Home / Lifestyle / Earth Hour, Cara Sederhana Selamatkan Bumi

Earth Hour, Cara Sederhana Selamatkan Bumi

Sumber Gambar: rosiecomia

Star Yeheskiel Munthe 

“Aku, biarlah seperti bumi. Menopang meski diinjak, memberi meski dihujani, diam meski dipanasi. Sampai kau sadar, jika aku hancur… kau juga.”(Fiersa Besari-Garis Waktu)

Pijar, Medan. Bumi terlalu tua untuk dibiarkan menyembuhkan dirinya sendiri. Adalah hal yang sangat mulia apabila seisi bumi, terutama manusia, mau menyelamatkannya dari krisis. Bumi tua dari segi fisik bukan hanya karena ulahnya saja. Cukup besar andil makhluk hidup, terutama manausia dalam perubahan wajah bumi yang berdampak perubahan iklim. Selayaknya manusia bertanggung jawab atas perlakuannya.

Kepedulian manusia pada bumi memang tidak terlalu ramai. Namun, dari hal kecil sekalipun bumi akan sangat tertolong. Salah satu bentuk kepedulian itu ialah Earth Hour (Jam Dunia). Earth Hour adalah sebuah bentuk kampanye mematikan lampu atau sumber cahaya lainnya pada suatu wilayah selama satu jam. Pada awalnya Earth Hour dilakukan pada tahun 2007 di Sydney, Australia.

Berdasarkan data yang dipublikasikan oleh www.earthhour.org, Pada tahun 2019 Earth Hour telah dilaksanakan di 188 negara termasuk tanah air tercinta, Indonesia.

Gerakan Earth Hour identik dengan penghematan energi. Hal ini karena gerakan Earth Hour dipersepsikan publik sebagai sebuah aksi pemadaman lampu dan alat elektronik selama 60 menit dengan simbol 60+.

Dilansir dari situs resmi WWF, aksi memadamkan lampu selama satu jam menjadi simbol yang mengisyaratkan solidaritas untuk planet bumi. Bumi sedang krisis, Bumi sedang sakit, Bumi butuh pertolongan. Kerusakan bumi berjalan terlalu cepat. Bahkan kerusakan ini telah berdampak besar pada ekosistem, yakni, sebanyak 80% spesies air telah punah, sedangkan 50% spesies darat telah punah, dan ada 40% hutan berubah menjadi lahan pemukiman dan pertanian.

“Mengapa Earth Hour dapat menyelamatkan Bumi?”

 Memang mematikan listrik selama satu jam adalah hal yang sepele, padahal, jika dihitung secara akumulatif, begitu besar energi yang berhasil dihemat. Penghematan listrik ini akhirnya akan berdampak pada keutuhan bumi sendiri serta mampu meminimalisir dampak perubahan iklim. Karena semakin rendah konsumsi listrik, semakin rendah pula emisi karbon yang dihasilkan dari pembangkit listrik.

Perlu diketahui juga, bahwa Earth Hour dan pemadaman listrik secara bergilir oleh PLN merupakan hal yang tidak ada kaitannya. Earth Hour ditujukan kepada publik untuk melakukan suatu revolusi gaya hidup—yang kemudian dianggap berhasil apabila bisa dilakukan semua orang; kapan saja, di mana saja, sesering mungkin, dan tanpa menunggu orang lain atau momen tertentu.

Bagi Indonesia, Earth Hour 2019 merupakan partisipasinya yang kesebelas. Earth Hour yang dilaksanakan pada 30 maret pada pukul 20.30 WIB sampai 21.30 WIB direalisasikan melalui cara memadamkan lampu gedung-gedung ikonik di seluruh negara selama satu jam.

Dikutip dari www.tribunnews.com, CEO World Wild Fund (WWF) Indonesia, Rizal Malik mengatakan, “Earth Hour adalah momen untuk mengembalikan hubungan yang lebih baik antara manusia dengan alam, serta menempatkan pelestarian lingkungan sebagai prioritas utama dalam agenda nasional dan lokal,” katanya.

Dewi Satriani selaku Manajer kampanye WWF-Indonesia mengatakan, “Earth Hour di Indonesia dikenal dunia sebagai gerakan komunitas terbesar. Selama tiga tahun kedepan  Komunitas Earth Hour bersama WWF-Indonesia akan mendukung pemerintah Indonesia untuk pencapaian komitmen pengurangan emisi sebanayak 26% pada 2020 melalui gerakan reforestasi,” jelasnya.

Mahasiswa selaku bagian utama dari rotasi keproduktifan diharapkan juga mampu mengerti dan peduli atas isu-isu lingkungan. Dengan pembekalan budaya Earth Hour ini, mahasiswa dianggap mampu meneruskan tradisi solidaritas serta berinovasi kearah penyegaran kembali bumi yang tua ini.

“Pilih bumi sekarat atau selamat? Ini aksiku, mana aksimu?”

Redaktur Tulisan: Intan Sari

 

About Media Pijar

Media Pijar: Pers Mahasiswa - Pelita Insan Terpelajar - Laboratorium Departemen Ilmu Komunikasi, Universitas Sumatera Utara, Medan.

Silahkan Lihat Artikel ini juga !

Sumber Foto: Kompas.com

Fruitarian, Diet Hanya Makan Buah?

Fruitarian adalah mengganti pola makan dengan hanya memakan buah-buahan, biji-bijian, kacang-kacangan, serta yang lebih ekstrem lagi memakan buah dari tanaman yang hanya jatuh dari pohonnya secara alami. Si Fruitarian hanya akan memakan buah-buahan yang jatuh dari pohonnya tanpa harus memetik dan memanen yang dapat merusak pohon buah tersebut.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *