Home / Berita / Mengenal Penghayat Kepercayaan Nusantara Secara Inklusif

Mengenal Penghayat Kepercayaan Nusantara Secara Inklusif

(Sumber Foto: Dokumentasi Pribadi)

Hidayat Sikumbang

Pijar, Medan. Indonesia dikenal dengan aneka ragam suku dan budayanya. Tahun 2010 Badan Pusat Statistik (BPS) merangkum data yang menyebut ada 1331 kategori suku. Sebagai negara “gemah ripah loh jinawi” mungkin saja hanya Indonesia yang memiliki satu hal dan mungkin tidak dimiliki negara-negara lain, yakni penghayat kepercayaan. Sebut saja Parmalim, Kejawen, Marapu, dan kepercayaan-kepercayaan lain yang hanya ditemukan di Indonesia.

Pemerintah telah mengatur lewat Mahkamah Konstitusi (MK) bahwa Kemendagri nantinya akan mencetak e-KTP dengan membolehkan kolom agama diisi ‘Penghayat’ di awal 2019 ini. Jika menilik ke belakang, pada 1965 para penghayat kepercayaan akan diawasi secara ketat. Alasannya sederhana. Pemerintah tidak ingin ada bibit komunisme.

Lambat laun, negara berusaha untuk merangkul kembali para penganut kepercayaan melalui lahirnya TAP MPR tentang GBHN yang menyatakan agama dan kepercayaan adalah ekspresi kepercayaan terhadap Tuhan yang Maha Esa (YME) yang sama-sama ‘sah’, dan keduanya ‘setara’, yaitu pada 1973. Akan tetapi, situasi mulai berubah kembali sejak 1978. Penganut kepercayaan tidak termasuk dalam 5 Agama yang diakui. Pemerintah pada saat itu menganggap bahwa aliran kepercayaan lokal bukanlah sebuah agama, melainkan tak lebih dari sebuah kebudayaan.

Diskriminasi demi diskriminasi yang terjadi membuat pemberontakan pun bergejolak. Pemerintah sejak kini tak lagi mengosongkan kolom agama para penghayat. Sejak 2019 ini, kolom agama mereka akan bertuliskan “Kepercayaan Terhadap Tuhan YME”.

Peserta dibagi menjadi beberapa kelas, dan di Kelas Marapu, Michael Keraf menjelaskan tentang bagaimana kehidupan masyarakat Sumba yang masih menganut kepercayaan Marapu. (Fotografer: Hidayat Sikumbang)
Peserta dibagi menjadi beberapa kelas, dan di Kelas Marapu, Michael Keraf menjelaskan tentang bagaimana kehidupan masyarakat Sumba yang masih menganut kepercayaan Marapu.
(Sumber Foto: Dokumentasi Pribadi)

Michael Keraf, seorang direktur Yayasan Donders dalam sebuah pertemuan yang bertajuk “Kewargaan Inklusif untuk Mewujudkan Indonesia Setara & Semartabat” menyebutkan bahwa di Indonesia masih banyak penganut kepercayaan yang masih melestarikan ritual yang mereka anggap sakral. “Orang Marapu itu kalau kita datang ke Sumba, masyarakatnya sangat ramah. Kita datang ke bumi mereka akan disambut dengan tradisi cium hidung,” kata pria yang juga merupakan seorang Pastor ini.

Michael Keraf merupakan seorang Pastor yang berasal dari Pulau Lembata. Namun rasa cinta dan kasihnya terhadap penganut Marapu tak bisa dipisahkan. Michael menjelaskan, bahwa Marapu adalah perantara dari Tuhan dan umat manusia. “Marapu itu percaya bahwa Tuhan akan berkomunikasi lewat arwah leluhur yang telah tiada. Mayoritas masyarakat Sumba percaya bahwa leluhur yang telah meninggal dunia dapat berkomunikasi dengan Tuhan,” ujarnya.

Senada dengan Michael, Dadi Manumesa juga menyebutkan bahwa tradisi yang dilakukan Marapu masih terjaga hingga detik ini. “Jadi saya itu melanjutkan sekolah di Teologi. Ayah saya sebagai penganut Marapu, dan itu tidak ada masalah. Ayah saya percaya bahwa apa yang telah diberikan Tuhan kepada kami adalah yang terbaik. Dan itu terjadi lewat ramalan yang diritualkan berupa seekor ayam,” kata Dadi.

Dadi melanjutkan, meskipun begitu masih tetap saja ada beberapa diskriminasi yang pernah terjadi terhadap Marapu. “Seperti pelajaran-pelajaran di bangku sekolah. Dulu pernah ada beberapa kasus terhadap pelajaran Agama. Marapu tidak diakui sebagai Agama, dan siswa harus mengikuti pelajaran Agama yang diakui pemerintah,” tambah Dadi.

Acara yang diselenggarakan Program Peduli dan SATUNAMA ini diselenggarakan pada Selasa, (26/02) di Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Medan (Unimed). Paskalina yang juga merupakan Mahasiswi Unimed menyebut bahwa masyarakat Marapu sudah mampu menerapkan yang namanya cinta kasih. “Jadikan, aku bisa tahu kayak mana sih agama lain di luar Sumatera Utara. Dan Marapu, itu ternyata ada juga yang membantu masyarakat Marapu sendiri, dan itu ternyata dari agama luar. Sejauh inikan yang aku tahu itu aliran penghayat itu cuma Parmalim,” kata Paska.

Redaktur Tulisan: Intan Sari

About Media Pijar

Media Pijar: Pers Mahasiswa - Pelita Insan Terpelajar - Laboratorium Departemen Ilmu Komunikasi, Universitas Sumatera Utara, Medan.

Silahkan Lihat Artikel ini juga !

Fotograger: Azka Fikri

Belajar Membuat Konten untuk Pemilu Damai

Pijar, Medan. Kementerian Komunikasi dan Informasi (Kemkominfo) bersama indonesiabaik.id dan Komisi Pemilihan Umum (KPU) menyelenggarakan Talkshow dan Workshop Santun Bermedia Sosial untuk Pemilu Damai di Aula Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara (FISIP USU), Sabtu (16/03).

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *