Home / Lifestyle / Morning Person dan Night Person, Apakah Anda Salah Satunya?

Morning Person dan Night Person, Apakah Anda Salah Satunya?

Sumber Foto: Line Today

Shally Anggia 

Pijar, Medan. Dilihat dari waktu tidurnya, manusia digolongkan pada dua tipe, yakni tim orang yang tidur di awal dan bangun pagi-pagi alias morning person (early bird). Untuk tim yang kedua, mereka kebalikan dari tim pertama. Tim kedua ialah tim yang tidur larut malam bahkan pagi dan bangunnya lebih siang alias night person (Night Owl). Untuk lebih jelasnya, yuk kita lihat perbedaan dari kedua tim, biar sobat pijar tahu berada di tim yang mana.

Bagi morning person, segala aktivitas mereka dimulai pada pukul 06.00 pagi tanpa mematikan alarm saat berdering dan sudah menjadi kebiasaan mereka menyambut hari dengan penuh semangat serta keceriaan dengan melakukan olahraga di pagi hari, membaca koran juga sarapan. Ketika berada di perjalanan memulai kegiatannya, tim ini umumnya, menggunakan waktu untuk membaca buku atau melakukan kesibukan yang bermanfaat. Pada malam hari, tim pertama tidak bisa dihubungi lagi setelah jam 10, alasannya mereka sudah bersiap-siap memejamkan mata diatas kasur dan sudah mematikan semua gawai yang ada.

Berlawanan dengan tim diatas, night person (mendahului aktivitas pada jam 06.00 malam, mereka aktif menggunakan gawai dan seringkali membalas pesan  diatas jam 10. Bagi night person, malam hari merupakan waktu yang tepat untuk melakukan hal-hal yang disukai dan lebih semangat dalam mengerjakannya. Karena tidur larut malam, mereka tidak bisa bangun pagi dan lazimnya, mematikan alarm saat berdering dan balik tidur lagi. Morning person ceria menyambut pagi, berbeda dengan night person yang justru merasa kesal saat mengetahui kalau pagi telah tiba. Satu lagi, night person dalam perjalanan ke kantor atau sekolah, waktunya digunakan untuk mengistirahatkan mata yang lelah menyala pada malam hari.

Akan tetapi, jangan anggap bahwa night person itu adalah orang-orang malas yang mengatur waktu sesuka hatinya dan kurang motivasi, hanya saja mereka nyaman dengan lingkungan malam mereka. Jadi jangan sedih dulu kalau kamu berada di night person dan membanggakan diri menjadi si morning person, karena masing-masing dari kedua tim memiliki kelebihannya masing-masing.

Morning person akan memiliki suasana hati yang bagus dibandingkan dengan night person, mereka juga menjalani hari dengan tingkat kelelahan yang rendah disebabkan tidur malam yang cukup. Ketika bangun dari tidur, tubuh memasuki zona pembakar lemak yang dapat memperlancar metabolisme dan bangun pagi membuat sistem imun yang kuat, itulah kenapa tim morning person lebih sehat. Bahkan berdasarkan penelitian yang dilakukan Cancer Research Institute, wanita yang bangun lebih awal cenderung jarang terkena kanker payudara, sedangkan night person dua kali lipat lebih rentan terkena penyakit mengerikan ini.

Dalam percobaan yang dilakukan oleh Catholic University of the Sacred Heart di Milan, para periset menemukan bahwa mereka yang aktif di malam hari mampu menghasilkan lebih banyak solusi kreatif untuk sebuah permasalahan. Sederhananya, night person lebih kreatifcerdas dan produktif jika dibandingkan dengan morning person.

Kekurangan dari tim ini adalah dari segi kesehatan, Dr. Suzana Almoosawi dari Brain, Performance and Nutrition Reasearch Centre Nothumbria University, menemukan para night owl cenderung mengonsumsi makanan yang kurang sehat seperti alkohol, gula, minuman berkafein dan fast food.  Night person juga melewatkan sarapan pagi yang dapat menyebabkan terganggunya siklus makan yang berujung pada gangguan kesehatan. Kemudian, begadang yang sudah menjadi kebiasaan night person dapat meningkatkan penyakit berbahaya seperti kolesterol, risiko diabetes, naiknya tekanan darah serta obesitas.

Redaktur Tulisan: Hidayat Sikumbang

About Media Pijar

Media Pijar: Pers Mahasiswa - Pelita Insan Terpelajar - Laboratorium Departemen Ilmu Komunikasi, Universitas Sumatera Utara, Medan.

Silahkan Lihat Artikel ini juga !

Sumber Foto: Pinterest

Indonesia Darurat Toleransi? Tidak, Kita Hanya Salah Kaprah

Pijar, Medan. Sejak masuknya era globalisasi, kita dihadapkan pada dunia yang serba terbuka. Akses internet yang meluas di dunia global, khususnya di Indonesia membuat kita masuk ke dalam desa global (global village). Kita jadi tahu kebiasaan teman kita di ujung dunia sana, kita jadi tahu bagaimana kebudayaan di suatu tempat, bagaimana pola komunikasi, kultur, ataupun hal-hal lain yang selama ini agaknya tertutup untuk kita ketahui.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *