Home / Berita / PLN Janji Listrik Sumatra Utara Tak Pernah Padam
IMG_9698

PLN Janji Listrik Sumatra Utara Tak Pernah Padam

 Hidayat Sikumbang

Pijar, Medan. Jakarta dan sejumlah kota di Pulau Jawa mendadak lumpuh. Bukan karena bencana alam, melainkan pemadaman listrik yang berlangsung sejak siang bolong, yakni pukul 11.45 WIB pada 4 Agustus lalu. Listrik kembali menyala pada tanggal 5 dini hari.

Kehidupan ibu kota berubah drastis, dari yang selalu sibuk tersulap menjadi sepi senyap dipenuhi cahaya lilin, lampu teplok, hingga alunan suara genset yang memekakkan telinga.

Sontak saja, lumpuhnya Jakarta membuat Presiden Joko Widodo turun tangan. Presiden naik pitam lantaran alasan yang disampaikan oleh Dirut Pelaksana Tugas (Plt) Dirut PLN Sripeni Inten Cahyani terkesan berbelit-belit. Ini adalah mimpi buruk yang teramat buruk bagi seorang Pelaksana Tugas lantaran baru saja menjabat 2 hari.

Namun, emosi Presiden saja belum cukup tentunya, harus ada sebuah solusi. Jakarta telah lumpuh, kompensasi adalah harga mati. Tetapi apakah wajar, jika solusi berupa kompensasi diberikan, masyarakat selain Jakarta dan sejumlah kota yang merasakannya di luar Pulau Jawa yang justru lebih sering mengalami hal seperti ini malah bernasib seperti anak tiri?

Inilah yang menjadi api pemantik dalam diskusi yang dihadirkan di “Dialog Publik: Diskiriminatif Kompensasi Pemadaman Listrik” yang berlokasi di Penang Corner Cafe, yang beralamat di Jalan Dr. Mansyur, Medan.

Semua masalah dan keresahan masyarakat khususnya di Sumatra Utara dikupas secara tuntas tanpa batas. Turut hadir Ketua Komisi D dari DPRD Sumatra Utara Sutrisno Pangaribuan, Perwakilan dari Lembaga Advokasi Perlindungan Konsumen Pandian Adi Siregar, Kepala Divisi Operasi PLN Direktorat Bisnis Regional Sumatra Supriyadi, Serikat Pekerja PLN Rudi Artono, hingga Ombudsman Sumatra Utara Teti Silaen.

Para Pemateri dan Penyelenggara berpose seraya menunjukkan pose salam listrik, pose khas PLN (14/8). Fotografer: Hidayat Sikumbang
Para Pemateri dan Penyelenggara berpose seraya menunjukkan pose salam listrik, pose khas PLN (14/8).
Fotografer: Hidayat Sikumbang

Acara yang digagas oleh Ikatan Wartawan Online (IWO) dan Komunitas Pemerhati Pelayanan Publik ini bertujuan untuk memperjelas status dari persoalan kompensasi yang disebut dalam Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (Permen ESDM) RI Nomor 27 Tahun 2017.

Peraturan tersebut menyinggung terkait dengan peningkatan mutu pelayanan dan biaya yang terkait dengan penyaluran tenaga listrik oleh PLN. Dan di dalam ayat 1 pasal 6 Permen itu disebutkan bahwa sebagai penyedia listrik, PLN wajib untuk memberikan pengurangan tagihan listrik kepada Konsumen apabila realisasi tingkat mutu pelayanan tenaga listrik tidak sesuai.

“Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral Republik Indonesia sudah mengatur bahwa apabila dalam melayani masyarakat ada hal yang tidak sesuai dengan apa yang sudah dikomitmenkan, PLN wajib kiranya memberikan berupa kompensasi pemotongan tagihan listrik di bulan berikutnya,” tutur Suriyadi.

Sontak saja, hal ini langsung menimbulkan banyak reaksi tatkala diskusi sedang berlangsung. Namun, Suriyadi kemudian melanjutkan penjelasannya bahwa pihaknya kurang dalam mengkomunikasikan hal seperti ini. “Memang ini tak tersampaikan (ke masyarakat). Nanti kami akan memperbaiki komunikasi ini,” tambahnya lagi.

Banyak yang beranggapan, bahwa pemberian kompensasi tersebut semakin menguatkan isu jawasentris yang sudah sejak dahulu berkembang di telinga masyarakat luar jawa. Khusus Sumatra, pemadaman listrik atau biasa dikenal dengan mati lampu rasanya adalah menu wajib yang paling ditakuti apalagi menjelang bulan puasa atau saat lebaran tiba. Akan tetapi PLN memastikan hal ini tak akan terulang lagi.

“Sejak 2016 lalu, defisit dan krisis listrik di Sumatra Utara sudah berakhir. Jadi, pihak PLN akan berusaha semaksimal mungkin untuk menjaga kenyamanan pelanggan,” ujar Kepala Divisi Operasi PLN Direktorat Bisnis Regional Sumatra.

(Redaktur Tulisan: Intan Sari)

About Media Pijar

Media Pijar: Pers Mahasiswa - Pelita Insan Terpelajar - Laboratorium Departemen Ilmu Komunikasi, Universitas Sumatera Utara, Medan.

Silahkan Lihat Artikel ini juga !

Fotografer: Mhd Abdul Fattah

Peringati Hari Literasi Internasional, GenBI lakukan Pojok Literasi

08 September 2019 adalah peringatan Hari Literasi Internasional yang ditetapkan oleh UNESCO di tahun 1965 lalu. Peringatan literasi ini berlatar belakang melalui Hari Aksara di mana manusia mulai mengenal dan melek huruf. Namun saat ini dirasa sudah berkurang manusia yang tidak tahu akan huruf, sehingga lebih tepatnya kepada bagaimana tingkat minat membaca manusia pada saat sekarang ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *