Home / Sosok / Mumtaz, Mahasiswa USU dengan Segudang Prestasi

Mumtaz, Mahasiswa USU dengan Segudang Prestasi

Sumber Foto: Dokumentasi Pribadi

“Tidak masalah kita jadi ikan kecil di kolam besar yang isinya ikan besar, daripada jadi ikan besar di kolam kecil yang isinya ikan kecil. Artinya tidak masalah kita biasa saja tetapi berada di tengah-tengah orang hebat. Life is a choice, choose a good choise.”

Akbar Gading Barus / Syilvia Agustina

Pijar, Medan. Mumtazia Aulia Fitri yang akrab dipanggil dengan sapaan Mumtaz merupakan salah satu Mahasiswa Universitas Sumatera Utara Fakultas Ilmu Budaya Jurusan Sastra jepang (S-1) Stambuk 2017. Perempuan kelahiran Jakarta, 6 Januari 2000 ini merupakan anak pertama dari dua bersaudara. Gadis berusia 19 tahun ini memiliki segudang prestasi yang luar biasa, ia mendapat banyak beasiswa semasa ia menempuh pendidikan.

Perempuan kelahiran Jakarta ini di antaranya mendapat dua beasiswa, yaitu Beasiswa Bidik Misi dan Beasiswa Jasso Jepang Universitas Hiroshima selama dua minggu. Gadis yang memiliki hobi menonton YouTube, membaca buku, menulis, dan menggambar ini, bercita-cita menjadi presiden atau filsuf seperti Imam al-Ghazali, Aristoteles, dan lainnya.

Mumtaz juga aktif organisasi di kampus tempat ia berkuliah. Ia menguasai tujuh Bahasa, Indonesia, Jepang, Inggris, Arab, Jerman, Korea, dan Mandarin. Dikarenakan keahliannya dalam menguasai berbagai bahasa, ia sering mendapat kesempatan untuk menginjakkan kakinya ke luar negeri, di berbagai kota di negara Eropa pada tahun 2016, kemudian ke Tokyo dan Prefektur Yamanashi di tahun 2019, serta ke Hiroshima, Miyajima, dan Daiso Shouji.

Walaupun mempunyai banyak kegiatan yang cukup menyita waktu, tak menjadi halangan baginya untuk mendapatkan segudang prestasi. Ada banyak berbagai macam prestasi yang ia peroleh sedari SD di mana ia memenangkan Juara 1, Juara 2 dan Juara 3 Lomba Cerdas Cermat Islami di MIN Belawan dan menjadi peserta Olympiade Matematika pada 2010.

Tidak hanya berhenti berprestasi pada tahun 2010 saja, perempuan berhijab panjang ini juga berprestasi di tahun 2014 dan 2015, dia meraih Juara Harapan 3 Olympiade Bahasa Jerman tingkat SMA Sederajat Se-Provinsi dan meraih Juara 2 Lomba Membuat Mading Berbahasa Jerman di Universitas Negeri Medan.

Pada tahun 2016, dia lulus mengikuti Program Pertukaran Pelajar ke Jepang Jenesys. Tahun 2017, dia meraih Juara 3 Lomba Pidato Bahasa Jepang di Universitas Sumatera Utara yang bekerja sama dengan Japan Foundation. Pada tahun 2018, dia Juara 1 Lomba Pidato Essay Bahasa Jepang tingkat Mahasiswa di Universitas Darma Persada yang bekerja sama dengan Universitas Hiroshima. Dan di tahun 2019 ini, gadis berhijab ini mengikuti Special Training Japanese Language and Culture di Universitas Hiroshima. Namun, selain meraih beribu prestasi ia juga menjadi guru ngaji untuk anak-anak di sekitaran rumahnya.

Untuk mendapatkan itu semua bukanlah hal yang mudah, ia memerlukan bantuan dan dukungan dari kedua orang tuanya serta orang-orang terdekatnya. Ia juga tidak lupa untuk selalu bersyukur dan berdoa kepada Allah SWT. Di balik semua yang sudah ia lakukan, ia mempunyai tips yang telah diterapkannya sehingga ia bisa menjadi mahasiswa yang berprestasi.

“Pertama, memulai sesuatu dengan Bismillah, mempunyai niat yang kuat untuk terus mengukir prestasi. Kedua, berdoa dan mintalah restu orang tua. Ketiga, pantang menyerah, egois terhadap ilmu pengetahuan dan terus giat belajar dari masa lalu, karena jika kita egois akan ilmu berarti kita salah satu yang ingin mewujudkan mimpi menjadi nyata. Man Jadda Wa Jada,” kata Mumtaz.

Pengalaman Mumtaz

Ketika berada di Jepang, Mumtaz sempat ditanyai berbagai pertanyaan semasa berada di sana. “Mereka curiga banget sama kita kaum muslimah, berbagai macam pertanyaan mereka tanyakan, “Kok pakai ginian?” “Gak panas?” “Kok yang lain ada yang gak pakai?” Dan mereka juga bertanya tentang sholat dan makanan halal terus minta diliatin cara pakai jilbab,” Kata Mumtaz mengenang.

“Jadi semua itu sangatlah berkesan bagi saya, karena saya merasa berarti mereka penasaran dengan identitas saya. Sedikit banyak yang kita share mengenai identity kita sama mereka, berarti kita sedang memperluas agama kita dan memberitahu siapa kita sebenarnya,” tambahnya.

Perempuan yang banyak mengukir prestasi sekaligus menjadi seorang guru ngaji ini, awalnya memahami Bahasa Arab pada usia 5 tahun dan mengikuti les Bahasa Inggris di usia 9 tahun. Kemudian semasa SMA ia mulai belajar Bahasa Jerman dan Jepang. Lalu ia memperluas bahasa tersebut melalui internet dan melatih dirinya bercakap-cakap sendiri. Hal ini ia lakukan secara rutin hingga akhirnya ia memahami bahasa tersebut sampai sekarang.

Alasan ia semangat belajar beragam bahasa, adalah agar ia bisa berkomunikasi ke orang asing di luar negeri dengan bahasanya. “Selain mereka merasa senang dan merasa dihargai, mereka juga bisa lebih dekat dengan kita. Jadilah orang yang ramah terhadap orang lain agar kita gampang beradaptasi,” Pesan Mumtaz tersenyum.

(Redaktur Tulisan: Intan Sari)

About Media Pijar

Media Pijar: Pers Mahasiswa - Pelita Insan Terpelajar - Laboratorium Departemen Ilmu Komunikasi, Universitas Sumatera Utara, Medan.

Silahkan Lihat Artikel ini juga !

Sumber Foto: Dokumentasi Pribadi

Sutiknyo, Berkarya Melalui Perjalanan

“Dadio wong ing paran, lan sinauo teko paran.” Artinya, jadilah pejalan dan belajarlah dari perjalananmu.” Pijar, Medan. Bahagia itu sederhana. Hanya dengan melakukan hal-hal yang kita senangi maka kebahagiaan itu akan tercipta. Ada orang yang senang melukis, bermain musik, memasak, fotografi, videografi, dan masih banyak lagi.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *