Home / Berita / Peringatan Hak Asasi Binatang: Sebab Hak Asasi Bukan Hanya Milik Manusia
(sumber : greenveganista.com)
(sumber : greenveganista.com)

Peringatan Hak Asasi Binatang: Sebab Hak Asasi Bukan Hanya Milik Manusia

Nadya Divariz Bhayitta Syam

Pijar, Medan. Manusia kerap mengatakan hal serupa ketika berbuat sesuatu. Disenggol sedikit katanya melanggar Hak Asasi Manusia (HAM). Bagi sebagian besar, HAM adalah senjata agar tidak disalahkan, agar dibenarkan, dibela dengan alasan ‘hanya menggunakan haknya sebagai manusia’. Kadang lupa kalau yang lain juga punya hak atas sesuatu.

“Nggak boleh kayak gitu, ngelanggar HAM.”

“Ya jangan ngelarang dong. HAM tuh.”

Mungkin banyak yang belum tau bahwa selain manusia, ada makhluk hidup lain yang juga memiliki Hak asasi. Binatang. Meskipun terdengar asing, namun nyatanya hal ini sudah diatur di Indonesia dalam KUHP pasal 302 dan UU No. 16 Tahun 2009. Berbeda dengan HAM, Hak Asasi Binatang berfokus pada hak untuk tidak menderita di tangan manusia dan hidup bebas sebagaimana harusnya tanpa disiksa ataupun dieksploitasi oleh manusia.

Diperingati setiap 15 Oktober, hak asasi binatang berisi setidaknya lima kebebasan di dalamnya, yaitu: (1) Bebas rasa haus dan lapar; (2) Bebas dari rasa tidak nyaman; (3) Bebas untuk berekspresi sesuai dengan sifat alami yang dimiliki masing-masing spesies; (4) Bebas dari rasa takut dan tertekan; serta (5) Bebas dari rasa sakit ataupun dilukai secara sengaja.

Bentuk kampanye yang dilakukan oleh aktivis untuk memperjuangkan hak-hak binatang (sumber : change.org)
Bentuk kampanye yang dilakukan oleh aktivis untuk memperjuangkan hak-hak binatang (sumber : change.org)

Dilansir dari antaranews.com deklarasi hak asasi binatang ini didukung setidaknya 46 negara dan sekurang-kurangnya 330 kelompok pecinta binatang dengan landasan maraknya kasus kekerasan binatang di sirkus dan kebun binatang. Apalagi tingkat kesejahteraan mereka juga cenderung rendah karena ‘perannya’ sebagai bahan baku makanan bagi sebagian besar manusia di dunia.

Sayangnya hal ini belum diketahui secara mendalam oleh masyarakat luas. Bahkan oleh pelaku kampanye sendiri. “Hak asasi binatang sebenarnya masih sedikit yang tau. Aku juga baru tau beberapa hal karena kampanye ini. Bagus sih ada hari Hak Asasi Binatang artinya bukan hanya manusia yang punya hari besar, tapi binatang juga,” ujar Sophie salah satu mahasiswi USU yang menjadikan kasus penyiksaan terhadap kucing sebagai bahan kampanye nya.

Menurut infografis milik laman tempo.co, setidaknya ada 115 juta hewan yang terbunuh di laboratoriun karena dijadikan bahan uji coba baik untuk kosmetik, kimia, makanan, hingga obat-obatan. Ada 1 juta hewan peliharaan yang harus meregang nyawa karena kekerasan setiap tahunnya dan 100 juta hiu dibunuh per tahun untuk kemudian berakhir di meja makan dalam bentuk semangkuk sup.

Lalu kenapa kita harus ikut memperjuangkan hak asasi sesuatu yang bahkan takkan protes maupun memperjuangkan haknya secara aktif? Karena binatang tidak mampu berkomunikasi dengan cara yang sama seperti saat manusia memperjuangkan haknya. Lantas apakah hal ini akan membuat kita berhenti dan membalikkan badan seakan tak ada yang terjadi?

Mengambil kata-kata Ellen DeGeneres, beliau pernah mengungkapkan bahwa, “Aku bukan seorang aktivis; aku bukan tipe yang suka membuat kontrofersi. Aku juga tidak berpolitik, tapi aku adalah manusia dengan belas kasih. Aku peduli pada kesetaraan hak setiap makhluk. Aku peduli pada hak asasi manusia. Aku peduli pada hak asasi binatang.”

Redaktur Tulisan: Hidayat Sikumbang

About Media Pijar

Media Pijar: Pers Mahasiswa - Pelita Insan Terpelajar - Laboratorium Departemen Ilmu Komunikasi, Universitas Sumatera Utara, Medan.

Silahkan Lihat Artikel ini juga !

Sumber Foto: Google

Hari Pahlawan, Tak Harus Korban Nyawa

10 November adalah hari peringatan nasional bangsa Indonesia, yang selalu diperingati setiap tahunnya dengan upacara peringatan Hari Pahlawan Nasional. Upacara ini biasanya dilakukan dengan pengibaran bendera merah putih, serta berziarah ke makam pahlawan yang menjadi tradisi bangsa Indonesia sedari dulu.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *