Home / Berita / Laboratorium Komunikasi Ajak Kawula Muda Bedah Tengkorak
Fotografer: Nadya Divariz
Fotografer: Nadya Divariz

Laboratorium Komunikasi Ajak Kawula Muda Bedah Tengkorak

Hidayat Sikumbang

Pijar, Medan. Waktu telah menunjukkan pukul 6 sore, namun Ruang Sidang FISIP USU masih dihujani pertanyaan-pertanyaan yang berbau film. Hal ini dikarenakan sebelumnya Laboratorium Komunikasi FISIP USU menyelenggarakan diskusi dan nonton bareng yang bertajuk “Talk About Visual Effect With Movie: Tengkorak” (16/09).

Tengkorak adalah salah satu film yang memang mengundang banyak tanya. Meski terkesan membingungkan, namun prestasi film yang sempat tayang di bioskop pada 2018 lalu ini tak bisa dipandang sebelah mata. Yakni salah satunya, menembus festival film di Amerika yaitu Cinequest International Film Festival di California.

Acara dibuka dengan pelepasan spanduk Tengkorak dan screening film yang berdurasi 107 menit itu. Film tersebut menceritakan tentang penemuan tengkorak yang panjangnya 1,8 kilometer di sebuah bukit di Yogyakarta. “Film ini memang didesain multilayered, ada banyak clue untuk penonton yang mau fokus. (Jadi) ada fakta yang hanya akan muncul setelah didiskusikan di warung,” tutur Yusron, selaku sutradara dan produser film ini.

Kata sambutan dari Ketua LabKom dalam acara Talk About Visual FX With Movie Tengkorak (17/9) Fotografer: Nadya Divariz
Kata sambutan dari Ketua LabKom dalam acara Talk About Visual FX With Movie Tengkorak (16/9)
Fotografer: Nadya Divariz

Bekerja sama dengan Vokasi Studio dari Universitas Gadjah Mada, diskusi ini dibuka langsung oleh Ketua Laboratorium Komunikasi, Safrin. Dalam kata sambutannya, ia berharap nantinya mahasiswa bisa mengharumkan nama kampus tidak hanya melalui prestasi akademis, tapi juga melalui film. “Film itu jika dibuka kajiannya luas, ada film terutama kita yang dari FISIP (Fakultas Ilmu Sosial dan Politik) membahas kajian antropologi. Ada juga film yang membahas tentang politik. Ada juga film pers, untuk kajian komunikasi. Ada banyak,” ucapnya.

Ia juga menambahkan agar anak-anak muda lebih mencintai film lokal agar bisa menunjang tidak hanya kualitas produksi, tapi juga semangat para sineas untuk berkancah di dunia film. “Sekarang bioskop lagi ramai dengan Twivortaire, film dari Ika Natassa, alumni USU. Ada juga Gundala, komik karangan Hasmi yang diangkat Joko Anwar. Ini bukti bahwa film Indonesia memang layak ditonton dan bersaing di internasional.”

Film Tengkorak sebagai film lokal yang mampu menembus kancah internasional pun memikat hati salah satu peserta, Nur Fahmi. Peserta yang berasal dari Nanggroe Aceh Darussalam ini mengakui, bahwa untuk pertama kalinya ia bisa menonton film Sci-fi lokal yang bisa mengundang banyak pertanyaan di akhir filmnya. “Dilihat dari segi film, tentu Tengkorak memang sengaja mengundang maksud dan tujuan yang memang dibiarkan oleh pembuatnya untuk menjawabnya sendiri seperti yang dituturkan pemateri. Acara yang dibuat oleh Lab Komunikasi ini membuktikan bahwa, anak muda Indonesia masih banyak yang menyukai dan mungkin, suatu saat nanti bisa membuat film sains fiksinya sendiri,” ucapnya.

Redaktur Tulisan: Widya Tri Utami

About Media Pijar

Media Pijar: Pers Mahasiswa - Pelita Insan Terpelajar - Laboratorium Departemen Ilmu Komunikasi, Universitas Sumatera Utara, Medan.

Silahkan Lihat Artikel ini juga !

IMG_0636

Batman 3.0: Menggores dengan Hati, Peduli terhadap Warisan Negeri

Peringatan Hari Batik Nasional memang sudah lewat, tetapi semangat untuk melestarikan warisan negeri tidak boleh pudar. Batik-Batik di Taman 3.0 (Batman 3.0) adalah sebuah kegiatan sekaligus program kerja Divisi Pengabdian Masyarakat yang diselenggarakan oleh Pemerintahan Mahasiswa (Pema) Fakultas Psikologi Universitas Sumatra Utara. Kegiatan ini berlangsung pada Sabtu (12/10), bertempat di Taman Tengah Fakultas Psikologi USU.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *