Home / Berita / GEMES 2019, Usung Konsep Medan Muda Berbudaya
Fotografer: Frans Dicky Naibaho
Fotografer: Frans Dicky Naibaho

GEMES 2019, Usung Konsep Medan Muda Berbudaya

Suryani Agata Sitanggang / Frans Dicky Naibaho

Pijar, Medan. Dentuman gendang terdengar bersamaan dengan dendang musik melayu yang bertalu-talu, tanda bahwa Gelar Melayu Serumpun (Gemes) 2019 akan kembali meramaikan Istana Maimun. Pagelaran budaya melayu bertaraf Internasional yang digarap oleh Dinas Pariwisata Kota Medan ini berlangsung sejak Jumat (1/11) hingga Minggu (3/11) dengan mengusung tema ‘Sunatan’.

Gemes 2019 dibuka dengan tarian kolosal yang terdiri dari 150 penari kota Medan, 60 di antaranya merupakan penari cilik. Dilanjutkan dengan pertunjukan tari melayu yang berasal dari berbagai daerah, serta diselingi oleh penampilan dari artis-artis dangdut ternama yang menambah kemeriahan kegiatan akbar ini. Deswa, Ayu, Alibi, Intan Baiduri, para pemenang D’Academy, serta Lusi KDI menambah kemeriahan Gelar Melayu Serumpun 2019 tersebut.

Rintik hujan turun bertepatan dengan dibukanya acara Gemes 2019 hari ke tiga. Meskipun cuaca sedang tidak bersahabat, namun semangat para penikmat budaya tidak ikut luntur.

Kemeriahan tetap terasa pada acara penutupan Gemes 2019, terlebih ketika para pengunjung menyaksikan penampilan tarian melayu dari kontingen Malaysia, Brunei Darussalam, Thailand, Singapura, dan Korea.

Tak kalah menarik, para penari dari berbagai wilayah di Indonesia, seperti Yogyakarta, Jawa Barat, Sumatera Barat, Lampung, Riau, Bengkulu, Aceh, Jambi, serta dari Kabupaten/kota di Sumatera Utara pun menambah kemegahan dari Gemes 2019.

Tari kolosal yang dilakukan oleh seluruh kontingen penari yang hadir pada acara penutupan Gelar Melayu Serumpun (GEMES) 2019 di Istana Maimoon (3/11).  (Fotografer: Frans Dicky Naibaho
Tari kolosal yang dilakukan oleh seluruh kontingen penari yang hadir pada acara penutupan Gelar Melayu Serumpun (GEMES) 2019 di Istana Maimoon (3/11). (Fotografer: Frans Dicky Naibaho)

Antusias masyarakat Kota Medan pun sangat baik. Terlihat dari ramainya pengunjung yang datang menghadiri dan menikmati acara ini. “Acara ini sangat meriah, sangat ramai, dan spesial bagi saya. Saya adalah orang melayu asli,” ungkap Dahniar, salah satu pengunjung acara Gemes 2019 dengan bangga dan senyum lebar.

Sejak empat tahun yang lalu, Gelar Melayu Serumpun rutin dilakukan di Kota Medan dengan mengangkat tema yang berbeda setiap tahunnya. Tema-tema yang dipilih tentunya tidak terlepas dari kebudayaan melayu.

Di tahun ini, Sunatan dipilih menjadi tema. Hal ini dikarenakan begitu banyak masyarakat yang mulai mengabaikan tradisi sunat. Tradisi yang dulunya wajib dilakukan dan bahkan dijadikan pesta.

Murahman Syah  selaku Stage Manager dari Gemes 2019, menjelaskan bahwa digelarnya acara Gemes 2019 bertujuan untuk membangkitkan semangat pemuda-pemudi untuk berbudaya.

“Untuk mengingat kembali sejarah dan kekayaan budaya melayu yang karena kemajuan zaman, kita lupa akan identitas kita. Jadi dengan adanya Gelar Melayu Serumpun, kita membangkitkan kembali khazanah-khazanah yang hampir punah, hampir tidak terlihat, dan mulai tidak dikenal,” terang Murahman.

Selain menikmati acara, pengunjung juga dapat sekaligus menikmati berbagai stan yang juga ikut mewarnai acara Gemes 2019 ini. Berbagai pengusaha lokal menjual makanan, minuman, dan suvenir khas kota Medan.

(Redaktur Tulisan: Intan Sari)

About Media Pijar

Media Pijar: Pers Mahasiswa - Pelita Insan Terpelajar - Laboratorium Departemen Ilmu Komunikasi, Universitas Sumatera Utara, Medan.

Silahkan Lihat Artikel ini juga !

Sumber Foto: Google

Hari Pahlawan, Tak Harus Korban Nyawa

10 November adalah hari peringatan nasional bangsa Indonesia, yang selalu diperingati setiap tahunnya dengan upacara peringatan Hari Pahlawan Nasional. Upacara ini biasanya dilakukan dengan pengibaran bendera merah putih, serta berziarah ke makam pahlawan yang menjadi tradisi bangsa Indonesia sedari dulu.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *