Home / Galeri / Mati Muda
Ilustrasi: Hesmita Eunike
Ilustrasi: Hesmita Eunike

Mati Muda

Hidayat Sikumbang

Setiap orang Minang dalam darahnya akan terpancar jiwa seni. Dalam ucapannya akan keluar sajak-sajak yang membuat siapa saja akan terpana ketika dia mengucapnya. Dan ketika dia menatap, dalam pandangannya akan hadir sebuah imajinasi baru yang akan melahirkan sebuah karya sastra. Bahkan ketika satu kaki kanannya mulai melangkah, itu akan melahirkan sebuah perjalanan hidup yang baru.

Kalimat-kalimat di atas hampir setiap hari kudengar ketika aku pergi bermain ke rumah Yusrizal. Ia merupakan teman terbaikku, karena memang di kampung ini aku hanya memiliki satu teman saja. Beberapa temanku yang lain adalah orang dewasa yang setiap menjelang senja menghabiskan waktunya di kedai kopi. Hanya Yusrizal yang aku anggap sebagai teman dekat untuk saat ini.

Kampung kami lokasinya tidak begitu jauh dari kota. Hampir mayoritas penduduk di sini adalah bertani dan hasil bumi nantinya akan dijual ke pasar. Setelah dari pasar akan berlanjut ke restoran, rumah sakit, atau kerumahmu mungkin. Kebanyakan penduduk menggantungkan mata pencaharian mereka pada alam, meski terkadang alam sendiri sering usil. Hujan deras yang tak berkesudahan mengakibatkan banjir, atau musim panas yang menyebabkan kekeringan berkepanjangan.

Menjelaskan keburukan seseorang tak akan ada habisnya kelak. Bisa-bisa satu harian penuh waktumu akan dihabiskan untuk membicarakan perangai orang yang kau tidak sukai. Belum lagi, merendahkan kelakuannya tidak akan membuat derajatmu menjadi lebih tinggi, bukan?

Itulah mengapa, akan lebih baik kita menjelaskan perangai elok dari Yusrizal. Yusrizal bukanlah pemuda kaya raya, akan tetapi memang sedikit lebih berada. Namanya adalah gabungan dari nama Amak dan Ayahnya. Yusniati dan Rizal Nurdin. Di kartu keluarga peot yang pernah ia pampangkan padaku, namanya tertera Yusrizal Koto. Itulah mengapa, ia sangat tidak suka disapa Yus, apalagi Rizal.

“Kalau kau malas, kau tak akan bisa kaya. Kalau kau lahir miskin, itu bukan salah Tuhan melahirkan kau di keluarga miskin. Tapi kalau kau nantinya mati tetap miskin, itu salah kau tak mau berusaha dan bekerja keras untuk mengubah nasib,” kalimat yang diucapkan Yusrizal saat di depan kelas ketika menjelaskan dirinya disambut dengan tepukan gemuruh. Kami berdua sudah bersama sejak duduk di bangku taman kanak-kanak. Yusrizal sangat menyukai pelajaran Bahasa Indonesia. Tapi kecerdasannya di Bahasa Indonesia akan berubah menjadi dungu ketika guru menerangkan pelajaran Matematika.

Yusrizal pernah bercerita padaku tentang bagaimana ia memuja seorang Buya Hamka. Sosok yang sangat ia idola-idolakan. Ia bercerita betapa rendah hatinya Hamka meskipun telah dipenjara oleh Bung Karno, tapi tetap menuruti permintaan terakhir Sukarno untuk menjadi imam sholatnya ketika ia meninggal. Ia juga pernah meminjamkan novel Tenggelamnya Kapal Van der Wijck bersampulkan biru gelap laksana air laut yang menyimpan kedalaman tak terhingga.

Persahabatanku dengan Yusrizal memang sudah berbeda dunia. Yusrizal meninggal dalam tidurnya. Begitu tenang. Ia bahkan tidak pernah memiliki riwayat penyakit. Pagi itu, aku hendak menjemputnya untuk berangkat sekolah bersama. Namun pagi itu terasa berbeda. Orang-orang lalu lalang dan terasa begitu ramai. Dan semua rasa penasaranku akhirnya beralasan ketika aku tiba tepat di depan rumahnya.

“Yusrizal, Yusrizal meninggal,” Amak memelukku erat. “Tadi pagi, pas Amak hendak membangunkannya untuk sholat subuh. Tapi tubuhnya sudah mendingin. Bibirnya pucat. Amak goncang-goncang tubuhnya yang sudah lunglai itu tak ada gunanya. Dia sudah meninggal,” Amak berucap seraya menitikkan air mata.

Cerita tentang Yusrizal adalah cerita masa kecil yang tak akan dilupakan olehku. Setiap doa akan kupanjatkan. Aku menganggapnya masa lalu yang telah digariskan Tuhan. Bukankah setiap yang terlahir di muka bumi juga akan menghembuskan napas terakhirnya? Begitulah, mungkin. Namun kini, kehidupanku telah berubah. Aku telah memiliki putra kecil, yang kuharap perangainya tak ada ubahnya dengan Yusrizal. Buah hatiku, yang kuberi nama Yusrizal.

About Media Pijar

Media Pijar: Pers Mahasiswa - Pelita Insan Terpelajar - Laboratorium Departemen Ilmu Komunikasi, Universitas Sumatera Utara, Medan.

Silahkan Lihat Artikel ini juga !

Ilustrasi: Hesmita Eunike

PECUNDANG

Melihatmu adalah hal paling pecundang dalam hidupku Di depanmu prosaku hanyalah malu Di depanmu aku mati terpaku, “kaku”

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *