Home / Sosok / Walid: PPAN bermula dari artikel
Sumber Foto: Narasumber
Sumber Foto: Narasumber

Walid: PPAN bermula dari artikel

Mhd Abdul Fattah

Pijar, Medan. Menjadi pemuda yang tangguh adalah keharusan bagi setiap manusia yang mulai memasuki fase pematangan pola pikir dan berproses untuk mengejar impian. Sering juga dalam mengejar cita-cita, pemuda memilih untuk hijrah/berpindah demi mendapatkan ilmu dan pengalaman yang banyak. Hal ini persis seperti yang dilakukan oleh Walid, pemuda yang mewakili Sumatera Utara dalam program Pertukaran Pemuda Antar Negara (PPAN) 2019.

Walid bersama dengan 17 rekannya yang berasal dari Sabang hingga Merauke mewakili Indonesia di Singapore-Indonesia Youth Leadership Exchange Program (SIYLEP) 2019, Singapore.

Dirinya merupakan pemuda yang beruntung untuk mendapat kesempatan emas ini dari kandidat yang mendaftar. Pasalnya, dari 200 pelamar dirinya adalah pria satu-satunya yang berhasil merebutkan posisi kandidat untuk SIYLEP 2019.

Walid Ananti Dalimunthe, ia merupakan pemuda asli Sumatera Utara yang berasal dari Kabupaten Labuhan Batu. Namun karena semangat yang berkobar untuk meraih mimpi, dirinya memutuskan untuk melakukan migrasi ke Pulau Jawa.

Pemberian cinderamata oleh Walid sebagai Youth Leader kepada Direktur Unpack Singapore (Sumber Foto: Narasumber)
Pemberian cinderamata oleh Walid sebagai Youth Leader kepada Direktur Unpack Singapore (Sumber foto: Narasumber)

Ia melanjutkan pendidikan Sekolah Menengah Atas di MAN Insan Cendeki, Serpong. Ia mengambil Jurusan Ilmu Sosial. Kegigihannya tersebut membuahkan hasil dengan diterimanya Walid sebagai mahasiswa Departemen of Public Policy and Public Management, FISIPOL Universitas Gajah Mada.

Pada program PPAN ini, dirinya mengaku senang karena dapat merasakan training leadership skills dan sustainable living yang diajarkan dan dilatih oleh fasilitator leadership nomor satu di Singapura.

“PPAN itu memang target aku dulu. Karena dulu waktu di perjalanan ke Jakarta, aku baca artikel bahwasanya ada kisah pemuda Sumut mewakili Indonesia di dalam program PPAN ini, wah keren nih dan aku mau jadi kayak mereka suatu hari, gitu,” ulas Walid.

Walid mengaku, selama perjalanannya di program Youth Leadership ini, ia merasakan begitu besarnya manfaat dan nikmat yang ia terima. Sebab memang dari dulu dirinya memiliki impian menjadi pemimpin di negeri kita ini.

Walid pernah menjabat sebagai Ketua OSIS di SMP, dan divisi sosial masyarakat sewaktu di SMA. Sehingga program SIYLEP ini sangat relevan untuk mewujudkan impiannya.  Melalui program ini, Walid mampu mengekspresikan diri dan mengambil ilmu bagaimana menjadi pemimpin muda yang kredibel dan demokratis.

“Aku punya cita-cita ingin jadi menteri, kalaupun tidak terwujud paling enggak bupati lah..,” canda Walid.

Sedari kecil, rupanya Walid sudah memiliki jiwa sosial yang tinggi. Dirinya bercerita bagaimana dulu kecil suka sekali berkunjung ke daerah-daerah kumuh untuk melihat bagaimana mereka hidup dan berdiri di atas sepatu mereka.

Selain itu, dirinya pernah dibiasakan oleh ibunda untuk menyisakan uang jajan agar diberikan kepada teman-temannya saat Sekolah Dasar. Hal ini berlanjut ketika di bangku kuliah dirinya melakukan community service di Kota Yogyakarta.

Walid pernah memiliki pengalaman sewaktu masa kuliah mengikuti festival di India. Dimana ia bersama timnya mewakili UKM dari kampus yang bermodal nekat untuk berangkat ke India. Penuh perjuangan hingga harus merasakan sesaknya naik kereta api negara Bollywood ini selama 26 jam untuk ke kota tujuan.

Untuk urusan prestasi, sangat tidak diragukan lagi. Pria yang sedang menantikan masa wisuda magisternya di Universitas Thammasat, Thailand ini memiliki prestasi di kawasan Asia. Salah satunya yaitu Indonesia – Philppines Youth Cultural Exchange Program dan Runner Up for Content Research Contest by the Korean Development Institute. Semua prestasi tersebut atas motivasi sang bunda utuk terus mengejar mimpi.

“Aku selalu tanamkan dalam diri kalau kita harus mencoba terus apa yang ingin dilakukan, jangan takut gagal. Ketahui kekuatan kita dan temukan jalan untuk mengembangkannya. Jangan pernah puas sama ilmu,” pesan Walid.

Namun dari semua yang dicapai walid hingga kini, walid sendiri mengaku sangat trauma dengan beberapa hal. Terlebih di dunia pekerjaan yang sering terjadi ‘neko-neko’ dan tidak sesuai antara kesepakatan atau perjanjian.

“Aku sangat idealis, jadi kalau ketemu orang yang tidak sesuai standar bisa langsung buat aku kecewa,” tuturnya.

Di balik kesuksesan tentunya terdapat harapan yang gagal di masa lalu. Begitu juga terjadi pada walid saat ingin mengukir mimpi. Pada saat SMA dirinya mengimpikan untuk lanjut studi ke Korea Selatan. Bukan karena dirinya K-Wave, namun karena saat SMA dirinya pernah ikut Summer Camp di Universitas Kyungsung, Busan. Hal itu membuat dirinya tertarik untuk melanjutkan pendidikan ke sana.

Persiapan sudah matang dilakukan seperti belajar bahasa korea selama satu setengah tahun dan tentunya kemampuan akademik. Namun, rezeki belum mengizinkan untuk ke Korea dan akhirnya memilih UGM sebagai tempat menuntut ilmu.

Saat ini, walid mengisi waktu dengan menjadi tim ahli monitoring pariwisata berkelanjutan Danau Toba. Selain itu, juga mengajar ilmu sosial untuk homeschooling dari International Organization for Migration di Medan dan juga menggeluti community service serta socio-preneur.

Walid berbagi resep untuk kawula muda Indonesia dengan 3P yaitu Passion, Persistence, dan Patiance. “Temukan dulu passion dan tujuan kamu, walaupun bisa berubah-ubah tiap waktu tapi paling tidak punya target yang ingin dicapai. Semua tidak harus dimulai dengan hal besar, intinya kamu harus memulainya dari hal yang paling kecil. Jangan menyerah, kalau satu jalan gagal, cari jalan lain,” katanya tegas.

(Redaktur Tulisan: Intan Sari

About Media Pijar

Media Pijar: Pers Mahasiswa - Pelita Insan Terpelajar - Laboratorium Departemen Ilmu Komunikasi, Universitas Sumatera Utara, Medan.

Silahkan Lihat Artikel ini juga !

Sumber Foto: Realta Publisher

Rassya Priyandira, Millenial Berkarya bersama Budaya

Rassya Priyandira salah satunya, pemuda kelahiran 19 Januari 2001 ini sudah tertarik dengan dunia puisi sejak duduk bangku sekolah. Hobinya itu mengantarkan ia menyabet beberapa juara pada kompetisi musikalisasi puisi, mulai dari tingkat daerah hingga nasional.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *