Home / Hiburan / Film / Realita Industri Televisi Indonesia di Film Pretty Boys

Realita Industri Televisi Indonesia di Film Pretty Boys

(Sumber Foto: jawapost.com)

Nadia Lumongga Nasution

Pijar, Medan. Di tengah ramainya film komedi dengan konsep reborn hingga film yang dibintangi oleh komika di Indonesia, duo VinDest (Vincent dan Desta) menyuguhkan sesuatu yang berbeda. Lewat production house milik dua sahabat ini, The Pretty Boys Pictures bekerjasama dengan Anami Films menyajikan film ‘Pretty Boys’ untuk penikmat film Indonesia.

Pretty Boys bercerita tentang dua sahabat sejak kecil, Anugrah (Vincent Rompies) dan Rahmat (Dedi Mahendra Desta) yang bercita-cita bisa masuk Tv. Sedari muda keduanya sudah menjadi MC di kampung halamannya hingga mereka memutuskan merantau ke Jakarta.

Dua tahun sudah di Jakarta, tak banyak yang berubah dari hidup Anugrah dan Rahmat, bekerja di kafe dengan pekerjaan sambilan untuk dapat bertahan hidup dikerasnya ibu kota. Sampai pada suatu hari mereka dihubungi Roni (Onadio Leonardo), koordinator penonton di suatu acara televisi, Kembang Gula. Awalnya mereka hanya menjadi penonton bayaran, namun tak butuh lama untuk keduanya beranjak menjadi co-host hingga host utama di acara tersebut.

Ketika impian dua sahabat ini telah tercapai, menjadi MC dan masuk Tv, di saat itu jugalah cobaan berdatangan. Anugrah dengan sikap idealisnya mulai merasa tidak nyaman dengan karier yang ditempuhnya. Sedangkan Rahmat sangat menikmati alur kariernya, hidup kaya raya dan dikelilingi wanita.

Film ini bisa dikatakan film yang lengkap, memiliki unsur komedi, percintaan, drama, religi, tapi tetap ringan untuk ditonton. Selama menonton, emosi sobat Pijar akan terus diputar. Baru saja tertawa dengan komedi khas VinDest, detik selanjutnya akan dibuat sedih dengan drama yang ada.

Di setiap promonya pada media-media besar, duo VinDest selalu menyebutkan Film Pretty Boys menggambarkan realita di peretelevisian Indonesia. Gimik berlebihan sampai melakukan apa saja agar mendapatkan nilai yang tinggi. Banyak hal yang dapat dipetik dalam film Pretty Boys, tentang persahabatan, kekeluargaan, meraih impian, hingga tidak mudah putus asa. Namun dari pertengahan film hingga akhir, banyak adegan waria yang dikhawatirkan mendukung gerakan tersebut. Hal tersebutlah yang membuat poster pada film ini sempat mengalami perubahan.

Pretty Boys merupakan film serba pertama untuk pemain hingga produsernya. Pertama kalinya untuk Desta memproduserin film, Tompi menjadi sutradara, Imam Darto menjadi penulis naskah, duo Vindest yang sudah 27 tahun bersahabat disatukan dalam produksi film, Onadio Leonardo menjadi pemain film dengan perannya yang ikonik, dan Najwa Sihab untuk kali pertama hadir di dunia film walau sekadar menjadi cameo.

Film dengan durasi 1 jam 40 menit ini tidak akan membuat bosan penontonnya. Sinematografi dan alurnya yang menarik ditambah soundtrack dari Dannila Riyadi, Pamungkas, The Cash, White Shoes & The Couple Companies, Nadin Amizah, dan lainnya turut melengkapi Film Pretty Boys.

(Redaktur Tulisan : Hidayat Sikumbang)

About Media Pijar

Media Pijar: Pers Mahasiswa - Pelita Insan Terpelajar - Laboratorium Program Studi Ilmu Komunikasi, Universitas Sumatra Utara, Medan.

Silahkan Lihat Artikel ini juga !

Sumber Foto: instagram @syifaalsakina

Mari Menyasarkan Diri Lewat Buku 30 Paspor The Peacekeepers Journey

Gempar Menggelegar! Itulah yang dirasakan mahasiswa Prof. Rhenald Kasali mata kuliah Pemasaran Internasional di buku yang berjudul “30 Paspor The Peacekeepers Journey”. Biasanya, kesasar adalah suatu pekerjaan yang tidak disengaja, namun ini luar biasa. Mereka ditugaskan untuk menyasarkan diri secara sengaja di negara orang. Tak hanya satu negara kali ini, tetapi harus dua negara ditambah membantu orang dengan tujuan merajut perdamaian.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *