Home / Lifestyle / Indonesia Darurat Toleransi? Tidak, Kita Hanya Salah Kaprah
Sumber Foto: Pinterest
Sumber Foto: Pinterest

Indonesia Darurat Toleransi? Tidak, Kita Hanya Salah Kaprah

Intan Sari

“Menjadi open minded bukan lantas kita mengkompromikan prinsip kita, bukan pula kita selalu setuju atau iya-iya aja terhadap pemahaman lain yang ada,” – Gita Savitri Devi

Pijar, Medan. Sejak masuknya era globalisasi, kita dihadapkan pada dunia yang serba terbuka. Akses internet yang meluas di dunia global, khususnya di Indonesia membuat kita masuk ke dalam desa global (global village). Kita jadi tahu kebiasaan teman kita di ujung dunia sana, kita jadi tahu bagaimana kebudayaan di suatu tempat, bagaimana pola komunikasi, kultur, ataupun hal-hal lain yang selama ini agaknya tertutup untuk kita ketahui.

Terbukanya akses informasi hanya dengan satu sentuhan jari tersebut membuat kita lebih mudah untuk menemukan hal-hal baru. Satu sisi fenomena seperti ini merupakan hal yang positif, sebab menambah wawasan dan pengetahuan kita akan informasi yang selama ini tak kita ketahui. Namun, di sisi lain, hal-hal seperti ini juga dapat menimbulkan efek negatif. Apalagi jika tak disikapi dengan bijak.

Apa yang menjadi masalahnya? Toleransi. Ya, belakangan isu toleransi kerap kali dibicarakan di ranah publik. Pantang terpantik sedikit, meledaklah rasa anti toleransi. Khususnya di Indonesia. Negara majemuk yang kaya akan budaya dan keragaman suku ini, kian hari semakin minim rasa toleransi dan saling menghargai terhadap mereka yang berbeda. Mulai dari isu penistaan agama hingga politik identitas yang mencuat ke permukaan. Kemudian Indonesia semakin diributkan dengan berbagai problematik perbedaan yang berkembang menjadi sebuah masalah besar.

Hal ini tentu bukan tanpa sebab. Rasa anti toleransi menurut Gita Savitri Devi (seorang  kreator konten video Youtube, blogger, dan social media influencer) muncul akibat ketidaktahuan yang ditambah dengan ketakutan. “Ketidaktahuan yang ditambah dengan fear mongering akan melahirkan kebencian,” katanya.

Toleransi secara bahasa berasal dari bahasa latin “tolerare”, toleransi berarti sabar dan menahan diri. Toleransi juga dapat berarti suatu sikap saling menghormati dan menghargai antarkelompok atau antarindividu dalam masyarakat atau dalam lingkup lainnya. Sikap toleransi dapat menghindari terjadinya diskriminasi, walaupun banyak terdapat kelompok atau golongan yang berbeda dalam suatu kelompok masyarakat.

Nah, jika kita menilik pada definisi toleransi di atas, tentu kita akan sadar bahwa sebab terjadinya intoleransi adalah efek dari ketidaktahuan/ketidakpahaman kita terhadap orang lain yang berbeda dari kita. Berbeda di sini bermaksud beda nilai, beda cara pandang, beda kebiasaan, beda agama, beda suku dan perbedaan lainnya.

Perbedaan adalah sebuah keniscayaan. Ia mutlak dan tidak dapat dihapuskan. Perbedaanlah yang kemudian membuat kita kaya, unik, dan tidak membosankan. Namun, perbedaan juga yang dapat memancing keributan apabila kita sebagai individu/kelompok enggan memahami individu/kelompok lain yang berbeda dari kita. Yang kita tahu, kita benar dan mereka salah. Padahal nyatanya? Tidak juga. Kita hanya berbeda cara pandang, kan?

Alih-alih menyalahkan, bukankah baiknya kita tumbuhkan rasa penasaran di diri kita terhadap sesuatu yang berbeda? Ya kita cari tahu tentang perbedaan tersebut. Bukan untuk menyalahkan namun untuk tahu, untuk paham, untuk kemudian bisa menghargai dan menghormati mereka yang berlainan.

Jika begitu, apakah toleransi berarti menyetujui semua yang berbeda? Apakah toleransi berarti membenarkan hal-hal yang selama ini kita anggap salah? Tentu saja tidak. Toleransi tidak sesempit itu. Toleransi dalam makna yang lebih luas, adalah suatu bentuk sikap saling menghargai dan menghormati individu/kelompok yang berbeda dengan pikiran yang terbuka.

Pikiran yang terbuka di sini berarti kita mau mendengarkan cara pandang orang lain, mengevaluasi pandangan tersebut, dan menilainya secara objektif. Pun, ketika kita tidak setuju dengan cara pandang itu, kita bisa tidak setuju secara baik-baik, tanpa kemarahan tanpa kebencian.

Toleransi pada akhirnya adalah bagaimana cara kita memposisikan diri kita dengan orang-orang di sekitar kita secara objektif dan terbuka, tanpa mengamini atau mengikuti kebiasaan atau prinsip hidup yang tidak sejalan dengan kita. Indonesia bisa damai dalam perbedaan, jika kita mau menumbuhkan rasa toleransi di dalam kita diri kita sendiri sejak dini. So, keep solid and love each other ya sobat Pijar.

Redaktur Tulisan: Widya Tri Utami

About Media Pijar

Media Pijar: Pers Mahasiswa - Pelita Insan Terpelajar - Laboratorium Departemen Ilmu Komunikasi, Universitas Sumatera Utara, Medan.

Silahkan Lihat Artikel ini juga !

Sumber Foto: Line Today

Morning Person dan Night Person, Apakah Anda Salah Satunya?

Bagi morning person, segala aktivitas mereka dimulai pada pukul 06.00 pagi tanpa mematikan alarm saat berdering dan sudah menjadi kebiasaan mereka menyambut hari dengan penuh semangat serta keceriaan dengan melakukan olahraga di pagi hari, membaca koran juga sarapan. Ketika berada di perjalanan memulai kegiatannya, tim ini umumnya, menggunakan waktu untuk membaca buku atau melakukan kesibukan yang bermanfaat.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *