Home / Galeri / Pluviophile
Ilustrasi: Hesmitha Eunike
Ilustrasi: Hesmitha Eunike

Pluviophile

Nurkhaliza

Hujan turun dengan derasnya di sore itu. Langit seolah menangis, menumpahkan segala kesedihan yang telah lama dipendamnya. Kesedihan yang tak mampu disimpan dalam waktu yang lebih lama lagi. Arisha enggan mengalihkan pandangannya dari jendela kamarnya. Setiap hujan turun, dia merasakan perasaan yang tak menentu.

Perasaan bahagia dan sedih datang di waktu yang bersamaan. Gemercik air hujan begitu menentramkan hatinya meski dia dalam kesendirian. Tetes demi tetes air hujan seperti alunan musik yang membuat dirinya merasa nyaman. Namun, dalam kesendiriannya mengagumi hujan, Arisha juga merasa sedih. Dia merasa rapuh, tak tahu apa yang harus dilakukan ketika teriakan itu kembali terngiang di kepalanya.

Pernikahan kedua orang tua Arisha kini sudah di ujung tanduk, ayahnya memiliki wanita lain yang bahkan kini tengah mengandung. Arisha kecewa luar biasa kepada sosok yang selama ini selalu dia banggakan dan dia anggap pahlawan dalam hidupnya. Sebelumnya dia selalu merasa ayahnya adalah laki-laki yang berbeda, tetapi kenyataannya tidak.

Suara parau dari ibunya yang entah sudah berapa lama berdiri melihatnya tersedu di dalam kamar.  “Arisha kenapa nangis, nak?”

Arisha mengalihkan pandangannya dan menatap ibunya yang kini sudah berdiri di sebelahnya. Dia tersenyum ketika ibunya menghapus jejak air mata yang dia sendiri pun tak menyadarinya.

“Arisha tidak apa-apa bu, hanya terlalu senang ketika melihat hujan,” kedua mata Arisha mencoba untuk memancarkan kebahagiaan palsu. Dia mencoba untuk tidak menambah kesedihan yang sedang melanda ibunya.

“Arisha, kamu jangan nangis lagi ya. Kita hadapi masalah dengan sabar, karena setiap masalah pasti ada jalan keluarnya” Ibu mengelus rambut lurus sebahu Arisha sembari tersenyum, mencoba member ketenangan.

“Iya bu, Arisha janji tidak akan nangis lagi. Arisha  janji akan sekuat ibu.”

Ibu tersenyum mendengar jawaban Arisha

“Ada-ada saja. Yaudah cepetan mandi, setelah itu kita makan malam ya.”

“Iya bu, tunggu Arisha ya.” Jawabnya singkat.

Sepeninggalan ibunya, Arisha kembali termenung sejenak. Dibukanya jendela kamar kemudian mengulurkan tangannya keluar, membiarkan setiap tetes air hujan membasahi tangannya.

“Aku harap, semua akan baik-baik saja. Hujan, terimakasih sudah menemani kesedihanku,” batinnya.

Keesokan

Tidak terasa satu jam telah berlalu, Fina mengajak Arisha untuk pulang karena waktu telah meunjukkan pukul 5 sore.

“Ar, ayo pulang! Langitnya mendung nih, mau hujan.” Fina bangkit dari duduknya dan menyandang tas sekolah warna biru putihnya.

“Aku di sini aja dulu deh Fin, masih pengen nikmatin suasana. Kamu kalau mau pulang duluan aja”

“Bener gak apa-apa nih? Nanti kamu kehujanan loh Ar. Tiat tuh langitnya udah mendung banget” Jari telunjuk Fina terangkat menunjuk langit.

“Aku bawa payung kok” Arisha mengeluarkan paying berwarna merah dari dalam tasnya.

“Yaudah Ar, aku pulang duluan ya. Kamu jangan terlalu lama di sini,” Fina kemudian berlalu dari hadapan Arisha, tak lupa memberi lambaian tangan sekilas tanda dia akan pergi.

Musim hujan kali ini mungkin akan menjadi musim hujan yang paling Arisha benci, meskipun di satu sisi ia mencintai deru air yang turun dari langit membasahi bumi. Arisha berlalu setelah hujan mulai deras dan air kini tergenang ketika ia menjejakkan kakinya.

Ia basah, sebasah-basahnya. Namun perasaan bahagianya ketika air hujan membasahi tubuhnya seketika musnah ketika mendengar suara ibunya terisak di dalam kamar.

“Ibu kenapa menangis?” Arisha berdiri di depan kamar.

Ibunya tak lagi mampu berkata-kata, hanya menunjukkan kertas putih yang Arisha sama sekali tak tahu itu apa.

“Ini surat cerai, nak. Hari itu akhirnya tiba juga. Ibu masih tidak percaya kalau ayahmu bakal menggugat cerai Ibu,” tangis Ibu semakin menjadi-jadi.

Air hujan yang tadinya membasahi pipi Arisha kini bercampur dengan air mata. Mungkin ini adalah akhir, namun kenapa Tuhan menyatukan Ibu dan Ayah kalau pada akhirnya mereka berpisah?

Arisha berlalu ke kamarnya. Meninggalkan Ibu yang masih menangisi keadaan.

Kalau boleh memilih, aku tidak ingin merasakan apa yang kurasakan sekarang. Ayah, mengapa kau tega mengkhianati ibu yang telah setia mendampingimu selama 15 tahun? Ayah, aku pikir kau adalah sosok laki-laki yang paling sempurna di dunia ini. Nyatanya tidak. Aku sangat kecewa, aku ingin menangis setiap melihat kesedihan yang terpancar dari wajah ibu. Aku tahu, aku tidak boleh menyalahkan takdir Tuhan. Semoga dengan berpisahnya ibu dari ayah, adalah jalan yang terbaik untuk keluarga kita. Terimakasih ayah, walau bagaimanapun aku dan ibu pernanh menyayangimu dengan tulus.

 

About Media Pijar

Media Pijar: Pers Mahasiswa - Pelita Insan Terpelajar - Laboratorium Departemen Ilmu Komunikasi, Universitas Sumatera Utara, Medan.

Silahkan Lihat Artikel ini juga !

FullSizeRender

Bertepuk Sebelah Tangan

Gabriella Prily Elvani Pagi itu cerah, namun tak secerah perasaanku. Sapaan pagi yang biasanya mengganggu …

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *