Home / Lifestyle / Berbagi Hal Baik pada Bulan yang Manis

Berbagi Hal Baik pada Bulan yang Manis

sumber foto: proklamatornews.com

Nadya Divariz Bhayitta Syam

Pijar, Medan. Ada sebuah kalimat bijak yang sering beredar di jejaring sosial, “Jika kamu tidak bisa menemukan orang baik, maka jadilah orang baik”. Mungkin hal ini juga yang kemudian mendorong sebagian besar orang untuk melakukan kebajikan.

Ramadhan, bulan dimana umat muslim yang sudah dewasa diwajibkan menahan lapar, dahaga, dan nafsu dari pagi hingga petang. Di bulan kesembilan dalam kalender Islam ini ada begitu banyak hal yang bisa diamati.

Membeli kudapan manis adalah sebuah kebiasaan yang kerap dilakukan terlepas dari sedang berpuasa atau tidaknya. Hal ini juga didukung dengan menjamurnya pedagang beragam macam kue dan es. Kudapan ini seringkali disebut sebagi takjil. Takjil dalam bahasa artinya mempercepat (dalam berbuka puasa), namun dalam penggunaannya kemudian terjadi pergeseran makna. Kini takjil identik dengan makanan untuk berbuka puasa seperti kolak, es buah, dan penganan manis lainnya.

Tapi sudahkah Sobat Pijar melihat lebih seksama dan menemukan sesuatu yang berbeda? Pernah melihat sekumpulan orang membawa kotak atau bungkusan berisi kudapan manis untuk berbuka? Atau mungkin menjadi salah satunya? Hai beberapa persen manusia baik pahlawan takjil!

Mereka juga adalah sebuah fenomena yang makin sering terlihat di bulan puasa ini, dan tidak boleh dibiarkan lupt dari pengamatan. Berdasarkan hadits dari Zaid bin Khalid Al Juhani ra, Rasulullah mengatakan bahwa memberi makan orang yang berpuasa sama pahalanya dengan mereka yang berpuasa. Selain itu ada banyak alasan kemanusiaan lainnya.

Semua ajaran di dunia ini mengajarkan tentang betapa indahnya dunia yang dihiasi perbuatan terpuji dan indahnya berbagi. Itu pula yang dijadikan patokan oleh mereka yang melakukan kegiatan berbagi takjil.

Hadir dalam segala bentuk, kegiatan berbagi makanan berbuka gratis juga sering dilakukan sebagai salah satu program kerja, serangkaian acara peringatan sesuatu, hingga yang hanya sebagai bentuk rasa syukur atas apa yang telah dicapai selama ini.

“Sebagai pengurus OSIS SMK Kesehatan Nusantara kegiatan berbagi ini akan sellau dikenang. Karena berbagi pada bulan Ramadhan bersama orang-orang yang lewat di jalan adalah sebuah pengalaman berarti,” kata ketua OSIS SMK Kesehatan Nusantara seperti yang dilansir dari forumnusantaranews.com

Kegiatan berbagi ini tidak hanya dilakukan oleh individu atau sekelompok orang, tapi juga berbagai organisasi. Tempat pelaksanaannya pun bisa di semua tempat. Lokasi beribadah seperti masjid, gereja, vihara, maupun kuil. Pusat perbelanjaan, hingga pinggir jalan.

Dikutip dari kompas.com mahasiswa non muslim IKIP BU Malang juga ikut turut serta dalam kegiatan berbagi takjil. “Kegiatan ini diselenggarakan seutuhnya untuk menjalin raa kebersamaan dan toleransi. Pihak mahasiswa juga sukarela saat terlibat langsung dalam acara,”ucap Nurcholis.

Di Medan sendiri ada begitu banyak acara berbagi takjil yang pernah Sobat Pijar lihat atau lakukan. Dikemas dalam berbagai cara, berbagi tidak lagi terbatas hanya pada agama, suku ataupun ras. Tapi tentang kemanusiaan.

“Karena kebaikan adalah bahasa universal.”

About Media Pijar

Media Pijar: Pers Mahasiswa - Pelita Insan Terpelajar - Laboratorium Departemen Ilmu Komunikasi, Universitas Sumatera Utara, Medan.

Silahkan Lihat Artikel ini juga !

Fotografer: Hidayat Sikumbang

Mudik, Budaya yang Dilestarikan

Mudik awalnya merupakan kosa kata Betawi yang artinya menuju ke selatan atau menuju hulu (udik). Antonim atau lawan kata dari mudik sendiri adalah milir, yakni menuju utara atau menuju hilir (muara). Hal ini terangkum jelas dalam sebuah lirik lagu “Selamat Lebaran” karya Ismail Marzuki. Kalau lebaran di Jakarta pada tahun 1950-an, naik trem sehari bisa milir mudik karena 'prey'.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *