Home / Hiburan / Film / Membicarakan Sisi Kemanusian dalam Film Green Book
Sumber gambar: Metro.co.uk
Sumber gambar: Metro.co.uk

Membicarakan Sisi Kemanusian dalam Film Green Book

Star Yeheskiel Munthe

Pijar.Medan. Apa yang menarik dari sebuah film selain nilai estetika filmografi yang terkandung di dalamnya? Tentunya adalah storytelling mengenai sebuah film tersebut. Mengapa penonton harus menonton film tersebut? Apa yang bisa membuat penonton tertarik dengan film tersebut? Semua ini terkandung di dalam film Green Book (2018). Salah satu dialognya yang berbunyi:

Tony: “Aku tidak suka cara polisi itu memperlakukanmu, membuatmu basah karena hujan sialan ini”.                                                                                        

Don Shirley: “Kau memukulnya karena cara dia memanggilmu (imigran dari Italia). Aku sudah menerima banyak panggilan semacam itu sepanjang hidupku (rasis). Kau harus belajar untuk menerimanya. Setidaknya malam ini saja.”

Film ini sudah pasti membicarakan sisi mengenai nilai-nilai kemanusiaan. Hal inilah yang membuat film Green Book sukses menyabet banyak gelar. Di antaranya adalah Film Terbaik, Aktor Pendukung Terbaik, Naskah Asli Terbaik, Aktor Terbaik, dan Penyuntingan Film Terbaik. Hari-hari untuk orang membicarakan Green Book belum bisa dibilang tuntas. Alasan film yang sudah tayang berbulan-bulan yang lalu dan banyak film menarik yang tayang setelahnya pun tak menyurutkan minat para kritikus profesional maupun abal-abal pada diskusi berkedok debat perspektif akan film arahan sutradara Peter Farelly.

Topik yang diangkat dalam film ini bukan topik berat ataupun langka. Sederhana, film ini mengangkat kisah nyata antar dua pria yang memiliki latar belakang yang berbeda. Don Shirley (Mahershala Ali) adalah seorang doktor musik sekaligus pianis jenius berkulit hitam, sedangkan Tony Vallelonga (Viggo Mortensen) adalah seorang kulit putih, orang Italia yang menetap di Amerika Serikat. Mereka memiliki satu kesamaan dan berbentur pada berbagai dinding konflik yang akhirnya menyatukan mereka—manusia dan kemanusiaan.

Kisah dimulai dari seorang Tony yang kesusahan dalam mencari pekerjaan untuk dapat memenuhi kewajibannya sebagai kepala rumah tangga. Tergambar watak kental Tony akan kecintaan akan budaya Italia dan sifat rasisnya pada orang kulit hitam pada film ini tergambar dengan baik.

Pada suatu hari Tony akan melakukan tes wawancara pada sebuah penawar pekerjaan. Kebutuhan ekonomi yang terdesak dan tawaran gaji yang besar membuat Tony harus menerima pekerjaan sebagai supir pribadi Don Shirley yang akan melakukan Tour Concert di beberapa negara bagian.

Konflik demi konflik tersaji dengan matang. Dimulai dari konflik ringan yang mana Don Shirler memandang rendah Tony karena watak keras dan bebas Tony terkesan tidak berkelas dan berasal dari strata yang di bawah dirinya.

Sedangkan sudut pandang Tony terhadap Don Shirley adalah ia terlahir sebagai orang kulit hitam. Ia adalah budak. Ia seharusnya tidak menyuruh Tony.

Pernah pada suatu adegan ditayangkan cerita akan mobil Cadilac 1926 yang mereka tumpangi mogok ditengah ladang. Para petani atau mungkin buruhnya adalah orang kulit hitam. Mereka tampak heran melihat Don Shirley  yang  memakai setelan jas rapi dan berkelas. Sebuah ilustrasi yang tampaknya membuat hati Don Shirley hancur.

Don Shirley tak  hanya ditolak oleh kaum kulit putih sebagai sesama manusia. Ia juga merasakan diskriminasi dari kaum kulit hitam, bahwa dia bukan bagian dari mereka.

“Jika aku tak cukup hitam dan aku tak cukup putih. Maka tolong katakan, Tony. Sebenarnya aku ini apa?”

Perspektif atau cara pandang setiap orang memang patutlah dihargai. Terlebih kita hidup di Indonesia yang mengagungkan demokrasi. Dan Don Shirley juga demikian hidup dinegara liberal yang demokrasinya adalah sebuah keharusan.

Tapi perspektif diskriminatif yang menganggap orang lain lebih rendah karena alasan ia berbeda adalah kemiskinan literatur yang harusnya diacungkan jempol kebawah bagi mereka yang mengagungkannya.

Hanya karena dia tidak sewarna denganmu, hanya karena dia tidak seagama denganmu, atau hanya karena dia tidak berbicara dengan bahasa yang sama denganmu, bukan berarti dia tidak manusia.

Absolut sebagai manusia memang dapat tergambar dari bentuk fisik. Tapi diskriminasi bukanlah poin dari kemanusiaan. Tentang bagaimana menjadi manusia adalah belajar memahami kemanusiaan.

Konflik dan penyelesaian pada Green Book membahas bagaimana Don Shirley akhirnya merasa sama dan percaya ia manusia. Dan tentang Tony Valelonga yang akhirnya mengerti kemanusiaan sambil memakan Kentucky Fried Chickendi negara bagian Kentucky.

Kisah persahabatan antara Tony dan Don Shirley adalah kisah nyata yang melegenda. Bentuk apresiasi akan kisah mereka diangkat dalam film berjudul Green Book. Yang mana Green Book (buku hijau) itu bermakna buku panduan untuk Tony agar bisa memahami apa yang Don Shirley butuhkan sebelum bertanya.

Panjang umur kemanusiaan.

Redaktur Tulisan: Hidayat Sikumbang

About Media Pijar

Media Pijar: Pers Mahasiswa - Pelita Insan Terpelajar - Laboratorium Departemen Ilmu Komunikasi, Universitas Sumatera Utara, Medan.

Silahkan Lihat Artikel ini juga !

(Sumber Foto: jawapost.com)

Realita Industri Televisi Indonesia di Film Pretty Boys

Pijar, Medan. Di tengah ramainya film komedi dengan konsep reborn hingga film yang dibintangi oleh komika di Indonesia, duo VinDest (Vincent dan Desta) menyuguhkan sesuatu yang berbeda. Lewat production house milik dua sahabat ini, The PRETTY BOYS Pictures bekerjasama dengan Anami Films, mereka menyajikan film ‘Pretty Boys’ untuk penikmat film Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *