Home / Berita / Special Olympics Indonesia Asah Kreativitas Atlet Tuna Grahita Melalui Doodle Art
IMG_20190525_204448 (1)

Special Olympics Indonesia Asah Kreativitas Atlet Tuna Grahita Melalui Doodle Art

Ainun Putri Lubis

Pijar, Medan. Special Olympics bersama Youth Activation Club Special Olympics Indonesia  sukses mengadakan acara memperingati Inklusivitas dengan  tema “The Revolution is Inclusion”  di Santika Dyandra Premiere Hotel & Convention pada Sabtu (25/5).

Special Olympics adalah sebuah gerakan global yang didirikan oleh Eunice Kennedy Shriver pada tahun 1968 dan karena kekhususannya. Telah diakui oleh International Olympics Committee (IOC) sebagai satu-satunya olimpiade olahraga khusus Penyandang Disabilitas Intelektual di dunai. Sekitar 170 negara telah bergabung dalam gerakan Special Olympics, salah satunya Indonesia.

Mengambil tema “The Revolution Is Inclusion” diharapkan masyarakat juga akan lebih inklusif terhadap teman-teman penyandang disabilitas. “Kegiatan hari ini diadakan untuk memperkenalkan kepada masyarakat bahwa ada teman-teman tuna grahita yang belum berkenalan dengan kita. Nah, di sini kita mengajak mereka berkegiatan bersama, bisa dengan berjalan bersama, makan bersama dan juga menggambar bersama. Jadi teman-teman bisa sharing,” tutur Satyananda Kusuma selaku ketua panitia.

Sebelum dilaksanakan buka puasa bersama, ada sebuah lokakarya Doodle Art terlebih dahulu untuk melatih kreativitas para atlet dan tamu undangan yang hadir. Kemudian setelah berbuka puasa bersama dan ibadah salat, semua peserta baik teman-teman atlet maupun non atlet bekerja sama dalam kompetisi  membuat karya Doodle Art, yang bertemakan “Berbeda-beda tetapi Tetap Satu,” yang beranggotakan satu orang atlet dan dua orang non atlet.

Atlet bersama dua orang non Atlet sedang membuat Doodle Art. (25/5)  (Fotografer: Ainun Putri Lubis)
Atlet bersama dua orang non Atlet sedang membuat Doodle Art. (25/5) (Fotografer: Ainun Putri Lubis)

“Teman-teman disabilitas intelektual, memang mereka terbatas secara IQ tetapi mereka bisa berprestasi lewat olahraga, ataupun lewat seni. Mereka juga manusia biasa seperti kita yang diberikan Tuhan kemampuan. Mari kita fokus pada kebisaan dan kemampuan kita, jangan fokus pada ketidakbisaan kita,” tegas Ibu Nana, selaku perwakilan Special Olympics pusat.

Satya menganggap bahwa harus ada kesadaran dan perhatian lebih terhadap mereka yang menyandang disabilitas. Jangan hanya diskriminasi, tetapi setiap orang harus mampu menggandeng masing-masing dan menghilangkan ego. “Inklusi ini semoga berjalan (dengan baik) di masyarakat. Jadi seperti kegiatan di awal, kita menyadarkan teman-teman bahwa kadang-kadang kita terlalu mengesampingkan teman-teman yang sebenarnya butuh perhatian kita. Seperti kita melihat teman-teman yang makan sendirian tetapi kita tidak menghampirinya dan lain sebagainya. Jadi kesadaran diri masing-masing harus lah lebih kita tingkatkan. Open yourself up dan lihatlah dunia, kita semua berbeda tetapi kita luar biasa,” tutup Satya.

Redaktur Tulisan: Hidayat Sikumbang

About Media Pijar

Media Pijar: Pers Mahasiswa - Pelita Insan Terpelajar - Laboratorium Departemen Ilmu Komunikasi, Universitas Sumatera Utara, Medan.

Silahkan Lihat Artikel ini juga !

Fotografer: Mhd Abdul Fattah

Peringati Hari Literasi Internasional, GenBI lakukan Pojok Literasi

08 September 2019 adalah peringatan Hari Literasi Internasional yang ditetapkan oleh UNESCO di tahun 1965 lalu. Peringatan literasi ini berlatar belakang melalui Hari Aksara di mana manusia mulai mengenal dan melek huruf. Namun saat ini dirasa sudah berkurang manusia yang tidak tahu akan huruf, sehingga lebih tepatnya kepada bagaimana tingkat minat membaca manusia pada saat sekarang ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *