Home / Hiburan / Buku / Sophismata, Berpolitik Tanpa Harus Terjun Ke Dalamnya
Fotografer: Indah Ramadhanti
Fotografer: Indah Ramadhanti

Sophismata, Berpolitik Tanpa Harus Terjun Ke Dalamnya

Indah Ramadhanti

“Aku selalu mencari lawan yang seimbang, termasuk soal cinta. Harus cukup cerdas untuk diajak ngobrol berjam-jam”

Pijar, Medan. Dunia politik memang tidak asing di telinga kita. Namun, apakah kita tahu hal apa saja yang terjadi di dalamnya? Melalui novel “Sophismata” ini kita akan mengetahui lika-liku dunia politik bertabur romansa dengan sudut pandang yang lebih fresh ketika membacanya.

Sigi sudah tiga tahun bekerja di dunia politik sebagai staf anggota DPR. Tapi, dalam tiga tahun itu Sigi bahkan tidak sama sekali menyukai dunia tersebut, ia membencinya. Sigi bertahan karena ingin belajar dari atasannya yang sangat ia idolakan, seorang mantan aktivis 1998 dan berharap ia bisa dipromosikan menjadi tenaga ahli. Sayangnya, prosedur untuk mencapai hal tersebut sangatlah sulit apalagi ketika ia dibatasi oleh gendernya sebagai perempuan. Peristiwa itu membuatnya sulit berkembang secara profesi dan mengharuskan Sigi untuk berjuang lebih keras lagi untuk mendapatkan apa yang ia inginkan.

Semua itu berubah ketika Sigi bertemu kembali dengan Timur, seniornya di SMA. Tentu saja, Timur adalah orang yang membekas di hati Sigi, yang sedari dulu memiliki kesamaan minat dengan Sigi sebagai pelajar SMA. Ambisi Timur di usianya yang masih muda dan ingin mendirikan partai politik membuat pandangan Sigi akan politik berubah. Perlahan Sigi menyadari bahwa tidak semua yang ia pikirkan tentang politik itu seburuk yang ia pikir.

“Menciptakan perubahan jauh lebih mudah dilakukan bukan ketika kita punya uang, melainkan ketika kita punya kekuatan”. (halaman 17)

Dunia politik memang penuh dengan konspirasi. Usaha dari orang-orangnya ketika ingin mendapatkan jabatan pun tak mudah. Lebih-lebih lagi ketika atasan Sigi diteror oleh segelintir orang yang ingin menjatuhkan nama baiknya. Segala macam cara dilakukan agar namanya bersih dari hal-hal tersebut.

Novel dengan tema politik memang sedikit berat jika diangkat ke dalam tulisan. Alanda Kariza sendiri mengakui, menulis dengan tema politik dengan bumbu cinta cukup menantang untuknya. Namun, pada akhirnya ia berhasil merampungkan tulisannya ke dalam 272 halaman. Ia sukses mengemasnya dengan bahasa sederhana yang mudah dicerna ketika kita membacanya. Kedapatannya, Alanda sendiri sudah melakukan riset mendalam sebelum ia mengeksekusikan tulisannya.

Perempuan yang lahir pada tanggal 23 Februari 1991 ini mengakui ia bisa melakukan panggilan Skype dengan anggota DPR dan lanskap politik di Indonesia sebanyak lima kali dalam satu bulan. “Sisanya riset sambil jalan. Kebetulan aku juga punya interest di bidang politik,” ujar Alanda saat diwawancara Rappler melalui Skype.

Lewat Sophismata, penulis sekaligus aktivis asal Indonesia itu berharap suatu saat nanti anak muda di Indonesia mau berkecimpung di dunia politik. Untuk itu, Sophismata diharap bisa memberitahu tanpa terlihat mengajarkan.

Redaktur Tulisan: Widya Tri Utami

About Media Pijar

Media Pijar: Pers Mahasiswa - Pelita Insan Terpelajar - Laboratorium Departemen Ilmu Komunikasi, Universitas Sumatera Utara, Medan.

Silahkan Lihat Artikel ini juga !

(Sumber Foto: jawapost.com)

Realita Industri Televisi Indonesia di Film Pretty Boys

Pijar, Medan. Di tengah ramainya film komedi dengan konsep reborn hingga film yang dibintangi oleh komika di Indonesia, duo VinDest (Vincent dan Desta) menyuguhkan sesuatu yang berbeda. Lewat production house milik dua sahabat ini, The PRETTY BOYS Pictures bekerjasama dengan Anami Films, mereka menyajikan film ‘Pretty Boys’ untuk penikmat film Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *