Home / Berita / Empat Puluh Tahun Berlalu, Lakon J.J Sampah-Sampah Kota Kembali Dipentaskan
Sumber Foto: Dokumentasi Panitia
Sumber Foto: Dokumentasi Panitia

Empat Puluh Tahun Berlalu, Lakon J.J Sampah-Sampah Kota Kembali Dipentaskan

Talitha Nabilah Ritonga

Pijar, Jakarta. Bicara soal sampah dan penguasa korup seolah tak ada habisnya. Namun, bagaimana dengan kejujuran? Seperti apa rasanya mempertahankan nilai kejujuran pada era di mana ketidakadilan dan ketidakjujuran bisa dengan mudah ditemui di sudut kota mana pun? tentu tidak sesederhana itu. Sama halnya dengan betapa tidak sederhananya mementaskan kembali lakon yang sudah dipentaskan puluhan tahun lalu di era sekarang.

Sama halnya seperti, Teater Koma yang kembali memproduksi karyanya yang berjudul J.J Sampah-Sampah Kota pada 8-17 November 2019 di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Lakon ini menjadi produksi ke-159 yang diarahkan langsung oleh Rangga Riantiarno sebagai sutradara dalam pementasan ini.

Ditulis oleh Nano Riantiarno, Lakon J.J Sampah-Sampah Kota berkisah tentang sepasang suami istri bernama Jian dan Juhro yang hidup di sebuah gubuk di kolong jembatan. Jian bekerja sebagai kuli pengangkut sampah yang digaji harian dan tidak punya jaminan masa depan. Meski begitu, ia tetap bekerja dengan jujur, rajin, giat, dan gembira. Bersama Juhro, yang telah hamil tua, ia hidup bahagia.

Adegan sorak sorai para pelakon "Lakon J.J Sampah-Sampah kota" saat di atas panggung, Kamis (7/11) [yg megang foto mirip jkw] Sumber Foto: Dokumentasi Panitia
Adegan sorak sorai para pelakon “Lakon J.J Sampah-Sampah kota” saat di atas panggung, Kamis (7/11) (Sumber Foto: Dokumentasi Panitia)

Semua ini tak lepas dari pengawasan mandor kepala dan tiga mandor bawahannya, tiga pemutus. Mereka ingin melihat sampai sejauh mana kejujuran Jian bisa dipertahankan. Suatu hari, para pemutus menjatuhkan tas berisi uang yang amat banyak di sekitar tempat Jian bekerja. Jian panik. Apa yang sebaiknya dia lakukan?

“Saya menulis naskah J.J Jian Juhro ketika berada di Iowa, Amerika Serikat untuk memenuhi undangan bagi para penulis Indonesia selama enam bulan. Sisanya saya tulis di Jakarta dan saya persembahkan untuk Ratna dan Rangga. Pentas ini disutradarai oleh Rangga Riantiarno. Mengapa Rangga, pengalamannya sangat cukup. Dia adalah sosok yang hadir pada era milenial, dia pasti tahu apa yang harus dikerjakan. Saya hanya sosok yang lahir sebelum era itu. Semoga pentas ini bisa mengilhami kita semua,” jelas Nano Riantiarno, penulis naskah.

Mengulik kembali tentang Lakon J.J Sampah-Sampah Kota, Rangga selaku sutradara dalam pementasan ini bercerita bahwasanya Lakon J.J telah dipentaskan pada September 1979 ketika ia berusia 6 bulan.

Ia melanjutkan bahwa naskah yang sudah berumur empat puluh tahun tersebut telah disunting kembali oleh penulisnya sendiri. Rangga mendapatkan sensasi tersendiri ketika membaca naskah yang baru yang telah dipadatkan.

“Saya merasa kisah yang disajikan dalam lakon ini tidak lekang oleh waktu. Kondisi kini tidak sama seperti dulu, tapi tetap ada hal-hal yang tidak berubah. Akan selalu ada orang-orang jujur dan orang-orang yang korup. Mungkin, kekuasaaan dan kejujuran tidak akan pernah bisa sejalan. Memang 40 tahun lalu waktu yang cukup lama untuk kembali mementaskan lakon ini dan para pemainnya tentu berbeda. Ada tokoh-tokoh yang dulu diperankan pria, kini dimainkan wanita,” jelasnya.

Penggunaan Multimedia yang didukung dengan artistik yang detail juga menjadi elemen baru dalam pementasan kali ini, karena ada satu tokoh yang hanya dimunculkan via multimedia, Menariknya, tokoh ini akan berinteraksi dengan tokoh lain, bahkan bernyanyi.

Niesya Harahap, salah satu penonton pementasan Lakon J.J Sampah-Sampah Kota, mengatakan bahwasanya pementasan Jakon J.J Sampah- Sampah Kota yang ditampilkan oleh Teater Koma ditampilkan dengan menarik dan menghibur.

“Walaupun naskah drama tersebut telah disusun 40 tahun yang lalu namun isu sampah, kemiskinan, dan pemerintahan yang korup masih relevan hingga sekarang. Jian dan Juhro menjadi perwujudan dari idealisme nilai moral dan nilai kejujuran yang harus diuji kewarasannya agar mampu bertahan ditengah gejolak kemunafikan kepentingan-kepentingan individu dan penguasa yang sudah buta mata hatinya. Alur cerita yang dapat menggiring penonton ke arah pesimisme namun juga romantisme, lalu emosi yang kemudian dipermainkan dengan plot twist yang membuat akal mempertanyakan berbagai hal. Hati dibuat berharap-harap, pikiran dibuat tak tenang, sungguh menit-menit yang berkesan,” katanya.

(Redaktur Tulisan: Intan Sari)

About Media Pijar

Media Pijar: Pers Mahasiswa - Pelita Insan Terpelajar - Laboratorium Departemen Ilmu Komunikasi, Universitas Sumatera Utara, Medan.

Silahkan Lihat Artikel ini juga !

(Fotografer: Valencia Christiani Zebua)

Seminar PKPU dan Kepailitan Perkenalkan Solusi atas Utang Piutang

Bahasan mengenai penyelesaian utang piutang menurut hukum mungkin terdengar asing di telinga masyarakat awam. Oleh karena itu, adanya seminar PKPU dan Kepailitan menjadi jalan tengah masyarakat agar dapat mengetahui lebih jelas bagaimana strategi jitu penyelesaian utang piutang menurut hukum yang berlaku. Seminar yang bertempat di Grand Aston City Hall, Medan pada Senin, 2 Desember 2019 ini menghadirkan tiga narasumber ahli dalam bidang hukum. Diantaranya Bpk hakim. Abdul Azis,S.H,M.H, Bpk. Yudhi Wibhisana, S.H, dan Bpk. Fajar Romi Gumilan, S.H.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *