Home / Sosok / Rassya Priyandira, Millenial Berkarya bersama Budaya

Rassya Priyandira, Millenial Berkarya bersama Budaya

Sumber Foto: Realta Publisher

Realta Publisher

Pijar, Medan. Puisi merupakan karya sastra yang belakangan dianggap kuno oleh sebagian besar masyarakat, khususnya generasi milenial. Tak jarang mereka mereka yang masih menggeluti dunia puisi dianggap kuno dan tidak menarik.  Namun, jangan salah. Setiap karya selalu memiliki penikmatnya sendiri.

Rassya Priyandira salah satunya, pemuda kelahiran 19 Januari 2001 ini sudah tertarik dengan dunia puisi sejak duduk bangku sekolah. Hobinya itu mengantarkan ia menyabet beberapa juara pada kompetisi musikalisasi puisi, mulai dari tingkat daerah hingga nasional.

Adapun kejuaraan yang pernah ia ikuti yaitu Festival musikalisasi puisi tingkat provinsi yang diadakan di Medan, dilanjutkan dengan kegiatan serupa bertaraf se-kepulauan (Sumatera) yang berlangsung di kota Padang, hingga mencapai puncaknya ketika Rassya mengikuti kejuaraan oleh acara yang sama namun berstandar nasional di Ibu Kota Indonesia, Jakarta.

Selain musikalisasi puisi, Rassya juga mahir memainkan alat musik. Ia tergabung di salah satu band yang ia dirikan bersama teman temannya yaitu Story for Luna. Band beraliran post rock ini memulai debutnya di tahun 2017 silam dan mulai mengembangkan sayapnya di dunia permusikan lokal.

Single terbaru mereka “Stay or Leave, End it” kini dapat didengarkan di aplikasi musik online seperti Spotify. Di Story for Luna sendiri, Rassya memainkan alat musik Bass. Melalui hobi bermain gitar, tidak seperti musikalisasi puisi, cakupan publikasi Rassya lebih luas. Selain bisa menuangkan hobinya tersebut dengan menjadi salah satu personil band, ia mengakui lebih banyak kompetisi atau festival dengan cabang lomba alat musik, terutama gitar.

Di balik kesibukannya sebagai personil band, Rassya tetap tidak melalaikan tugasnya sebagai mahasiswa. Ia tetap aktif berkuliah di Ilmu Komunikasi Universitas Sumatera Utara dan kini sudah duduk di semester 2. Bahkan, ia juga mengikuti organisasi di kampusnya sebagai Reporter di Pers Mahasiswa Pijar USU.

Ia mengatakan bahwa membagi waktu secara maksimal adalah hal mungkin saja dilakukan, asalkan didasari niat dan tekat yang kuat. Kini, besar harapan Rassya bahwa generasi muda mau melestarikan budaya sastra Indonesia meskipun dilanda efek globalisasi besar-besaran. Menurut Rassya, generasi muda Indonesia sebenarnya sangat berpotensi untuk mengembangkan kreativitas dalam bidang sastra. Hanya saja, memang butuh tekad dan motivasi yang kuat agar mau turut berpartisipasi melestarikan budaya.

Redaktur Tulisan: Intan Sari

About Media Pijar

Media Pijar: Pers Mahasiswa - Pelita Insan Terpelajar - Laboratorium Departemen Ilmu Komunikasi, Universitas Sumatera Utara, Medan.

Silahkan Lihat Artikel ini juga !

Fotografer: Hidayat Sikumbang

Ahmad Fuadi, Penulis Kaya Prestasi

Negeri 5 Menara, Ranah 3 Warna, Rantau 1 Muara, hingga Anak Rantau adalah hasil buah tangan dingin dari seorang mantan wartawan TEMPO. Tangan dingin Ahmad Fuadi mampu meracik cerita-cerita yang berlatar Minang, suku asalnya yang terkenal akan merantau.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *