Home / Sosok / Hasan Al Banna, Pegiat Seni dengan Segudang Prestasi
IMG20181127180944

Hasan Al Banna, Pegiat Seni dengan Segudang Prestasi

Christian Yosua/Rassya Priyandira

Penulis bisa mati di umur berapapun tapi karyanya akan senantiasa hidup sampai kapan pun” – Hasan Al Banna

Pijar, Medan. Pendidikan merupakan hal yang penting, namun mencari dan melatih skill di luar pendidikan sekolah juga tidak kalah penting. Seperti sosok Hasan Al Banna yang akrab disapa Hasan, pria kelahiran Padang Sidempuan, 3 Desember 1978 ini merupakan pegawai Balai Bahasa Sumatera Utara—Kemendikbud, penyair, penulis prosa, esais, dan pekerja seni pertunjukan.

Selama masa kecil, pria yang suku Minangkabau ini tumbuh besar di Padang Sidempuan. Hingga pada tahun 1998 ia pergi ke Medan, untuk melanjutkan pendidikannya ke jenjang S1. Ia merupakan alumni S1 Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia FBS Universitas Negeri Medan (Unimed) tahun 2003. Saat ini, ia telah berkeluarga dengan memiliki seorang istri dan dua orang anak.

Hasan sudah menekuni dunia sastra selama ± 20 tahun. Awalnya ia bergabung ke Teater LKK Unimed tahun 1999, di situ ia mulai menekuni teater, hingga akhirnya bergerak ke menulis karena baginya menulis itu, merupakan sebuah cara menjadi mahasiswa yang berbeda dari yang lain.

Pada masa itu tidak banyak mahasiswa yang mau menulis, karena bagi mereka lebih penting mengurus dan fokus di dunia perkuliahan saja. Selain itu, ada hal lain yang membuatnya lebih menekuni dunia menulis, saat itu Hasan merupakan satu-satunya mahasiswa yang tulisannya sudah dimuat di koran, karena itu ia mendapatkan nilai A dari dosennya dan diperbolehkan tidak masuk kelas, selama mata kuliah Prosa Fiksi dan Drama.

Bagi Hasan, menulis membuatnya merasa “kaya”, karena ia boleh menjadi siapa saja. Menjadi seperti orang kaya, orang miskin, pengemis, bahkan menjadi hewan dan benda mati. Pada akhirnya menulis itu baginya merupakan sebuah terapi hidup, terapi jiwa yang membuat ia memiliki kawan bercerita yang setia dan tidak pernah membocorkan kepada orang lain apapun yang ia ceritakan dalam tulisan-tulisannya.

Banyak orang yang menganggap dunia sastra itu tidak menjanjikan, namun bagi Hasan tidak semua persoalan hidup itu tentang materi dan ia telah membuktikan bahwa banyak yang ia dapat melalui dunia sastra khususnya menulis.

“Apa pun dunianya, ketika engkau menyenanginya pasti kau akan menekuninya. Ketika kau menyenanginya dengan jujur dan tulus maka kau akan menekuninya bahkan sekalipun orang tidak suka dengan apa yang kau tekuni termasuk menulis,” ujar Hasan Al Banna.

Hasan telah memperoleh segudang prestasi baik di menulis, teater, dan musik. Buku Hasan yang berjudul “Antologi Sampan Zulaiha” mendapatkan penghargaan 10 Besar Buku Fiksi Terbaik Indonesia Khatulistiwa Award Tahun 2011. Tidak hanya itu, cerpen Hasan yang berjudul “Tiurmaida” masuk ke dalam 20 cerpen terbaik se-Indonesia tahun 2009, lalu puisinya yang berjudul “Tak Sudah Menafsir Rumah” merupakan 100 puisi terbaik se-Indonesia tahun 2010, hingga tulisannya yang berjudul “Hakikat Hamba dalam Puisi S. Ratman Suras” masuk ke dalam master esai Asia Tenggara tahun 2004. Namun baginya proses dalam menulis menjadi hal yang lebih penting daripada hasil yang diperoleh sekarang.

Menurutnya tidak ada tulisan yang paling berkesan, karena bagi seorang penulis khususnya Hasan, tulisan itu adalah anak-anaknya yang tidak boleh dibedakan mana yang berkesan dan tidak berkesan. Dari dalam diri seorang penulis, tulisan itu memiliki proses dan takdirnya masing-masing. Salah satu prestasinya di teater adalah ia menjadi sutradara terbaik antar mahasiswa se-Indonesia tahun 2002.

Selain di dunia kepenulisan, Hasan juga menekuni musikalisasi puisi. Sejak tahun 2006 ia dipercaya oleh Balai Bahasa Sumatera Utara, untuk membawa kontingen Sumatera Utara di Festival Musikalisasi Puisi tingkat Sumatera hingga Nasional. Baru-baru ini Tim Sumatera Utara yang dikomandoi oleh Hasan berhasil keluar menjadi Juara Harapan III Festival Musikalisasi Puisi Tingkat Nasional Tahun 2018 di Jakarta.

Selain memiliki prestasi yang gemilang, Hasan juga aktif dalam mengikuti bengkel (workshop) kepenulisan dan kegiatan sastra seperti Pertemuan Penyair Nusantara III di Kuala Lumpur-Malaysia. Semakin lengkap lagi, karya penulisan Hasan sering dimuat di berbagai media cetak seperti Mimbar Umum, Analisa, Waspada, dan lain-lain.

Di balik hasil yang diperoleh, tentunya terdapat proses berat yang harus dijalani. Salah satunya adalah proses latihan yang diberi Hasan adalah latihan daya tahan dan tapal kuda untuk melatih kepekaan hati dan keharmonisan kehidupan.

Hasan memiliki prinsip hidup yang selalu ia pegang di mana pun ia berada, yaitu “Bagiku menjadi manusia 1% itu adalah sebuah pertarungan yang tidak mudah, tetapi begitu pun saya tidak akan mau bergabung pada manusia yang 99% kalau hanya sebagai pengekor,” kata pria berusia 40 tahun tersebut.

Redaktur Tulisan: Intan Sari

About Media Pijar

Media Pijar: Pers Mahasiswa - Pelita Insan Terpelajar - Laboratorium Departemen Ilmu Komunikasi, Universitas Sumatera Utara, Medan.

Silahkan Lihat Artikel ini juga !

Sumber Foto: Dokumentasi Pribadi

Sutiknyo, Berkarya Melalui Perjalanan

“Dadio wong ing paran, lan sinauo teko paran.” Artinya, jadilah pejalan dan belajarlah dari perjalananmu.” Pijar, Medan. Bahagia itu sederhana. Hanya dengan melakukan hal-hal yang kita senangi maka kebahagiaan itu akan tercipta. Ada orang yang senang melukis, bermain musik, memasak, fotografi, videografi, dan masih banyak lagi.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *