi kayak banyak kali pikiranmu ku tengok”, Jes akhirnya membuka pembicaraan ketika kami sudah duduk dibangku kosong di pojok kantin dengan semangkuk bubur ayam dihadapan kami.

“Aku mau ceritalah”, aku membetulkan posisi dudukku untuk bisa bercerita dengan nyaman.

“Kenapa?”, tanya Jes sambil menyuap bubur ayam yang dipesannya.

“Jadi gini, udah 3 hari Reinhard ga kayak biasanya. Dia tuh..”

Ting

Belum selesai aku berbicara handphoneku berbunyi, menandakan ada pesan masuk. Aku segera membuka handphoneku, ya orang yang sedari tadi ku tunggu akhirnya membalas pesanku.

“Iya, kamu rajin-rajin belajarnya ya”

Tanpa emoticon, tanpa stiker, dan tanpa pertanyaan setelahnya, pesan itu sempurna membuat aku terdiam. Bingung hendak membalas apa aku memutuskan untuk tidak membalas pesannya.

“Kenapa?”, Jes bertanya sambil memperhatikan gerak gerikku.

“Reinhard udah ga pernah lagi nanyain aku lagi apa dan dimana, dia udah jarang ngingatin aku makan, dia udah ga pernah cerita apapun lagi ke aku, bahkan pagi ini pun aku yang menyapanya terlebih dulu. Kayaknya selama ini dia ga serius samaku.” Tanpa sadar air mataku ikut keluar.

“Ketika perasaan aku ke dia lagi panas-panasnya, malah dianya begini”, kataku disela-sela tangisku. Jes kini sudah berpindah tempat kesebelahku, dia mengelus pundakku lembut.

“Kayaknya kamu harus jumpa sama dia sore ini, tanya kenapa dia jadi berubah kayak gini”, Jes mencoba memberi solusi dari masalahku ini.

Setelah aku berhenti menangis, aku dan Jes kembali melanjutkan makan bubur ayam yang sudah dingin. Hari ini aku ada kelas hingga sore, sepertinya hari ini adalah hari yang pas untuk aku mempertanyakan sikap Reinhard selama ini karena Reinhard juga keluar kelas sore. Aku dan Reinhard memang berbeda fakultas namun beberapa jadwal kami memiliki kesamaan waktu, seperti hari ini kami sama-sama masuk 2 kelas yaitu pagi jam 10 dan dilanjutkan siang jam 2. Biasanya kami berdua akan memutuskan makan siang bersama dikafe dekat kampus, namun sejak sikap dia berubah di chat kami tidak pernah lagi makan siang bersama bahkan untuk sekedar mengingatkan makan sudah tidak pernah.

Selesai menghabiskan bubur ayam aku dan Jes memutuskan untuk membaca buku ke perpustakaan menunggu jadwal kelas selanjutnya. Sesampainya  di perpustakaan aku membuka kembali isi pesan Rainhard,

“Sore ini ada waktu kosong?”

Delivered

Tanpa menunggu balasan darinya aku kembali mematikan ponselku kemudian mencoba mencari buku tentang mata kuliah selanjutnya. Jes dan aku memilih duduk di bangku paling pojok agar tidak ada gangguan suara saat membaca buku.

Ting

“Maaf aku ada kelas sampai malam”

“Besok siang sepertinya aku ada waktu kosong”

“Gimana?”

Aneh, yang ku tau dia tidak ada kelas sampai malam hari ini. Aku menunjukan pesannya pada Jes. Jes mengerutkan dahinya dan terdiam sejenak.

“Gimana kalo kau datangi dia langsung ke kelasnya.”, Jes akhirnya membuka suaranya.

“Ya, hanya memastikan apa yang dia katakan itu benar aja sih.”, lanjut Jes sambil kembali membaca bukunya.

Aku berpikir lama, benar juga apa yang dikatakan Jes, aku harus memastikan apakah yang dikatakan Reinhard benar atau salah.

“Baiklah, semangat! Jangan lupa makan siang haha.”

Pending

Sepertinya sinyal di perpustakaan ini tidak bersahabat. Aku meletakkan ponselku ke atas meja dan melanjutkan membaca buku. Jam sudah menunjukkan pukul 13.30. Jes dan aku menutup buku yang kami baca dan meletakkannya kembali ketempat semula. Kami segera berjalan menuju kelas kami selanjutnya.

Sesampainya di kelas aku segera melihat ponselku, pesanku ternyata sudah terkirim dan lagi-lagi belum dibacanya. Aku berusaha tidak memikirkan hal itu dan mengajak Jes mengobrol masalah tugas untuk besok.

Kelas hari ini akhirnya berakhir, aku dan Jes dengan cepat keluar kelas. Jes memutuskan untuk menemaniku ke fakultas hukum menemui Reinhard. Kami segera berjalan menuju parkiran, menaiki motor Jes dan langsung meluncur menuju fakultas hukum yang jaraknya cukup jauh dari fakultas kami.

 Tak sampai 5 menit kami akhirnya sampai di gerbang fakultas hukum. Aku dan Jes memutuskan untuk memakirkan motor di luar fakultas karena kami tak berniat berlama-lama di fakultas ini. Aku berjalan mendahului Jes, melepaskan pandangan ke berbagai arah mencari wajah Reinhard dikerumunan mahasiswa yang sedang berjalan pulang. Mataku terhenti, melihat sesosok pria yang sangat ku kenal sedang berjalan bersama seorang perempuan yang tidak ku kenal. Tunggu, mereka saling merangkul. Jes yang baru menyadari apa yang sedang terjadi langsung menarik tanganku pergi dari sana. Aku tak bisa berkata-kata, akhirnya aku tau alasan yang sebenarnya kenapa dia tidak bisa ku temui sore ini, dan hanya tangisan yang bisa mewakili perasaanku saat ini.

Jes melajukan motornya ke sebuah kafe dekat kampus, sesampainya dikafe itu aku hanya menangis. Jes hanya diam memelukku sambil berusaha menenangkanku, memberikan kata-kata semangat yang saat ini sama sekali tidak bisa diserap oleh pikiranku.

“Ternyata sakit ya kalau cinta bertepuk sebelah tangan.”, hanya kalimat itu yang dapat kuucapkan.

Aku menyeka air mataku, mencoba menjernihkan pikiranku. Ternyata Reinhard bukan orang yang tepat untukku. Aku segera membuka ponselku dan membuka chat bersama Reinhard.

“Terimakasih”

Delivered.

Deleted chats can’t be recovered. Are you sure you want to continue?

Ok.

 

About Media Pijar

Media Pijar: Pers Mahasiswa - Pelita Insan Terpelajar - Laboratorium Departemen Ilmu Komunikasi, Universitas Sumatera Utara, Medan.

Silahkan Lihat Artikel ini juga !

IMG_9655

Olahraga

             

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *